OPINI: Menjaga Sertifikat Kelulusan Ramadan Pascaidulfitri

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
27 Mei 2019 06:07 WIB Moch. Iqbal Hikmah Ramadan Share :

Hari raya Idulfitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadan. Idulfitri pada esensinya, dan seharusnya, adalah simbol kemenangan hamba-hamba Allah dalam menggapai tujuan daripada puasa itu sendiri yaitu la’allakum tattaquun (supaya menjadi orang yang bertakwa), bukan hanya sekadar menang dalam menahan lapar dan dahaga saja selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.

Euforia kemenangan ini selayaknya dirayakan sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah karena kita selama bulan Ramadan diberikan istikamah dan kemantapan hati, pikiran, jiwa, dan jasad dalam menjalankan seluruh rangkaian amaliah Ramadan. Istikamah itu merupakan ejawantah dari keimanan dan keikhlasan hati yang bersemayan di dada seorang muslim sehingga akan melahirkan jiwa yang takwa, jiwa yang baru, jiwa yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Ilustrasi itu adalah gambaran ideal bagaimana seharusnya seorang muslim mengambil manfaat dan memaksimalkan ‘pabrik’ Ramadan yang siap memproduksi produk-produk unggulan berupa manusia-manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT. Tidak hanya itu saja, pabrik ini juga siap mendistribusikan pahala dan keberkahan yang berlipat ganda kepada orang-orang yang mengejarnya dan meng-endorse para muttaqi dengan memberikan mereka kemuliaan baik di sisi Allah SWT maupun di hadapan umat manusia.

Setelah kemenangan berhasil digapai dan ikatan tali Ramadan tersimpul dengan kuat dan rapi, maka ikatan tersebut harus dijaga semaksimal mungkin agar tidak berurai lagi dan kemenangan menjadi terasa semu. Amaliah yang selama Ramadan senantiasa menghiasi langkah kaki kita harus kita kontinyukan meski Ramadan telah berlalu. Ibarat kemenangan dalam sebuah peperangan maka setelah perang berakhir sang pemenang jangan sampai goyah dan terlena, tapi harus selalu waspada dan menguatkan barisan untuk mengantisipasi serangan balik dari sang lawan.

Benteng
Atau, jangan seperti seorang wanita tukang tenun yang dianggap gila karena dia menguraikan benang yang sebelumnya dengan susah payah dia tenun dan dia pintal dengan kuat. “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (An-Nahl: 92).

Menjaga kualitas iman dan takwa tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Pasti akan ada jalan terjal yang mesti dilalui dan proses seleksi takwa akan terus berlanjut pada tahap berikutnya. Orang yang melupakan Ramadan tentunya akan ditinjau ulang level takwanya oleh Allah SWT, apakah ia tetap berada di level yang tinggi ataukah berangsur-angsur merosot ke level yang rendah atau paling rendah?

Sertifikat kelulusan Ramadan yang didapatkan pun akan menjadi sesuatu yang sia-sia dan tidak berguna karena mesin yang menghasilkan produk pahala yang ia miliki mengalami kerusakan ataupun macet total. Imbasnya, jiwa yang tadinya penuh dengan hasil panen Ramadan berupa pahala yang tumpah ruah menjadi jiwa yang mati laksana gudang tua tempat penyimpanan barang rongsokan.

Kemunduran yang dialami adalah karena benteng pertahanan kita mulai goyah dan runtuh terkena pukulan berupa godaan-godaan menggiurkan yang muncul pasca Idulfitri, baik godaan versi lama maupun versi baru. Yang paling terkecil dan paling sederhana adalah godaan meninggalkan shalat malam, godaan meninggalkan puasa sunnah, dan godaan meninggalkan tadarus Alquran.

Belum lagi godaan-godaan duniawi lainnya yang selama Ramadan dapat terlupakan, namun kembali mempesona dan menarik setelah Ramadan lewat. Jika amaliah Ramadan tidak dapat kita pertahankan dan justru godaan duniawi mulai merasuki, maka sungguh produk takwa kita akan kadaluarsa dan endorse kemuliaan yang Allah berikan akan habis dan sirna.

*Penulis merupakan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta