OPINI: Membumikan Olahraga Berkarakter

Ilustrasi olahraga lari - Reuters
11 September 2019 05:02 WIB Heri Widiyanto Aspirasi Share :

Kamisa (1997: 281) mengungkapkan karakter seseorang merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan yang satu dengan yang lain sehingga menjadi berkarakter dengan memiliki watak dan berkepribadian. Artinya, selalu mengaplikasikan nilai kebaikan akan kepribadian dengan melakukan tindakan seimbang tingkah lakunya.

Di dalam karakter seseorang terdapat beberapa nilai yang dianut, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedamaian, respek terhadap diri sendiri/percaya diri dan menghormati peraturan yang ada. Sebagai contoh, nilai kejujuran, bagaimana seseorang yang selalu dapat dipercaya baik dalam segala perkataan seimbang dengan tindakan maupun sesuatu yang dikerjakannya. Ditunjang pula dengan sikap kedisiplinan, kerja keras, kreatif, mandiri, cinta tanah air, menghargai prestasi, cinta damai dan lain sebagainya.

Kaitannya dengan olahraga karakter dapat terbentuk bila pelaku maupun peminat olahraga selalu berwatak dan berkepribadian yang baik dengan selalu menjunjung tinggi akan peraturan yang ada. Seperti yang kita ketahui, seringkali kita masih mendengar ataupun melihat sampai sekarang kerusuhan yang terjadi dengan persepakbolaan tanah air ini.

Padahal, persepakbolaan Tanah Air sudah sering mendapat teguran. Suporter yang kurang simpatik selama berjalannya sebuah pertandingan, klub sepakbola yang tidak terima akan hasil pertandingan serta emosi para pemain yang kurang terkontrol sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Tidak hanya terbatas pada pertandingan sepakbola bahkan dapat terjadi di bidang olahraga lainnya, seperti basket, voli dan sebagainya. Bagaimana tubuh kita menjadi sehat, bila jiwa kita tidak sehat yang penuh emosional.

Dalam Undang-Undang No.3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dikatakan olahraga selain berfungsi mengembangkan kemampuan jasmani rohani dan sosial, dengan olahraga dapat membentuk watak kepribadian bangsa yang bermanfaat. Membentuk watak kepribadian bangsa yang bermanfaat artinya pelaku olahraga harus mengedepankan karakter dalam setiap aktivitas olahraga, yaitu kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kedamaian, respek terhadap diri sendiri/kepercayaan diri, rasa hormat dan peduli terhadap orang lain, menghormati peraturan dan kewenangan, apresiasi terhadap kebhinekaan serta terahkir semangat untuk kerja (berprestasi).

Karena itu, melalui olahraga karakter suatu bangsa dapat terbentuk bila dilandasi kebersamaan yang diimbangi kepribadian luhur. Salah satunya melalui nilai karakter disiplin, dapat selalu mematuhi aturan main dalam olahraga, baik ketentuan maupun peraturan yang telah dipatenkan dan sesuai prosedur. Melalui karakter semangat kebangsaan dengan diwujudkan dalam berolahraga mampu menorehkan prestasi bukan hanya bagi pribadinya sendiri ataupun kelompoknya sendiri, melainkan bahwa prestasi yang dicapai semua hanya demi kepentingan serta kehormatan bangsa dan negaranya, terwujudlah kebanggaan tanah air.

Nilai karakter cinta damai sangat perlu, apalagi kaitannya dengan olahraga. Jangan sampai persatuan dan kesatuan terpecah belah hanya karena perselisihan dalam olahraga. Menjauhkan sikap egoisme kelompok ataupun pribadi untuk membangun cinta damai terlebih mempererat persatuan dan kesatuan. Cinta damai dapat terwujud, contohnya saja dalam persepakbolaan, tidak ada lagi stigma bahwa persepakbolaan Indonesia selalu bernuansa kerusuhan, melainkan lebih bernuansa sikap toleransi dan kebersamaan. Dari situ pula dapat terbentuk rasa tanggung jawab, bahwa apa yang dilakukan sama halnya melaksanakan sebuah tugas dan kewajiban, kewajiban seharusnya dilakukan, baik bagi dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan sekitarnya (alam, sosial dan budaya), negara sampai kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Olahraga menjadi berkarakter bila terbangun mental dan karakter setiap individu pelaku olahraga, bersifat fair play dan sportmanship. Fair play berarti perilaku jujur baik bersikap, berbuat serta berperilaku dengan semangat kebenaran dan kejujuran serta tunduk peraturan-peraturan yang ada (Essai de Doctrine du sport. Haut Comite des Sports France,1964;Rusli Lutan,200:110). Dengan berolahraga fair play, persahabatan dan saling menghormati pun dapat terjalin karena dari awal memiliki semangat berolahraga dengan baik. Selain itu, dalam fair play juga perlu semangat sportivitas dari seseorang yang berolahraga, tanpa atau melakukan pertandingan dalam sebuah kegiatan olahraga akan terbentuknya sebuah persahabatan.

Dengan berolahraga selalu menerapkan fair play dan sportsmanship, akan semakin membentuk karakter yang selalu menerapkan kejujuran, menjunjung tinggi keadilan, selalu bertanggungjawab dan menjaga kedamaian, percaya pada diri sendiri serta bersikap dan berperilaku terhadap peraturan yang disemangati kebinekaan.

Untuk menjadikan olahraga yang lebih berkarakter tentunya perlunya sebuah pembinaan. Pertama, dari segi pengenalan, mengenalkan bagaimana karakter-karakter yang ada dalam kegiatan olahraga, bagaimana cara bermain yang benar dan bagaimana menjunjung permainan fair play dan sportivitas yang ada. Peran ini dikenalkan pelatih untuk memberikan keteladanan dalam berperilaku yang baik dan berkaraker. Kedua, pemberdayaan secara efektif, artinya dalam melakukan aktivitas olahraga juga harus diimbangi dengan penalaran moral/karakter yang ada.

Tidak hanya menerima setengah-setengah, namun dapat menerapkannya dalam kesehariannya, terutama kegiatan keolahragaan. Ketiga, sifatnya harus melekat dan terikat. Melekat artinya nilai-nilai moral dengan kegiatan olahraga tidak hanya dimengerti akan tetapi saling mendukung dan tidak boleh terpisahkan didukung dengan keterikatan dengan kode-kode etik/perundang-undangan yang sudah ada dan dapat menerapkannya dengan baik.

Selain itu, olahraga berkarakter tidak akan terwujud tanpa adanya kesinergisan pelaku olahraga. Baik itu antar pemain, pelatih, guru olahraga dan semua orang yang merasa memiliki olahraga. Bagaimana dalam mengenalkan, menanamkan dan menerapkan cara olahraga yang baik dan selalu menonjolkan karakter-karakter yang sudah ada dalam olahraga sampai kapanpun. Bila tidak ada kesinergisan, tentunya pengenalan, pemberdayaan secara efektif serta prinsip terikat dan melekat dalam pengembangan nilai-nilai karakter berolahraga tidak akan tercapai sehingga perlunya kesadaran untuk mensinergiskan hal tersebut.

Inilah yang harus selalu dibangun dalam setiap peringatan Hari Olahraga Nasional, 9 September. Membumikan olahraga lebih berkarakter yang selalu mengedepankan kebersamaan, cinta damai, fair play dan sportsmanship membentuk sikap kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedamaian, respek terhadap diri sendiri/kepercayaan diri, rasa hormat dan peduli terhadap orang lain, menghormati peraturan dan kewenangan, apresiasi terhadap kebhinekaan serta terakhir semangat kerja dan prestasi yang dijunjung tinggi dalam setiap aktivitas keolahragaan yang ada.

*Penulis merupakan penggerak olahraga tradisional di DIY