OPINI: Darurat Atasi Kekeringan

Ilustrasi kekeringan - REUTERS/Jose Cabezas
18 September 2019 06:02 WIB Mita Puji Astuti Suara Mahasiswa Share :

Sampai pertengahan September ini, kekeringan masih melanda di berbagai daerah. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai 22 Agustus 2019 tercatat tujuh provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT), 101 kabupaten/kota, 683 kecamatan dan 2.080 desa/kelurahan terdampak kekeringan. Sementara air yang telah didistribusikan sebanyak 63 juta liter.

Secara astronomis Indonesia memiliki iklim tropis yang artinya Indonesia mendapatkan penyinaran Matahari lebih banyak daripada daerah yang tidak dilalui oleh garis khatulistiwa. Dengan iklim tropis tersebut Indonesia hanya memiliki dua musim saja, musim hujan dan kemarau. Di sela pergantian musim tersebut, terkadang Indonesia memiliki persediaan air yang berlebih, namun terkadang pula sebaliknya menghadapi masa kekeringan yang berkepanjangan.

Ada beberapa sebab mengapa Indonesia saat ini mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Salah satunya musim kemarau yang terjadi terlalu lama menyebabkan debit air menjadi semakin sedikit, padahal penggunaanya justru semakin bertambah terutama untuk mendukung kehidupan sehari-hari (mandi, mencuci, memasak dan lain sebagainya). Penyebab lainnya peresapan air karena banyaknya pohon yang ditebangi. Daerah yang memiliki sedikit pohon tentunya cadangan air yang ada terbatas dan tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Kekeringan juga diakibatkan minimnya sumber mata air alami dan jauhnya jarak jangkau terhadap sumber air yang ada.

Akibat yang terjadi berdampak kepada kekurangan air minum, kekeringan air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, banyak tanaman yang mati ataupun gagal panen, lingkungan menjadi kotor dan berdampak terhadap timbulnya berbagai macam penyakit. Oleh karenanya harus ada antisipasi ataupun mengatasi kekeringan yang berkepanjangan tersebut.

Di tengah kondisi semacam itu sudah saatnya kita untuk mengatasi kekeringan yang ada. Seperti Kementerian dapat memperbaiki sarana pendukung yang rusak dan kesiapan sarana penampungan air. Pemetaan juga perlu dilakukan agar peta berbasis data tersebut dapat menjadi langkah antisipasi untuk mencegah kekeringan baik saat ini ataupun tahun yang akan datang.

Masyarakat harus lebih kooperatif serta informatif dan bersinergis dengan pemerintah. Artinya dapat berupaya untuk berperan serta mengatasi kekeringan yang ada. Seperti masyarakat petani memperbanyak pompa dan pipa dengan menarik air dari sumber mata air yang ada (sungai misalnya), Kedua membuat semacam embung untuk menampung air yang kemudian dialirkan ke sawah ataupun membangun sumur dangkal (sumur bor) terutama lahan yang sering mengalami kekeringan.

Langkah lainnya ialah melakukan proses penghijauan dan konversi lahan terutama di daerah hulu. Adanya tanaman tersebut di lahan kosong nantinya dapat menjaga dan mengikat butiran tanah ketika terjadi hujan. Selain itu memperbanyak hutan kota di perkotaan. Pembangunan hutan kota dapat mengembalikan ekologi yang ada, selain sebagai pelindung terik matahari dan tempat rekreasi, hutan kota yang ada membuat udara perkotaan menjadi bersih dan tentunya menambah ketersediaan air tanah yang ada.

Lantaran ancaman kekeringan terjadi setiap tahun, upaya ini dapat dilakukan untuk mengatasi kekeringan yang terus terjadi setiap tahunnya. Minimal, masyarakat tidak bakal kekurangan air meskipun musim kemarau panjang terjadi.

*Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta