OPINI: Mewujudkan Standar Pelaporan Keuangan Berkualitas Melalui XBRL

Ilustrasi. - Bisnis/Abdullah Azzam
31 Oktober 2019 05:02 WIB MG. Fitria Harjanti Aspirasi Share :

Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah membawa perubahan dalam bisnis perusahaan. Data menunjukkan bahwa investasi dalam bidang teknologi informasi terus mengalami kenaikan , hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi informasi mampu memberikan kontribusi yang positif bagi kinerja perusahaan.

Belanja dalam bidang teknologi informasi dalam bisnis perusahaahn diprediksi masih akan terus meningkat sejalan dengan berkembangnya Revolusi industri 4.0 yang disebut sebagai era digital. Bisnis perusahaan akan didominasi oleh penggunaan internet. Laporan keuangan yang disampaikan melalui internet memberikan banyak manfaat bagi perusahaan namun masih ada permasalahn yang muncul atas penyajian laporan keuangan berbasis internet yaitu terkait pengelolaan data yang besar dan analisis data laporan keuangan. Munculnya XBRL dianggap mampu mengatasi permasalahan yang timbul atas pelaporan keuangan berbasis internet.

XBRL (eXtensible Business Reporting Language) adalah bahasa pelaporan bisnis yang bisa disesuaikan. Sistem pelaporan berbasis XBRL merupakan standar format pelaporan bisnis yang telah digunakan secara global bahkan di tahun 2015 sudah 60 negara yang menggunakan XBRL.
Indoensia mulai mengembangkan XBRL sejak 2012 namun implementasi XBRL bagi perusahaan tercatat diresmikan tahun 2015. Sejak 2015, perusahaan tercatat di Indoesia sudah diwajib untuk melakukan pelaporan keuangan berbasis XBRL.

Dilansir dari website IDX , beberapa manfaat yang bisa diambil dari penggunaan XBRL adalahm eningkatkan kegunaan sistem pelaporan secara elektronik, memudahkan dilakukan publikasi laporan keuangan, kemudahan untuk melakukan akses informasi finansial walaupun investor berasal dari luar negeri karena laporan keuangan dapat disajikan dalam bahasa mereka sendiri.
Kemudian penghematan biaya pelaporan, mempercepat pengambilan keputusan oleh investor, pengembangan intelegensi bisnis yang akan digunakan untuk proses monitoring dan evaluasi perusahaan tercatat.

Walaupun XBRL sudah diwajibkan dan memiliki banyak manfaat namun ternyata belum semua perusahaan menyajikan laporan keuangannya dalam bentuk XBRL. Jika dilihat dalam kurun waktu 2016 - 2018, hanya ada 88 perusahaan yang telah menyajikan laporan keuangan dalam bentuk XBRL secara berturut turut.

Dari 88 perusahaan tersebut, 14% perusahaan berlatar belakang sektor keuangan, 13% berlatar belakang sektor pertambangan, 12% berlatar belakang consumer goods industry, 30% berlatar belakang bidang infrastruktur/utilitas/transportasi, 7% berlatar belakang sektor pertanian, 14% berlatar belakang sektor industri dasar dan kimia, dan sisanya terbagi ke dalam sektor jasa perdagangan dan investasi, konstruksi bangunan/properti/real estate, serta industri lain.

Dari hal tersebut, penulis menilai masih ada gap antara manfaat yang dirasakan dengan kemauan perusahaan untuk mengimplementasikan XBRL. Berdasarkan dari beberapa penelitian mengenai faktor faktor yang mempengaruhi penggunaan Internet financial reporting (IFR), ternyata karakteristik perusahaan yaitu ukuran perusahaan, tingkat probitabilitas, tingkat likuiditas, reputasi auditor berpengaruh terhadap penggunaan IFR. Selain melihat dari hasil penelitian atas faktor apa yang mempengaruhi penggunaan penyajian laporan keuangan berbasis Internet, penulis juga melihat bagaimana kalangan dosen/akademisi menilai XBRL ini.

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Yusti dan Bintoro (2019), akuntan pendidik adalah profesi yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan dan praktik akuntansi. Hasil penelitian membuktikan bahwa sebagian besar akuntan pendidik masih belum memiliki kesadaran dan pemahaman tentang XBRL. XBRL belum disentuh oleh para pendidik di bidang akuntansi. Meskipun demikian, mereka yang belum tahu mengenai XBRL, memiliki sikap ingin tahu dan ingin mempelajari tentang XBRL. Ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Pepatah ini seolah olah ingin mengatakan bahwa jika para akuntan pendidik saja tidak tahu mengenai XBRL maka para mahasiswa bisa jadi tdk paham dan tidak tahu atas hal tersebut. Maka diperlukan suatu sistem yang dibangun supaya mahasiswa mampu untuk memahami XBRL dengan baik. Cara yang bisa digunakan untuk mengenalkan XBRL sejak dini kepada para mahasiswa yaitu dengan memasukkan materi XBRL ke dalam kurikulum pendidikan tinggi.

Harapannya mahasiswa tahu mengenai XBRL dan nantinya mereka dapat mengimplementasikan XBRL ketika bekerja. Ali (2019) menyatakan bahwa materi mengenai Revolusi Industri 4,0 termasuk di dalamnya Internet of things (IoT), big data, business proses automation, blockchain/ distributed ledger, artifial intelligence/ machine learning dan XBRL sebaiknya mulai dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran mata kuliah S1 supaya mahasiswa mendapat bekal yang cukup saat mereka bekerja nanti.

Beberapa peran XBRL terhadap bidang-bidang/ matakuliah yang diajarkan pada mahasiswa akuntansi juga disampaikan oleh Bpk Saiful Ali dalam bukunya yang berjudul Revolusi Industri 4,0 dan dampaknya terhadap pendidikan akuntansi di Indonesia. Penggunaan XBRL dalam bidang pengauditan memungkinkan auditor dapat mengakses data untuk keperluan audit, selain itu format XBRL juga memungkinkan internal auditor melakukan continous monitoring dengan mengakses data dalam format XBRL. Dalam bidang pajak, teknologi XBRL pada laporan keuangan akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas saat proses pengelompokan dan perhitungan pajak.

Dalam bidang akuntansi publik, XBRL meningkatkan konsistensi, kompleksitas, dan pelaporan berbasis multidimensional dalam penyusunan laporan di organisasi pemerintahan dan juga meningkatkan kolaborasi antar pemangku kepentingan (pembuat kebijakan, pemerintah pusat dan daerah) dalam proses penyusunan laporan keuangan.

Sampai sejauh ini XBRL adalah materi yang layak dan baik untuk diberikan kepada mahasiswa namun banyak akademisi yang belum tahu dan belum mau untuk mengajarkannya kepada mahasiswa. Nampaknya hal ini pula yang mempengaruhi praktik penggunaan XBRL belum banyak digunakan oleh perusahaan walaupun sudah diwajibkan untuk digunakan sejak tahun 2015. Untuk itu diperlukan kerjasama dan kolaborasi yang baik antara pihak akademisi, praktisi dan juga regulator supaya keinginan Bursa Efek Indonesia untuk mewujudkan sebuah standar penyajian laporan keuangan yang berkualitas di Indonesia dapat segera terwujud.

*Penulis meruapkan dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta