OPINI: Peran Serta Penari Klasik Kraton dalam Pelestarian Budaya Jawa

Kadipaten Pura Pakualaman Jogja - Harian Jogja/ Gigih M Hanafi
11 Januari 2020 05:02 WIB Mardi Astutiningsih & Putri Agustina Aspirasi Share :

Jogja memiliki banyak tradisi dan budaya di masyarakat. Hal itu tidak terlepas dari adanya keberadaan Kraton Kasultanan dan Kepatihan yang sangat perhatian dengan perkembangan tradisi, budaya dan adat istiadat di Kota Jogja dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya.

Salah satu hal yang cukup menarik untuk digali adalah tentang seni tari. Kraton tidak pernah lepas dari kehidupan seni tari dan seorang penari. Di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun Kadipaten Pura Pakualaman ada divisi khusus yang berhubungan dengan seni dan budaya.

Seorang penari Pura Pakualaman bernama Asteria Retno Swastiastuti, 39, adalah abdi dalem Pura Pakualaman yang tergabung dalam divisi Langen Praja, yaitu divisi di Pakualaman yang membidangi seni musik dan tari. Sebagai abdi dalem Pakualaman, beliau memiliki nama pemberian dari Kanjeng Gusti Adipati Arya Paku Alam IX, yaitu Nyi Mas Lurah Ngesthimataya.

Aster, biasa beliau dipanggil, bergabung menjadi abdi dalem Pakualaman sejak 2016. Memiliki bakat menari sejak dari kecil dan sudah tidak asing dengan dunia menari karena memang kedua orang tuanya adalah abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hidup dalam lingkungan abdi dalem membuat naluri seni Aster terasah. Bakat seni Aster itu pun saat ini turun kepada ketiga anaknya.

Menjadi seorang penari sekaligus abdi dalem memiliki kesenangan dan tantangan tersendiri bagi Aster. Selain harus menari untuk acara-acara resmi Kraton, baik di dalam maupun di luar negeri, para penari Kraton juga memiliki jam khusus dimana mereka harus datang rutin ke Kraton pada Senin dan Kamis pada pukul 16.30 WIB sampai dengan pukul 19.00 WIB dengan agenda berlatih bersama dengan penari yang lain.

Untuk meningkatkan kecintaan masyarakat Jogja terhadap seni khususnya seni tari klasik, maka para abdi dalem juga mengadakan kelas tari untuk mengajar masyarakat, mulai dari usia anak balita sampai tua. Tujuan diadakannya kelas ini bukan hanya mengajarkan tentang dunia menari, tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Mulai dari cara berpakaian, belajar menari di lingkungan Kraton harus menggunakan kain atau jarik dan kebaya. Kemudian dari cara bersikap yang harus sangat dipatuhi karena ada tata krama atau unggah-ungguh yang harus dijaga di dalam Kraton. Ada tempat-tempat yang tidak boleh sembarangan didatangi.

Pada Hari Raya Idulfitri biasanya anak-anak yang ikut dalam kelas tari ini akan mementaskan sebuah pertunjukan tari, sebagai hasil dari mereka belajar menari selama ini. Para abdi dalem selaku pelatih pun tidak ketinggalan untuk ikut serta dalam acara ini. Karena pementasan ini merupakan acara wajib tahunan yang diselenggarakan Pakualaman dan banyak dihadiri pula oleh para tamu.

Setiap peringatan Hadeging Pakualaman, yaitu peringatan pengangkatan Pangeran Notokusumo menjadi Pangeran Merdiko yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I, maka panitia dari Pakulaman akan mengadakan serangkaian lomba yang biasanya diadakan di Januari sampai dengan Maret.

Banyak macam lomba yang diadakan diantaranya lomba macapat, lomba menggambar, lomba dolanan anak dan yang tidak ketinggalan adalah lomba menari klasik. Pada saat Resepsi Hadeging maka para pemenang lomba akan diberikan apresiasi oleh Kanjeng Gusti berupa trofi dan hadiah-hadiah lainnya, dan jika ada acara-acara resmi maka para pemenang lomba bisa dipanggil untuk ikut dalam pementasan.

Mengikuti perkembangan zaman saat ini di mana teknologi informasi sudah semakin maju, para abdi dalem juga mengikut perkembangan tersebut. Seperti dalam persiapan untuk lomba tari, maka panitia akan membuat video tutorial dan mengunggahnya di channel YouTube supaya para peserta lomba bisa berlatih lebih sering dengan menonton dari channel tersebut. Karena tarian klasik tersebut memang murni dari Pakualaman dan tidak dipelajari di sekolah-sekolah pada umumnya. Video ini dapat disaksikan oleh semua lapisan masyarakat sehingga para abdi dalem menganggap perlu untuk menambah media belajar selain dari pertemuan rutin setiap minggunya.

Dalam setiap pementasan tari klasik, Aster mengakui bahwa memang akan sedikit lebih ribet dalam persiapannya, mulai dari tatanan rambut, make up dan kostum. Tetapi memang inilah yang menjadi keistimewaan sebuah tarian klasik tradisional Kraton. Tari klasik berbeda dengan tari modern karena di dalam tari klasik banyak unsur yang dapat dipetik di dalamnya.

Aster berpendapat seseorang yang ingin belajar tari modern jika lebih dulu mempelajari tari klasik maka itu akan lebih mudah. Tari klasik memiliki irama yang pelan sehingga penari dilatih untuk bisa sabar, lebih mengolah rasa karena untuk berpindah dari gerakan satu ke gerakan selanjutnya membutuhkan waktu yang lama. Ketika seseorang menarikan sebuah tari klasik, maka unsur olah rasa dan kedamaian dapat dirasakannya.

Tari klasik Kraton adalah salah satu bentuk budaya yang wajib dilestarikan oleh masyarakat. Dalam hal ini para abdi dalem yang ada di lingkungan Kraton juga sama-sama berperan aktif untuk melestarikan tari klasik ini dan mengajarkan juga kepada masyarakat melalui program-program yang menarik dan cara-cara pembelajaran yang sudah mengikuti perkembangan jaman. Seni tari klasik ini tidak hanya dapat dipelajari oleh kalangan atau golongan masyarakat tertentu tetapi semua lapisan masyarakat bisa ikut berpartisipasi melestarikannya.


*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Jogja