RIFKA ANNISA: Menyikapi Perundungan Teman-Pacar

Ilustrasi kekerasan seksual. - Harian Jogja
11 Januari 2020 06:02 WIB Rifka Annisa, LSM Aspirasi Share :

Saya Nana, seorang mahasiswi berusia 20 tahun. Akhir-akhir ini saya merasa takut dan cemas jika keluar dari indekos atau pulang dari kampus karena beberapa waktu lalu mengalami kejadian tidak menyenangkan yang dilakukan pacar dan teman-teman saya.

Saya mengenal pacar saya pada awal tahun kemarin. Sebenarnya hubungan kami berjalan biasa. Suatu ketika dia meminta foto saya setengah bugil. Saya tadinya menolak namun bodohnya lama-kelamaan saya bersedia dan mengirimkan padanya. Saya pikir karena dia pacar saya dan itu hanya foto saja.

Setelah itu sebenarnya semua baik-baik saja. Sampai saya berkenalan dengan seorang teman, sebut saja namanya Mimi. Awalnya Mimi mengajak saya untuk tinggal satu indekos untuk menghemat biaya sewa. Karena tinggal bersama, banyak hal yang kami lakukan bersama hingga bertukar barang-barang pribadi. Mimi juga pernah saya kenalkan pada teman yang lain untuk mendapatkan pekerjaan.

Mimi sering main malam dan pulang pagi dan memiliki teman-teman geng yang banyak dan beberapa teman gengnya tersebut terlibat narkoba. Saya sering diajak main dengan teman-temannya ini. Saya ikut saja karena khawatir jika menolak nanti saya tidak punya teman.

Dari satu masalah kecil akibat salah paham, saya kemudian jadi sering disalahkan dan disudutkan oleh Mimi dan teman-temannya. Misalnya, saya dituduh mencuri bajunya, menjelek-jelekkan Mimi dan sebagainya. Awalnya hanya disudutkan dan dipojokkan, lama kelamaan dengan caci maki dan akhirnya juga dengan kekerasan. Itu membuat saya memutuskan pindah indekos.

Terakhir, saya dituduh mencuri barang pribadi milik Mimi ketika kami ada acara kumpul bareng untuk makan-makan. Saya benar-benar tidak melakukan yang dituduhkan tetapi mereka memojokkan dan mengancam saya dengan pemukulan, menyebarkan fitnah di indekos baru saya, bahkan pacar saya juga ikut berpihak pada mereka, hingga menyebarkan foto saya yang setengah bugil ke kelompok tersebut.

Foto tersebut digunakan untuk mengolok-olok saya dan juga mengancam saya, jika saya tidak mengaku maka foto tersebut akan disebarkan dan diviralkan. Saya juga diancam jika bertemu mereka, saya tidak akan aman.

Saya takut dengan ancaman ini. Takut jika di jalan bertemu dengan teman-teman gengnya, serta khawatir dengan kemungkinan foto tersebut akan disebarkan. Saya kuliah di kota ini dengan biaya hidup sendiri dan mencari penghidupan sendiri. Kedua orang tua saya sudah bercerai sejak saya kecil, sudah menikah dan tidak terlalu memberikan perhatian lagi. Saya hanya dibantu oleh teman-teman di kampus dan beberapa dosen yang peduli pada saya. Mohon solusi atas permasalahan ini. Terima kasih.

Jawaban.
Salam Mbak Nana, kami ikut sedih dengan situasi yang dialami Mbak Nana. Kita coba melihat satu per satu situasi tersebut. Dalam usia Mbak Nana, wajar menyukai lawan jenis. Dalam hal ini, ketertarikan terhadap pacar adalah sebuah perasaan yang wajar. Perasaan itu kadang membuat kita ingin melakukan apa saja untuk orang yang kita sayangi. Ketika permintaan itu merugikan, mungkin akan membingungkan kita dalam menentukan sikap. Kebingungan tersebut jadi mudah untuk dimanfaatkan. Ketika permintaannya berpotensi atau merugikan bagi Mbak Nana, maka sebenarnya sudah ada niat buruk di dalamnya.

Sayangnya Mbak Nana juga terjebak dalam lingkungan pertemanan dengan pola pertemanan yang beresiko. Geng yang terlibat narkoba, keluar di malam hari tanpa kepentingan jelas, memperbesar resiko keamanan bagi Mbak Nana. Hidup bercampur dengan penggunaan barang-barang pribadi yang sering bertukar, juga memperbesar potensi masalah di kemudian hari. Misalnya seperti yang dialami Mbak nana kemudian dituduh mencuri. Apabila pertemanan ini lebih banyak merugikan dari pada membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, sebaiknya mulai dipikirkan kembali, apakah perlu dilanjutkan atau tidak.

Jika kemudian Mbak Nana menjadi sering mengalami kekerasan secara berulang, seperti disalahkan, dipojokkan, diberitakan buruk, diancam, hingga kekersan fisik, dan pola tersebut terjadi secara berulang, maka dalam hal ini Mbak Nana sedang menjadi korban perundungan. Salah satu dampak yang sering dirasakan adalah menjadi rendah diri, takut dan cemas.

Untuk mengatasi perasaan rendah diri, Mbak Nana bisa mengingat kembali hal-hal positif atau pencapaian positif yang pernah diraih. Dari cerita Mbak Nana, masih ada teman-teman di kampus dan dosen yang peduli dengan Mbak Nana. Itu adalah beberapa bukti bahwa Mbak Nana istimewa, berharga, dan dicintai oleh banyak orang.

Kejadian penganiayaan fisik yang dialami oleh Mbak Nana juga dapat dilaporkan ke kepolisian. Ketentuan terkait penganiayaan diatur dalam Pasal 351 - 358 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Yang perlu Mbak Nana lakukan adalah segera melaporkan agar bisa diantar untuk visum ke rumah sakit, atau jika belum siap untuk melapor, Mbak Nana dapat segera ke rumah sakit untuk memeriksakan diri, agar mendapat pengobatan dan memiliki rekam medis.

Rekam medis ini berguna jika nanti Mbak Nana telah siap melapor, sebagai bahan polisi nanti meminta laporan visum pada dokter yang menangani. Terkait dengan penyebaran foto setengah bugil, pelaku juga dapat dijerat dengan pasal 27 ayat (1) UU No.19/2016 tentang Perubahan atas Undang-undang No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE). Atau Pasal 4 ayat (1) huruf d Undang-undang No.44/2008 tentang Pornografi.

Di samping itu, sebaiknya meminta bantuan perlindungan dari kampus, khususnya ketika melakukan aktifitas selama di kampus. Sebagai antisipasi, sebaiknya tidak bepergian sendirian ke tempat sepi, dan berteriak meminta bantuan ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan. Demikian jawaban dari kami, semoga permasalahan ini dapat segera diatasi.