OPINI: Virus Corona & Pasar Global

Suasana pasar pasca Virus Corona di Hongkong. Nurhalimah
07 Februari 2020 05:02 WIB Fauzi Ichsan Aspirasi Share :

Setelah menguat selama 2019, pasar finansial global kini diguncang wabah virus corona yang bermula di Wuhan, China. Korban meninggal lebih dari 425 orang serta meluas ke 25 negara.

World Health Organization (WHO) telah resmi mengumumkan keadaan darurat global. Investor membandingkannya dengan wabah SARS pada 2003 yang juga berawal di China dan menelan 774 korban jiwa dengan dampak negatif bagi pasar finansial global. Saat itu indeks saham Asia sempat turun lebih dari 10%. Dampak corona terhadap pasar finansial jelas. Setelah menguat 23,7% pada 2019, sejak awal 2020 indeks bursa saham China (Shanghai Composite) melemah 7,6%, bahkan sempat melemah hampir 10%.

Bursa saham Asia lainnya seperti di India, Korea Selatan, Thailand, Indonesia dan Filipina yang menguat pada 2019, juga melemah sejak awal 2020. Banyak investor khawatir efek virus corona belum sepenuhnya terjadi dan bursa saham bisa terus melemah sebelum pulih kembali. Dampak tersebut tidak mudah diprediksi secara terpisah tanpa mempertimbangkan keadaan ekonomi China, Asia dan dunia. Sebelum adanya corona, IMF telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3% ke 2,9% untuk 2019 dan dari 3,4% ke 3,3% untuk tahun ini dengan prediksi pertumbuhan 3,4% untuk 2021.

Tren penurunan pertumbuhan ekonomi dunia sejak 2017 diperkirakan mulai berakhir, terutama dengan adanya dua faktor positif. Pertama, meredanya perang dagang antara AS dan China dengan diumumkannya pakta perdagangan fase satu. Kedua, mengecilnya risiko keluarnya Inggris dari Uni Eropa dalam ‘no deal Brexit’ yang dapat memengaruhi ekonomi Eropa dengan terpilihnya Borris Johnson sebagai perdana menteri dan Partai Konservatif sebagai penguasa mayoritas di parlemen Inggris.

Namun usai virus corona, beberapa bank global seperti Goldman Sachs telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi China dari 5,9% ke 5,5% untuk tahun ini versus 6,1% pada 2019. Ekonomi China yang pada 2003 hanya menggerakan 9% dari ekonomi dunia, sekarang sudah mencapai 19% sebagai dampak dari perkembangan ekonomi dan pasar modalnya terhadap ekonomi dunia.

Beberapa analis bahkan memperkirakan virus corona bisa memangkas pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,1%-0,2%. Sisi positifnya, dalam skenario terburuk tidak ada analis yang memperkirakan resesi ekonomi dunia seperti pada 2009 setelah krisis finansial. Dengan mulai pulihnya pertumbuhan ekonomi dunia, dampak ekonomi akibat corona diperkirakan terbatas.

Dari sisi moneter dunia, suku bunga global diperkirakan tidak naik dalam 12 bulan ke depan. Sampai akhir 2020 mayoritas analis pasar memprediksi suku bunga acuan bank sentral AS yaitu Fed Funds Rate tetap berada di 1,75%, sementara suku bunga acuan bank sentral Eropa dan Jepang tetap di kisaran 0% dan People’s Bank of China di level 4,35%. Empat bank sentral yang kebijakannya mencakup hampir 70% dari ekonomi dunia diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.

Di pasar obligasi global, sekitar 20% dari obligasi memiliki imbal hasil negatif, yang mengindikasikan kecilnya masalah likuiditas global. Dampak virus corona ke sektor riil terbatasi dengan murahnya pendanaan global. Dari sisi valuasi memang aset finansial relatif mahal, terutama di negara maju. Rasio harga terhadap laba saham (price-to-earning ratio/PE ratio) berdasarkan perkiraan laba 2020 di bursa AS misalnya tercatat tinggi di level 18,6X (S&P 500) dan 24,9X (NASDAQ).

Adapun imbal hasil obligasi Pemerintah AS dengan tenor 10 tahun telah turun ke 1,6% dari 3,2% pada September 2018, yang merupakan refleksi dari kenaikan harga obligasi yang pesat. Memang dengan wabah corona bursa saham Asia, terutama di China, telah turun tajam tetapi PE ratio rata-rata bursa saham Asia masih tinggi di atas 14.

PE ratio bursa saham Shanghai misalnya, masih lebih tinggi dibandingkan dengan sewaktu puncak perang dagang AS-China pada triwulan III/2018. Dengan rendahnya suku bunga global, urgensi investor untuk memindahkan dana dari pasar saham ke pasar uang dan safe haven asset masih terjaga kecuali ada risiko yang sangat besar seperti krisis finansial dan resesi ekonomi global. Persepsi investor atas risiko di negara di mana mereka berinvestasi, yang tercermin di pasar credit default swap (CDS), memang naik tapi masih lebih kecil dibandingkan dengan triwulan III/2018.

Misalnya CDS obligasi Pemerintah China (atau premi yang harus dibayar investor untuk menjamin obligasi yang dimilikinya jika tertunggak) naik dari 0,3% ke 0,4% pada Januari 2020. Namun masih di bawah level 0,7% pada triwulan III/2018. CDS negara Asia lainnya juga mengalami keadaan serupa. Virus corona memang membuat investor panik tetapi dipandang belum sebagai pemicu krisis ekonomi global.

Isu terpenting adalah seberapa pesat wabah corona dan dampak negatif ekonominya bisa diatasi. Menurut data WHO, sejauh ini tingkat mortalitas (jumlah korban meninggal dibanding populasi yang tertular) corona sekitar 2,0% (490 per 24.324 orang) dibawah 9,6% (774 per 8.096) untuk wabah SARS. Artinya, walau corona lebih cepat menular, dampak mortalitasnya tidak separah SARS, apalagi dengan teknologi kedokteran yang lebih canggih dibanding 17 tahun lampau.

Sejak berkecimpung di pasar finansial pada 1995, saya telah menyaksikan beberapa krisis seperti krisis Meksiko (1995), krisis moneter Asia (1997), Rusia (1998), serangan teroris di AS (2001), SARS (2003), finansial global (2008), Euro (2010), kepanikan atas prospek kenaikan suku bunga AS (2015), dan perang dagang (2018).

Dalam krisis besar, hampir seluruh pasar terpuruk. Dampak corona tajam di pasar saham (khususnya di Asia) dan komoditas (khususnya energi) tapi terbatas di pasar penting lainnya seperti valas, obligasi, dan CDS. Terhadap dolar AS misalnya, rupiah tetap lebih kuat dibandingkan dengan akhir 2019. Dengan mulai pulihnya pasar saham Asia, prospek tetap rendahnya suku bunga dan pertumbuhan global yang tetap positif, koreksi pasar saham yang dipicu oleh corona justru memberi peluang bagi investor jangka panjang untuk membeli saham blue chips.

Intinya, ekonomi dunia akan lebih terpuruk karena risiko memburuknya perang dagang AS-China dibandingkan dengan wabah corona.

*Penulis merupakan Ekonom Senior/Kepala Eksekutif LPS Periode 2015-2019

Sumber : Bisnis Indonesia