OPINI: Menelisik Daya Saing Perusahaan BUMN

Ilustrasi BUMN
03 Maret 2020 05:02 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Berbicara daya saing perusahaan tentu bertali-temali dengan manajemen organisasi. Dengan demikian, kinerja perusahaan tidak terlepas dari pengelolaan organisasi, yang menurut Ernest Dale, adalah suatu proses perencanaan, penyusunan, pengembangan dan pemeliharaan struktur atau pola hubungan kerja dalam suatu kelompok.

Dalam perekonomian global yang belum membaik, persaingan dunia usaha makin ketat, mengakibatkan banyak perusahaan kalah bersaing, merugi atau bangkrut. Hal tersebut lantaran mismanagement dalam pengelolaan organisasi, maupun rendahnya profesionalitas dan kompetensi sumber daya manusia.

Menurut Cyril Soffer organisasi adalah perikatan sekelompok orang dengan peranan tertentu dalam sistem kerja. Pembagian kerja itu dirinci dalam tugas-tugas, didistribusikan sesuai kompetensi, hingga pada akhirnya organisasi akan menampilkan sebuah kinerja tertentu.

Kebijakan Menteri BUMN Erick Thohir, telah memperjelas pentingnya pengelolaan organisasi secara profesional dan kompeten. Hal tersebut sejalan arahan Presiden, bahwa pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan pembangunan daya saing bangsa, melalui kinerja dunia usaha dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kasus yang terjadi di beberapa BUMN menunjukkan kinerja perusahaan diwarnai kecerobohan dalam pengelolaan organisasi, moral hazard serta kualitas kepimpinan. Tidak mustahil kasus tersebut ibarat gunung es, bisa terjadi di perusahaan lainnya.

Harapan dan Kenyataan
Di samping leadership dan kualitas ketenagakerjaan, kebijakan manajemen memang berbeda antara satu cabang dengan yang lain, atau satu daerah dengan lainnya. Sebagian BUMN yang masih menerapkan pola sentralistik dalam kebijakan, terkadang mengakibatkan birokrasi berkepanjangan serta lambat dalam pengambilan keputusan. Padahal, Presiden telah menegaskan pentingnya pemangkasan birokrasi, agar keputusan bisa segera diambil

Proses pengayaan dan perluasan kewenangan di cabang belum dilaksanakan dengan baik sehingga keputusan sering tergantung pimpinan pusat, hal tersebut jadi penyebab panjangnya birokrasi, lambatnya keputusan. Tidak mustahil pimpinan cabang jadi apatis serta kurang bertanggung jawab.

Padahal manajemen perusahaan yang profesional dan bertanggung jawab mencerminkan organisasi yang fleksibel, sistem prosedur, budaya korporasi serta pengembangan SDM yang cepat tanggap, proaktif, terukur dan komprehensif.

Pergantian pimpinan BUMN yang dilakukan Erick Thohir, sepatutnya diikuti pembenahan komprehensif pada seluruh jajaran manajemen. Unit yang menangani Human Capital perlu cepat tanggap melakukan peningkatan pengetahuan, keputusan strategik dan monitoring kinerja pegawai.
Dalam era digitalisasi diperlukan penerapan Sistem Teknologi Informasi, memiliki big data dan penguasaan sistem yang andal agar pegawai tidak terjebak pada pekerjaan rutin, clerical dan administratif. Melalui penerapan Management Information System (MIS), jajaran manajemen bisa mengembangkan gagasan baru untuk peningkatan daya saing dan kemajuan perusahaan.

Daya Saing
Daya saing perusahaan tidak bisa diabaikan. Terlebih BUMN yang berskala besar sebagai tumpuan harapan seluruh anak bangsa. Kata kunci keberhasilan tersebut, tidak lain bertumpu pada pengembangan sumber daya manusia di berbagai lini organisasi.

Ucapan Presiden tentang pentingnya pengembangan SDM,”Timba ilmu sebanyak-banyaknya karena perubahan global sangat cepat,” adalah untuk meningkatkan marwah, martabat dan harga diri bangsa di mata dunia.

Fakta yang tidak terhindarkan ketika bicara daya saing perusahaan, adalah kualitas tenaga kerja yang relatif rendah kompetensi, profesionalitas competitiveness-nya. Akibatnya berbagai perusahaan kesulitan dalam mengelola dan meningkatkan kinerjanya.

Untuk perusahaan berskala besar, sudah saatnya memanfaatkan pegawai berpendidikan memadai, memiliki kompetensi sesuai penempatannya, berintegritas dan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Oleh karena itu, unit Human Capital di perusahaan, sepatutnya telah memaksimalkan Human Capital Information System (HCIS) serta mendapatkan perhatian seksama dari BOD maupun BOC.

Bahkan jajaran manajemen harus serius menempatkan dan mengembangkan pegawainya. Jangan sampai seperti satire selama ini. Banyak dibicarakan namun tidak kunjung dilaksanakan sehingga pegawai yang dicanangkan sebagai aset, dianggap liability tanpa pembenahan yang bermakna.

Pembenahan yang dilakukan Menteri BUMN di berbagai perusahaan, patut diikuti pembenahan organisasi beserta sistem manajemennya. Dengan begitu kinerja dan daya saing perusahaan BUMN dapat menjadi contoh bagi perkembangan perusahaan lainnya.

*Penulis merupakan Human Capital Officer di Perusahaan BUMN