OPINI: Merajut Komunikasi Persaudaraan Muhammadiyah-NU

Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
04 Maret 2020 06:02 WIB Nadhiroh Aspirasi Share :

Keberadaan Masjid Gedhe Kauman kembali mendapat sorotan publik. Pada Oktober 2019 lalu, agenda Muslim United yang rencananya diselenggarakan di Masjid Gedhe Kauman akhirnya dipindah ke Masjid Jogokariyan karena ada penolakan-penolakan. Kejadian yang serupa kembali mengemuka. Rencana Pengajian Akbar peringatan ke-94 Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Gedhe juga ditolak. Pengajian akan dipindah ke kompleks Universitas Nahdlatul Ulama (NU) di Jalan Lowanu, Sorosutan, Umbulharjo, Jogja.

Seperti disebutkan dalam harianjogja.com, Minggu (1/3), Pengajian Akbar peringatan ke-94 Harlah NU yang akan diisi Gus Muwafiq dan dijadwalkan dihelat pada Kamis (5/5) di Masjid Gedhe Kauman mendapat penolakan. Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja mengeluarkan surat berisi imbauan agar peringatan ke-94 Harlah NU tidak diadakan di Kauman.

Melalui surat yang dikirimkan kepada Kapolda DIY, Kapolresta Jogja, Kapolsek Gondomanan, Wali Kota Jogja, Ketua DPRD Jogja, Pimpinan Cabang NU Jogja, Takmir Masjid Gedhe Kauman, dan media massa; Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja Sholahuddin Zuhri mengatakan imbauan itu didasarkan atas beberapa pertimbangan, yakni kontroversi yang pernah ditimbulkan Gus Muwafiq beberapa waktu lalu dan penolakan warga Kauman yang mayoritas Muhammadiyah atas rencana peringatan Harlah NU di wilayah tersebut.

Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Jogja terkejut dengan penolakan rencana pengajian akbar peringatan Harlah Ke-94 NU di Kauman, Kota Jogja. Seperti disebutkan dalam harianjogja.com, Senin (2/3), Sekretaris PCNU Kota Jogja Abdul Suud mengatakan pengajian yang akan dihelat pada Jumat (5/3) mendatang dengan menghadirkan Gus Muwafiq itu terbuka untuk umum dan diperkirakan dihadiri 1.000-2.000 orang.

Suud mengaku sudah mendapat izin penyelenggaraan pengajian dari kepolisian maupun Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat selaku pemilik Masjid Kauman atau Masjid Gedhe Kauman. PCNU juga sudah berkomunikasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jogja.

Jadi Pelajaran
Spanduk-spanduk penolakan terpasang di beberapa titik di sekitar Masjid Gedhe. Beberapa di antaranya bertuliskan Jangan Paksa Kami bergerak Jika Ingin Menjaga Ukhuwah Hargai Wilayah Kami, Jangan Membuat Gaduh Kauman adalah Jantung Muhammadiyah Silakan Harlah di Wilayah Kalian Sendiri, Muhammadiyah-NU Berssaudara Tolak Penista Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Menjaga Ukhuwah Tidak Harus Harlah di Basis Muhammadiyah.

Kejadian itu menjadi pelajaran untuk semua umat Islam. Masjid Gedhe adalah masjid milik umat Islam. Memang betul Kauman adalah daerah yang berbasiskan Muhammadiyah. Selama ini ada kesan NU-Muhammadiyah kurang kompak dan kurang rukun. Jangan sampai kondisi itu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memecah belah umat dan merusak persatuan dan kesatuan Bangsa. Pendiri NU (KH Hasyim Asy’ari) dan pendiri Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan) adalah sahabat dan pernah belajar pada guru yang sama. Di antaranya mereka berguru kepada KH Saleh Darat Semarang dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau sewaktu di Hijaz.

Ke depan, masing-masing perlu terus merajut komunikasi persaudaraaan NU-Muhammadiyah. Kedua ormas itu idealnya duduk bersama dan menjadi contoh bagi umat Islam dari ormas lain. Jika memang mengaku umat Rasulullah SAW dan mengikuti sunahnya, maka idealnya umat Islam berusaha menjadi sosok-sosok pemaaf. Bagaimana umat manusia di dunia mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai insan yang menghormati perbedaan, memanusiakan manusia dan keutamaan-keutamaan lain dalam bermasyarakat. Mari berupaya sama-sama mengikuti jejak beliau untuk bisa saling memaafkan dan saling menghargai.

HM Nasruddin Anshoriy Ch dalam bukunya Matahari Pembaharuan Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan mengupas keberadaan Masjid Gedhe. Masjid yang berdiri di sebelah barat Alun-alun Utara dibangun tahun 1773. Masjid ini dirangcang oleh arsitek Kanjeng Wirjokusumo di bawah Penghulu Keraton Kiai Faqih Ibrohim Dipaningrat. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa, terlihat pada ornamen atap yang khas, berbentuk tajug. Atap tajug dalam tradisi Jawa biasa dipergunakan untuk menurup tempat-tempat (panggung) dalam upacara keagamaan. Selain bersifat simbolik memancarkan unsur falsafah keindahan tradisi Jawa dan Islam, masjid ini juga memiliki sifat fungsional bagi berbagai kegiatan kegaamaan Keraton. Berbagai upacara hari-hari besar Islam, pusat syiar agama Islam, dan diskusi masalah-masalah keagamaan, diselenggarakan di Masjid Gedhe.

Masjid Gedhe memiliki makna tersendiri bagi warga Jogja dan sekitarnya. Tak hanya orang Jogja, bahkan masyarakat dari berbagai wilayah pun ingin mengetahui keberadaan Masjid Gedhe yang merupakan masjid tertua yang dibangun Kerajaan Islam Ngayogyokarto Hadiningrat.
Tunjukkan bahwa masyarakat Jogja adalah warga yang ramah bukan yang penuh amarah.

Syiar Islam
Musyawarahkan semuanya baik-baik sehingga tetap terjaga kondusivitas. Masjid Gedhe Kauman milik umat Islam. Para pendiri Masjid Gedhe tentu akan bersedih jika melihat keberadaan masjid membawa masalah. Apabila memang digunakan untuk syiar Islam idealnya mendapat dukungan. Selain salat, banyak kegiatan yang bisa dipusatkan di masjid misal untuk pengajian, diskusi atau dialog, tadarus dan lain-lain. Normalnya dan idealnya, kegiatan positif yang menghadirkan banyak peserta bisa membawa keuntungan bagi masyarakat di sekitar masjid. Misal dari sisi parkir, kuliner dan lain-lain. Masyarakat di luar Kauman bisa jadi ingin mengadakan kegiatan di Masjid Gedhe karena masjid ini strategis untuk berdakwah dan memiliki nilai historis.

Ke depan, untuk meminimalkan terjadinya gejolak, meski sudah ada izin dari pihak keraton dan pihak terkait lainnya, siapapun yang ingin menggunakan Masjid Gedhe alangkah lebih baiknya menggandeng takmir Masjid Gedhe dan tokoh masyarakat sekitar masjid. Etikanya kula nuwun atau permisi terlebih dahulu sebagai bentuk sopan santun. Sebaliknya, bagi takmir Masjid Gedhe dan masyarakat di sekitarnya, buktikanlah bahwa mereka adalah umat Islam dan warga Jogja yang ramah dan mau menerima siapapun.

Penulis meyakini tentunya masing-masing memiliki prinsip, yang terpenting sama-sama saling menghormati yaitu untuk menjalin hubungan harmonis antar umat. Alangkah bijaknya jika mau menurunkan ego dan tidak merasa paling benar. Sebab di antara kita tidak ada yang tahu siapa yang paling benar di hadapan Allah SWT.

Komunikasi antara NU dan Muhammadiyah secara intens perlu dilakukan untuk membina hubungan yang lebih baik dan mencegah terjadinya konflik sebagai upaya meningkatkan persatuan dan kesatuan Bangsa. Jangan ada dendam di antara kedua ormas itu dan bagaimana supaya terus menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Semoga ke depan, keberadaan Masjid Gedhe semakin membawa manfaat untuk seluruh umat Islam. Wallahu’alam Bish Showwab.

*Penulis merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga dan UNS/Dosen di Staimas Wonogiri