OPINI: Pariwisata dalam Terpaan Covid-19

Ilustrasi virus Corona. - REUTERS/Dado Ruvic
12 Maret 2020 05:02 WIB Th. Agung M. Harsiwi Aspirasi Share :

Merebaknya virus Corona (Covid-19) di segala penjuru dunia, sampai dengan terpaparnya warga negara Indonesia (WNI) tentu mengagetkan banyak pihak setelah selama hampir dua bulan Pemerintah Indonesia tidak menemukan adanya WNI yang positif terpapar.

Situasi kaos pun terjadi dengan panic buying masker dan hand sanitizer, melonjaknya harga masker karena permintaan melebihi persediaan, sampai dengan maraknya penimbunan masker dalam memanfaatkan kelangkaan masker di pasaran.

Tidak lama kemudian Pemerintah melarang kunjungan pendatang dari Italia, Iran, dan Korea Selatan menyusul larangan kunjungan pendatang dari China yang telah lebih dahulu dikeluarkan. Larangan kunjungan ini tentu menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata Indonesia, terlebih-lebih kunjungan wisatawan China pada 2019 menduduki peringkat kedua terbesar atau mencapai 12% kunjungan wisatawan mancanegara.

Our Iceberg is Melting
Selama ini wisatawan mancanegara selalu menjadi pasar potensial pada berbagai destinasi wisata, seperti Bali, Kepulauan Riau dan Jakarta yang menjadi pilihan terbanyak wisatawan mancanegara. Demikian larangan kunjungan wisatawan mancanegara diberlakukan, goncangan luar biasa terjadi dalam sektor pariwisata.

Siapapun dapat mengalami goncangan itu, ketika kenyamanan hidup kita tiba-tiba terganggu oleh sesuatu yang sangat menakutkan dan serba tidak pasti, sangat mirip dengan gambaran John P. Kotter, seorang profesor di Harvard Business School dalam bukunya Our Iceberg is Melting. Buku yang menggambarkan sekumpulan koloni penguin yang harus menghadapi ancaman melelehnya gunung es yang telah menjadi tempat tinggal koloni penguin tersebut selama bertahun-tahun lamanya.

Situasi ricuh terjadi seiring dengan ketidakpastian dari dampak Covid-19. Penurunan kunjungan wisatawan yang begitu tajam sampai 70% berdampak langsung maupun tidak langsung pada sektor pariwisata dan sektor-sektor pendukungnya. Sepinya kunjungan wisatawan mancanegara bahkan memaksa beberapa perusahaan di destinasi wisata merumahkan karyawannya dengan menerapkan cuti tanpa gaji.

Saat kunjungan wisatawan mancanegara untuk sementara waktu tidak dapat lagi diandalkan, maka sudah saatnya pelaku sektor pariwisata membidik pasar wisatawan nusantara. Tidak kurang-kurang pemerintah mendorong aktivitas pariwisata di dalam negeri dengan memberikan potongan harga (diskon) tiket pesawat terbang hingga 50% menuju 10 destinasi dalam negeri selama tiga bulan ke depan, memberi insentif dengan menurunkan pajak bagi hotel dan restoran, demikian juga keputusan pemerintah menambah libur nasional 2020 dari 20 hari menjadi 24 hari.

Ada sebagian orang yang pesimis mensikapi keputusan pemerintah itu, namun ada juga sebagian orang yang tetap optimis menghadapi situasi ini. Adalah hal yang wajar dalam setiap perubahan selalu memunculkan dua kelompok tersebut. Waktulah nanti yang akan membuktikan, apakah orang-orang yang pesimistis atau optimistis yang akan bertahan dalam mensikapi dampak Covid-19 ini meskipun untuk bertahan harus meninggalkan zona kenyamanan.

Ancaman Covid-19 barulah mulai dan belumlah usai. Di tengah-tengah perubahan yang serba tidak pasti dan tidak menentu kehidupan harus jalan terus, tidak terkecuali sektor pariwisata dan sektor-sektor pendukungnya. Sektor pariwisata seolah-olah harus berselancar dalam arus jeram liar (white-water rapids metaphors) yang menggambarkan perubahan yang penuh gejolak dan dibutuhkan keterampilan dalam mengendalikan kehidupan di tengah arus jeram liar yang tidak beraturan itu.

Paket Wisata
Sudah saatnya pelaku pariwisata mengubah pandangannya tentang potensi pasar wisatawan mancanegara, karena wisatawan nusantara sebenarnya merupakan pasar potensial yang layak pula dibidik. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia, berwisata tidak selalu identik dengan mahal dan eksklusif. Inilah saatnya mengubah pandangan wisatawan mancanegara sebagai satu-satunya pasar potensial dan harus mulai memperhitungkan wisatawan nusantara sebagai pasar potensial juga, sehingga masyarakat Indonesia dapat menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri.

Sebagaimana digambarkan dalam Our Iceberg is Melting, saat perubahan masih bergejolak, perubahan haruslah dikelola oleh tim yang mampu berkolaborasi lintas sektoral, mulai dari dukungan pemerintah melalui kementerian terkait, pelaku sektor pariwisata, bahkan perusahaan atau instansi dimana pada umumnya masyarakat Indonesia bekerja. Semua pihak harus mampu menciptakan sense of urgency dalam mengatasi keterpurukan sektor pariwisata.

Dukungan pemerintah melalui insentif bagi masyarakat harus pula diimbangi dengan kesungguhan pelaku sektor pariwisata dalam menggarap wisatawan nusantara sebagai pasar potensial, bagaimana mendisain paket wisata yang terjangkau berbagai khalayak masyarakat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Pelaku pariwisata dituntut untuk kreatif dalam menggarap paket wisata karena wisatawan nusantara akan membanjir seiring dengan bertambahnya hari libur masyarakat.

Masih banyak destinasi wisata yang belum tersentuh wisatawan nusantara, apalagi destinasi wisata kekinian hasil dari kolaborasi dan kreativitas pelaku pariwisata. Unggahan netizen di media sosial secara tidak langsung ikut mempromosikan destinasi wisata itu, adanya event budaya yang tidak selalu dijual tetap akan mendatangkan efek ekonomi bagi pelaku sektor pariwisata, seperti pengusaha kuliner, penjual souvenir atau kerajinan, bahkan sekedar menjual jasa foto destinasi wisata yang instagramable.

Perubahan apapun dalam keadaan seperti apapun memerlukan kerjasama semua pihak, tidak terkecuali dalam menangani dampak dari Covid-19 ini. Kejadian ini menjadi momentum berharga bagi pelaku sektor pariwisata untuk membangun kolaborasi dalam menggarap wisatawan nusantara yang selama ini cenderung terabaikan dibandingkan wisatawan mancanegara.

*Penulis merupakan dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta