OPINI: Pandemi Covid-19 dan Problem Kuliah Daring

Foto ilustrasi: Belajar di rumah. - Antarafoto/Iggoy el Fitra
31 Maret 2020 05:02 WIB Nurudin Aspirasi Share :

Akibat virus Corona Covid-19, terjadi kebijakan dahsyat pada proses pembelajaran di perguruan tinggi (PT). Kampus-kampus yang biasanya melaksanakan kuliah dengan pertemuan tatap muka, mendadak mengeluarkan kebijakan untuk kuliah daring. Tentu saja, kebijakan ini layak diapresiasi, meskipun belum tentu maksimal dalam pelaksanaannya.

Virus itu memang muncul secara tiba-tiba. Ini yang membuat kampus harus memutuskan secara cerdik dan cepat apa yang bisa dilakukan. Alasannya, salah satu cara menekan virus Corona (khususnya Covid-19) dengan membatasi pertemuan, maka kuliah daring menjadi alternatif. Tak ada pilihan lain. Mau meliburkan tentu tidak mungkin. Tentu itu sangat aneh. Apakah hanya gara-gara virus Corona kuliah libur? Kebijakan pemerintah untuk mengurangi pertemuan bisa dilaksanakan tetapi kuliah tetap ada. Maka, kuliah daring menjadi alternatif.

Masalah Dosen
Apakah sedemikian mudah melaksanakan kuliah daring? Tidak mudah. Tentu ada beberapa kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya antara lain; pertama, orang-orang yang terlibat dalam proses belajar mengajar mau tidak mau harus melek teknologi. Sebut saja misalnya dosen atau mahasiswa.

Kalau mahasiswa tentu tidak usah diragukan. Mereka tentu ahli dalam soal daring. Bahkan mayoritas mahasiswa mencari bahan tugas kuliah mengandalkan dari sumber daring. Bagaimana dengan dosen? Dosen yang tidak terbiasa atau familiar dengan daring tentu akan kesusahan. Bisa jadi banyak di antara mereka hanya bisa berselancar atau kirim surel. Namun, sedikit yang bisa bermain media sosial, apalagi kuliah daring. Kadang kuliah memakai WhatsApp Group sudah dianggap kuliah daring.

Masalahnya pembelajaran daring membutuhkan pengetahuan teknis untuk mengirim materi dan menjawab beberapa pertanyaan yang ada dalam sistem tersebut (salah satunya Edmodo). Untuk itu tidak semua dosen akan mudah melaksanakan. Sebut saja dosen senior. Memencet telepon seluler (ponsel) saja mereka susah, apalagi diminta untuk aktif melalui pembelajaran daring.

Kedua, dosen harus banyak menghabiskan waktunya di depan layar komputer atau laptop. Bagi mahasiswa ini tentu tidak masalah. Mereka segerenasi dengan teknologi daring. Masalah bagi dosen karena berkaitan juga dengan soal teknis mengoperasionalkan pembelajaran daring dan juga waktunya tersita di depan layar. Sementara pekerjaan lain yang harus diselesaikan diluar pembelajaran daring masih banyak. Untuk itu, tak semua dosen akan mampu meluangkan waktunya.

Masalah Mahasiswa
Coba kita lihat sekarang dari sisi mahasiswa. Mahasiswa sekarang adalah generasi daring. Tentu tidak asing lagi dengan sistem yang berkaitan dengan daring. Mereka juga akan mudah menyesuaikan apa yang disyaratkan dengan pembelajaran daring.

Masalah yang muncul adalah mereka harus daring di mana? Misalnya mereka harus daring di kampus. Apakah internet kampus memadai kapasitasnya untuk daring? Sementara itu yang kita lihat selama ini internet di kampus cenderung lemot.

Pembelajaran daring menuntut kecepatan akses. Itu tentu tidak mudah dilakukan oleh kampus. Tentu akan mudah jika sumber provider Internet milik kampus sendiri. Jika kampus memakai layanan lain, hal demikian tidak mudah diaplikasikan. Sementara itu jika mahasiswa harus daring sendiri ia akan enggan karena menghabiskan paket data.

Lalu apa alternatif lain? Mereka akan daring di kontrakan atau tempat sewa lain di mana mereka tinggal. Biasanya tempat mereka tinggal akan disediakan akses internet. Menjadi masalah jika akses internet itu disediakan yang punya kontrakan. Tentu kapasitas akan terbatas. Bagaimana jika hasil iuran para penghuninya? Bisa dilakukan. Tetapi tentu tidak akan cepat memutuskannya pula.

Masalah lain di kontrakan tentu akan banyak gangguan. Saya yakin mereka tidak bisa serius menyimak atau memanfaatkan pembelajaran daring itu. Godaan bisa berasal dari teman satu kontrakan. Hunian dalam jumlah besar membuat orang sering tak bisa menjadi manusia individu, kecuali siap dikucilkan.

Kemudian ada alternatif lain. Mereka bisa memanfaatkan Internet di kafe-kafe. Masalahnya, tentu menjadi lebih berat karena mereka umumnya memanfaatkan internet di kafe untuk santai. Misalnya main game daring atau membuka youtube. Ini kebiasaan yang dilakukan mahasiswa di kafe. Tentu tidak mudah mengubah kebiasaan main game daring kemudian mengakses proses pembelajaran daring.

Solusi
Lalu apa yang harus dilakukan jika demikian? Ini memang dilematis. Bagi kampus tentu pembelajaran daring menjadi alternatif terdekat dan itu salah satu cara untuk mengurangi pertemuan tatap muka sementara proses belajar mengajar harus tetap jalan. Sementara itu pula, bagi mahasiswa pembelajaran daring juga agak sulit dilakukan karena menyangkut kebiasaan. Tidak gampang mengubah kebiasaan mahasiswa yang biasa kuliah tatap muka diubah dengan daring. Bukan tak bisa, hanya akan mengalami kesulitan.

Masalah lain, kebiasaan proses belajar mengajar di tempat kita dilakukan karena tuntutan sistem. Misalnya, mahasiswa masuk kuliah karena memang dipaksa masuk atau dosennya mengabsen kedatangan. Sementara itu, sistem di kampus juga ada yang menyertakan jumlah presensi sebagai syarat penilaian. Ada kalanya mahasiswa masuk kelas karena itu salah satu syarat untuk mendapatkan nilai. Jadi bukan kebutuhan.

Jika kuliah daring dilaksanakan, maka teknis pelaksanaannya tidak saja susah dalam presensi, materi juga harus siap dan layak tetapi menyangkut kebiasaan mahasisanya. Mahasiswa kita belum terbiasa belajar dengan sistem mandiri. Ini tentu beda dengan negara maju. Mahasiswa di sana belajar karena kesadaran dan kebutuhan. Sistem belajar dengan cara apapun akan mudah dijalankan.

Pengalihan pembelajaran daring yang dipaksakan saat ini semoga menyadarkan kampus dan pemerintah bahwa pembelajaran era kekinian sudah selayaknya diperhatikan. Jadi, bukan karena ada pandemi Corona terus mendadak ada sistem pembelajaran daring. Apakah nanti setelah tak ada wabah sistem ini akan berhenti begitu saja? Setidaknya ini pembelajaran positif akan proses belajar mengajar dengan memanfaatkan teknologi internet. Dan itu tak bisa dihindari di masa datang.

*Penulis merupakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)