Mengoptimalkan Ibadah Puasa saat Pandemi Covid-19

Foto ilustrasi. - Solopos/M. Ferri Setiawan
01 Mei 2020 22:12 WIB Yudhi Kusdiyanto Hikmah Ramadan Share :

Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang sangat dirindukan setiap muslim di manapun mereka berada. Bulan yang penuh ampunan, barokah, kebaikan dan manfaat, telah disediakan Allah SWT sebagai ajang pembentukan pribadi yang takwa. Berbagai tuntunan, anjuran baik yang wajib maupun yang sunah, diiringi pemberian pahala dan kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah merupakan kelebihan bila dibandingkan dengan bulan biasa. Sempurnanya puasa ini diikuti dengan menjauhkan diri dari perbuatan serta perkataan tercela, permusuhan dan pertengkaran, juga memperbanyak amalan amalan seperti Salat Tarawih, tadarus Al-Quran, mengerjakan salat sunah, bersedekah, banyak menolong dengan meringankan beban orang lain, sikap sabar, ikhlas dan banyak menolong sangat dianjurkan untuk kesempurnaan ibadah puasa.

Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, di mana semua manusia mengalami cobaan berat dengan hadirnya virus Corona. Virus ini merajalela ke seluruh penjuru dunia, sehingga sangat memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia di Bumi, seakan Allah SWT telah memperlihatkan ketidak berdayaan manusia. Allah menguji manusia dengan pandemi di bulan Ramadan ini sebagaimana dalam Q.S al-Balad. 90:4. Susah payah inilah yang kini dirasakan manusia di seluruh dunia.

Kendati demikian, bagi orang orang mukmin tetap harus menjalankan ibadah puasa serta taat aturan pemerintah dalam menghadapi Covid-19. Di rumah masing masing, umat Islam berupaya maksimal melaksanakan ibadah Ramadan dengan penuh kesabaran, keihlasan, dan kreatif menggunakan kesempatan untuk meraih tingkat ketakwaan yang lebih tinggi. Taqwa itu mematuhi sungguh sungguh segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, seperti sabda Nabi, “Ittaqillaaha khaitsuma kunta (Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada)”.

Jika direnungkan ada hikmah yang bisa diraih dalam situasi ini yakni Ramadan saat pandemi. Sebagai komunitas terkecil, keluarga merupakan media pertama dan utama dalam mewujudkan pribadi pribadi yang mutakin. Mulai dari keluarga inilah internalisasi amaliyah Ramadan ditunaikan dan dibiasakan bersama di rumah. Orang tua bisa menunjukkan keteladanannya, menciptakan suasana nyaman, menggembirakan, penyediaan sarana dan fasilitas ibadah yang dibutuhkan meskipun sederhana. Semua anggota keluarga memperhatikan, saling mendukung dalam kebaikan, saling belajar, berdiskusi, berjamaah, tadarus Al-Qur’an dan mengerjakan salat sunnah lainnya. Upaya aktif seperti itulah sesungguhnya sangat mendukung terwujudnya pribadi yang mutakin. Itulah sesungguhnya yang dimaksud dengan madrasah keluarga di bulan ramadhan.

Bulan Ramadan yang sangat istimewa ini bisa dimanfaatkan untuk penguatan madrasah keluarga, dengan model pembiasaan pada anak oleh orang tua. Beberapa contoh pembiasaan yang bisa dilakukan yakni, Pertama mengajarkan kebiasaan untuk melaksanakan ibadah seperti Salat Tarawih berjamaah, membaca Al-Qur’an, zikir, doa sehari hari, memasukkan nilai-nilai perjuangan Rasulullah dengan bercerita sejarah.

Kedua, mengajarkan kebersihan, karena kebersihan merupakan sebagian dari iman. Ketiga, mengajarkan berbuat kebaikan dan belas kasihan kepada sesama. Menanamkan pada anak untuk selalu berbuat kebaikan, sukarela membantu/ menolong saudara, teman, tetangga atau orang lain yang membutuhkan, penting dilakukan sejak dini, begitu pula nilai belas kasihan kepada sesama, hal ini dilakukan agar anak dapat merasakan penderitaan dan kesusahan yang dialami orang lain dan berusaha berempati atau memberikan bantuan.

Dari uraian tersebut, sesungguhnya banyak peluang untuk meraih ketakwaan di bulan suci Ramadan ini dengan mengoptimalkan inovasi pendidikan agama dalam keluarga melalui madrasah keluarga dan memperbanyak ibadah berdimensi sosial.

Siti Bahiroh

Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta