OPINI: Sustainable Society dan New Normal

Ilustrasi Buku - Reuters
09 Juli 2020 13:57 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Pada tahun 2017 yang lalu, pakar Manajemen Indonesia Profesor Rhenald Kasali memprediksikan bahwa masa depan akan penuh dengan kompetisi yang ketat anara pemain utama dalam bisnis di dunia dengan para lawan yang tak terlihat atau dikenal dengan startup. Banyak penguasa pangsa pasar mengalami goncangan yang kuat akibat strategi yang sudah ketinggalan jaman tidak mampu menahan laju inovasi dari para entrepreneur.

Namun demikian beberapa pemain utama banyak yang mencoba menurunkan tensi persaingannya dengan berkolaborasi dengan pesaing mereka dan dalam skala tertentu bekerja sama dengan mereka. Tentu sebuah solusi yang baik terlebih jika memaksakan beradu kuat dengan pesaing baru tanpa strategi yang mencukupi maka akan sama-sama dirugikan.

Belakangan ini “bulan madu” tersebut tidak berlangsung lama. Sebuah kejadian yang sama sekali tidak diduga dan melemahkan perekonomian global terjadi. Wabah virus Corona yang dipercaya muncul dari Provinsi Wuhan di China menghantam keras jutaan usaha di seluruh dunia dan mengarah pada penutupan masal serta membuat jutaan pekerja kehilangan pekerjaannya. Bagi kebanyakan orang, wabah ini memicu kepanikan dan ketakutan dan hal tersebut membuat banyak orang tidak siap dan rentan terdampak akibat penyebaran virus ini.

Menarik untuk disimak bahwa, Bill Gates, pendiri Microsoft, pada tahun 2015 di sebuah forum Ted Talks ternyata sudah memperingatkan mengenai kemungkinan ketidaksiapan masyarakat dunia akan penyebaran wabah berbahaya dan mematikan. Pemerintah dunia tidak menempatkan hal tersebut sebagai prioritas dan itu berbahaya, karena akan memicu kelangkaan rantai pasokan bahan baku dan pangan yang akan menciptakan kepanikan dan menyebabkan banyak sistem mengalami overload. Solusi pencegahan adalah salah satunya cara untuk menyelamatkan dunia ini yaitu dengan mengantisipasi adanya pandemi dan melakukan riset dan pengembangan vaksin-vaksin penting.

Apa yang Bill Gates katakan tampaknya terbukti. Tahun 2019 menjadi awal dari pandemi yang menyengsarakan jutaan manusia dan berdampak pada banyak aspek ekonomi dunia. Isu ini menjadi pembahasan dan studi oleh banyak ahli. Banyak yang menetapkan target pesimis namun juga tidak sedikit yang percaya bahwa perekonomian dan dunia usaha akan bangkit, bahkan menjulang lebih tinggi. Banyak entrepreneur di seluruh dunia terbiasa hidup dalam ketidakpastian bahkan sejak hari pertama mereka terjun ke dunia usaha, hal yang diangga menjadi kekuatan dan semangat untuk akhirnya dapat menjadi mesin pendorong kebangkitan ekonomi dunia. Entrepreneur dianggap akan memunculkan world-changing business pasca pendemi ini. Perusahaan seperti Amazon, Google dan Alibaba juga muncul dan bertahan dari beberapa krisis mulai dari ancaman bugs diawal era 2000an, virus SARS di China pada tahun 2003, hingga krisis global 2008, mereka menjadi contoh dan harapan bagi pelaku usaha lain di seluruh dunia.

Kondisi saat ini dipercaya akan mengubah total kehidupan manusia di masa depan, dunia kita akan berubah dan bagaimana orang akan berperilaku akan berbeda dalam banyak aspek. Resesi global yang sudah mulai terasa ini akan menciptakan suatu dunia yang baru, dunia dengan penggunaan dan permintaan yang besar akan inovasi teknologi. Sebagai contoh industri entertainment mengalami penundaan besar-besaran, rilis film ditunda, produksi berhenti, konser musik dibatalkan. Namun, yang menarik adalah media streaming online menjadi sarana penunjang baru yang tumbuh pesat, sesuatu yang akan mengubah masa depan banyak industri.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah bagaimana pandemi ini akan mengubah dunia? Sebuah pertanyaan yang belum bisa terjawab. Hanya saja, sekarang ini, manusia di berbagai belahan dunia tampak semakin secara sadar mau melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih sehat, tingkat kebersihan diri dan lingkungan semakin nampak, sustainable lifestyle  juga menjadi pilihan dan banyak perilaku positif lainnya.  Jika mindset positif masyarakat akan lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan semakin terbangun tidak mustahil akan menekan tingkat pencemaran lingkungan hingga mengurangi stress dan meningkatkan harapan hidup manusia. Hal tersebut tentu saja sangat baik, dan diharapkan akan berdampak juga pada lingkungan. Namun apakah benar demikian? Perlu diingat konsekuensi dari penggunaan cairan disinfektan,  masker sekali pakai dan plastik kemasan yang meningkat juga menjadi ancaman tersendiri.

Kemudian, dalam menghadapi kondisi baru ini, tampak banyak pemerintahan yang tidak mempunyai sistem pencegahan dan penanggulangan pandemi, artinya perekonomian akan sangat rentan dan akan lambat untuk pulih, sangat besar pula dampak pada pelaku usaha informal dan UMKM. Namun sepertinya, pemerintah mungkin akan lebih protektif dan fokus pada pemulihan domestik terlebih dahulu, dalam skenario ini, sumber daya manusia sebagai aset terpenting suatu Negara harus dipulihkan terlebih dahulu baik dari segi ekonomi, kesehatan, psikologis dan kapabilitasnya. Saat ini, harapan maupun pesimisme campur menjadi satu di luar sana, peperangan melawan virus masih sangat panjang. Prediksi dan skenario tentu boleh dilakukan dengan harapan dapat memitigasi risiko yang ada, karena krisis ini seolah menunjukkan betapa lemahnya sistem sosial kita.

Kita memerlukan perubahan yang radikal pada sistem sosial masyarakat yang secara efektif dapat mengubah manusia, pemerintah dan dunia usaha, yang belakangan ini kita kenal dengan istilah new normal. New Normal sering disalah artikan sebagai kembali kebiasaan normal, namun sesungguhnya ini adalah suatu bentuk sistem dalam lingkungan sosial yang baru yang sangat berbeda, banyak hal yang dahulu bisa dilakukan dengan leluasa sekarang tidak dan harus dengan berbagai penyesuaian. Budaya lama yang sangat rentan dengan penularan virus ini harus dihilangkan, keberanian dan ketegasan dari semua pihak sangat dinanti, agar semua aturan, protokol, strategi yang telah dipersiapkan untuk menghadapi kondisi yang baru ini tidak sia-sia. Akhir kata, tetap disiplin dan tertib, terapkan level kewaspadaan tertinggi dan kiranya kita mampu menyelesaikan semua ujian ini dengan baik.

 

*Penulis adalah Daniel Yudhistya Wardhana, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta