OPINI: Menilik Kewirausahaan Milenial

Agnes Gracia Quita, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Menjelang akhir 2020 semakin terasa intensitas hujan maupun panas yang ekstrem. Alih-alih mencari jalan keluar atau merubah perilaku untuk mengurangi dampak pemanasan global, biasanya kita sibuk menaik-turunkan suhu pendingin ruangan. Pada saat yang sama, kita juga mulai sadar bahwa semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jalan pintas untuk permasalahan ini bisa dengan memperlebar kapabilitas belanja dengan kredit tanpa perencanaan jangka panjang. Perilaku ini ibarat mengobati penyakit dalam dengan menggunakan salep topikal. Tidak menyembuhkan, malah memperparah keadaan.

Sejumlah negara mulai membangun konsensus untuk menghadapi perubahan iklim dan kondisi ekonomi. Kesepakatan, peraturan dan target mulai dipersiapkan. Terlepas daripada itu, bagaimana peran kolektif masyarakat? Terutama peran pelaku bisnis, sejauh apa sektor wirausaha bisa menjadi motor rekonstruksi ekonomi, sosial dan lingkungan dalam krisis ini?

Ketika dunia penuh dengan perubahan dan ketidakpastian, bangsa-bangsa semakin membutuhkan talenta pengusaha lebih dari sebelumnya (Horsaengchai & Mamedova, 2011). Artinya kita harus meningkatkan jumlah wirausahawan, karena peran wirausaha sebagai agen perubahan yang menciptakan inovasi dalam berbagai situasi (Bjerke, 2007).

Berlanjut dari kewirausahaan, muncul gagasan kewirausahaan sosial. Kewirausahaan sosial lahir seiring semakin urjennya penyelesaian berbagai krisis paska milenium. Kewirausahaan sosial dapat didefenisikan sebagai aktivitas komersial yang dilakukan oleh pelaku swasta untuk mencapai tujuan sosial atau publik bersamaan dengan keuntungan finansial (Wolk, 2008).

Semakin banyak kita menyaksikan kemunculan usaha kreatif secara sporadis yang turut menyumbang nilai sosial dan lingkungan diberbagai daerah. Usaha-usaha ini tidak sekadar menjadi entitas bisnis yang komersil, namun juga membawa semangat perubahan. Sebagai contoh, kesadaran pemilik UMKM akan lingkungan di Jogja.

Beberapa kafe, toko roti, dan toko bahan makanan sudah mengurangi penggunaan plastik dan melakukan pemilahan sampah. Program peduli lingkungan hidup juga semakin populer dan banyak diminati. Organisasi seperti Waste4Change memiliki peningkatan pengikut. Selain itu pada berbagai kompetisi perguruan tinggi dan acara lainnya, lahir banyak inisiator energi terbarukan.

Kewirausahaan juga menjadi pemicu kreativitas dalam diri. Kreativitas ini akan memetakan setiap tantangan dan kesempatan bisnis sesuai perkembangan zaman. Gambaran ini direpresentasikan melalui kesuksesan start-up seperti Gojek, Traveloka dan Tokopedia yang menjawab kebutuhan gaya hidup fleksibel masyarakat masa kini. Selain berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja, kewirausahaan tentunya juga mendorong solidaritas sosial dan ekonomi di suatu daerah. Sebagai contoh, Du Anyam, Lawe, dan Sukka Citta yang memberdayakan potensi pada sektor kerajinan dan fashion dengan nilai-nilai kebudayaan untuk merentaskan kemiskinan. Selain itu, adapula aplikasi Tumbasin, yang menjawab permasalahan pasar tradisional, seperti masalah jarak dan keengganan konsumen untuk belanja secara konvensional karena keterbatasan waktu. Tumbasin menyediakan agen belanja, jasa ini memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mematikan dinamika pasar itu sendiri.

 

***

Lalu bagaimana cara mengaktivasi tren kewirausahaan supaya lebih masif? Tentunya dengan mendorong generasi milenial yang merupakan angkatan produktif kerja agar semakin terlibat di sektor ini. Terdapat 1,7 miliar milenial di seluruh dunia, dengan kata lain 25,5% dari populasi, dan dua kali lebih besar dari Generasi X (Laporan tahunan Generasi Y dan Tempat Kerja, 2010). Karena itu, keberlansungan sektor kewirausahaan kedepannya sangat terkait dengan keputusan-keputusan yang diambil generasi milenial sekarang. Kepedulian terhadap masalah sosial, ketekunan, dan kepribadian proaktif memegang peranan penting di kalangan milenial untuk niat berwirausaha sosial (Alberto dan Margarita, 2019). Milenial memiliki lebih dari sekadar keinginan untuk menghasilkan uang, tetapi juga sangat peduli bagaimana ia bisa berdampak pada dunia (Forbes, 2016).

Kendati milenial menunjukan antusiasme terhadap sektor wirausaha mandiri, kenyataannya generasi ini juga banyak mundur dari cita-cita menjadi wirausahawan. Saat menginjak usia 30, generasi millennial memiliki tingkat wirausaha yang lebih rendah (4%) dibandingkan dengan Generasi X (5,4%) dan Baby Boomers (6,7%) (Liu dkk, 2019). Intensi milenial untuk menciptakan usaha mandiri telah disikapi dengan positif, namun belum bisa berubah secara optimal menjadi perilaku wirausaha. 

Hal ini lantaran generasi ini masih mengalami berbagai kendala seperti dukungan sosial, ketersediaan modal dan pengetahuan.

Walaupun sudah semakin terlihat titik terang, proses belajar pada pendidikan dasar dan pendidikan tinggi masih malu-malu menjawab kebutuhan kontemporer, termasuk mengenai kewirausahaan. Sehingga keterbatasan pengetahuan bisnis masih menjadi hambatan mengapa kewirausahaan belum dieksplorasi lebih luas oleh milenial.  Selain itu, tentunya keterbatasan modal, kesempatan dan dukungan sosial juga menjadi isu klasik dalam sektor wirausaha.

Milenial yang ingin mengembangkan usaha menghadapi tekanan, dimana acap kali wirausaha dianggap terlalu berisiko dan tidak stabil oleh keluarga atau kolega. Sudah saatnya sistem pendidikan serta bantuan dari pemerintah semakin gencar mendukung dan memasarkan program-progam yang menyasar pertumbuhan kewirausahaan.

Dengan kesadaran akan peran sebagai sumber daya manusia, milenial sebaiknya membekali diri dengan konsistensi dan komitmen belajar bisnis. Milenial bisa memulai pemahaman mengenai kebutuhan masyarakat dengan observasi dari hilir ke hulu sebelum memulai merintis usaha. Pemahaman komperhensif  diperlukan agar usaha nantinya menguntungkan secara ekonomi, lingkungan dan sosial. Terjun kemasyarakat (hilir) artinya mengenali apa yang menjadi pemasalahan masyarakat saat ini. Kemudian mengidentifikasi penyebab atau pemicu permasalahan tersebut. Solusi yang ditawarkan bisa pada konteks hilir maupun hulu. Gerbang investasi sebenarnya sudah banyak terbuka, tersisa bagaimana milenial berani dalam mengambil keputusan.

Mari selalu memberi dukungan moral supaya milenial semakin percaya diri dan termotivasi untuk terjun ke dunia wirausaha. Harus selalu ditanamkan kepada masyarakat, bahwa generasi muda bukanlah sekedar generasi kelas belajar. Generasi muda adalah aset manusia yang hebat, pemimpin masa depan dan harapan bagi kemajuan ekonomi global (Ogamba, 2018). (ADV)