OPINI: Jalan Optimisme Menuju Pemulihan

Presiden Joko Widodo dalam Ratas Laporan Komite Penanganan Covid/19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 23 November 2020 / Youtube Setpres

Pandemi Covid-19 menimbulkan luka yang sangat dalam pada perekonomian. Saat dunia usaha harus berhenti beroperasi, sektor keuangan mengalami goncangan terbesar sepanjang masa. Sejumlah bursa saham rontok, imbal hasil surat utang di negara berkembang melambung tinggi, dan nilai tukar terdepresiasi.

Indonesia, salah satu negara yang sedang memiliki laju pertumbuhan ekonomi cukup kencang di periode sebelum pandemi, juga terguncang. Beruntung, memasuki paruh kedua 2020 semuanya mulai membaik. Stimulus ekonomi yang diluncurkan di paruh pertama nampaknya telah membuahkan hasil.

Tidak hanya mencegah terjadinya kontraksi lebih dalam tapi juga meminimalkan kerusakan ekonomi dalam jangka panjang. Secara triwulanan, perekonomian Indonesia tumbuh 5,05% yang merupakan rekor tertinggi pertumbuhan triwulanan.

Sinyal perubahan arah semakin menguat. Ekonomi global pun mulai menggeliat positif. Amerika Serikat, negara dengan perekonomian terbesar di dunia, mencatatkan rekor pertumbuhan ekonomi triwulanan tertinggi, yaitu sebesar 33,1% pada triwulan III lalu. Dari kawasan Eropa, pertumbuhan ekonomi menyentuh 12,6% triwulanan atau seperti membayar lunas kontraksi 11,8% yang terjadi di kuartal sebelumnya.

Tumbuhnya dua kawasan utama ekonomi dunia tersebut menyusul pemulihan yang telah terjadi di China. Bila di kuartal sebelumnya China mampu tumbuh positif 11,7%, pada kuartal III lalu mereka melanjutkan pemulihan dengan tumbuh 2,9% secara kuartalan. Selanjutnya dari kawasan Asia Tenggara, sejumlah negara seperti Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga menunjukkan pertumbuhan yang solid di kuartal III seperti halnya Indonesia.

Langkah menuju pemulihan ekonomi juga didukung oleh optimisme akan ketersediaan vaksin Covid-19. Sinyalemen positif ini mendorong para pelaku ekonomi berasumsi bahwa aktivitas ekonomi akan berjalan normal dalam waktu dekat. Asumsi ini sangat penting, karena asumsi adalah segalanya bagi para pelaku ekonomi.

Tumbuhnya ekonomi di negara-negara tersebut juga akan menimbulkan efek positif bagi upaya pemulihan ekonomi Indonesia. Dengan mulai meningkatnya aktivitas ekonomi negara-negara yang menjadi mitra Indonesia, aktivitas ekonomi dalam negeri juga akan terus meningkat untuk menuju pemulihan yang diharapkan.

Dari dalam negeri, aktivitas ekonomi terus menggeliat dan sinyal pemulihan semakin kuat. Hal ini tergambar dari beberapa indikator utama. Pertama, inflasi bulanan mulai kembali, setelah pada 3 bulan sebelumnya perekonomian mengalami deflasi secara berturut-turut. Artinya, daya beli masyarakat mulai pulih, karena inflasi dapat terjadi karena meningkatnya permintaan barang dan jasa.

Kedua, kinerja produksi mulai meningkat seiring dengan pemulihan di sektor manufaktur. Per Oktober 2020, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur, berada pada posisi 47,8. Meskipun masih berada di zona kontraksi, leading indicator tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan posisi April silam yang sebesar 27,5. Meningkatnya kinerja produksi juga tercermin dari kenaikan nilai ekspor sepanjang Oktober, terutama yang bersumber dari industri pengolahan yang mengalami kenaikan nilai ekspor sebesar 2,08% secara bulanan.

Ketiga, kinerja sektor riil yang cukup solid mendorong penguatan di sektor keuangan. Nilai tukar rupiah terus menguat ke posisi Rp14.100 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan kembali menyentuh 5.500. Selain itu, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun turun ke level 6,2% atau lebih rendah dibandingkan dengan sebelum pandemi. Artinya, kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia kembali menguat.

Mendorong pemulihan ekonomi di masa penuh ketidakpastian seperti saat ini memang tidak mudah. Perlu selera humor yang luar biasa untuk memprediksi kapan ekonomi benar-benar pulih seperti sediakala. Syaratnya, semua elemen harus terlibat. Elemen pertama untuk membuka jalan menuju pemulihan adalah kebijakan fiskal. Sebagai instrumen utama, kebijakan fiskal harus menyesuaikan dengan siklus perekonomian.

Dalam kondisi pandemi ini, kebijakan yang diambil perlu fokus dalam menjaga keseimbangan antara kebijakan countercyclical dan pengendalian risiko untuk mendukung akselerasi pemulihan dan memperkokoh fondasi dalam rangka transformasi ekonomi.

Untuk memperkuat kebijakan countercyclical, belanja negara harus menggunakan prinsip spending better. Harus difokuskan pada hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan, menyediakan manfaat optimal bagi masyarakat, dan memberikan nilai tambah paling besar bagi kehidupan.

Sisi risiko tetap harus diperhatikan dengan seksama, terutama yang bersumber dari pembiayaan. Salah satunya untuk tetap fokus pada sumber pembiayaan dengan cost of borrowing yang efisien dan tingkat risiko yang rendah.

Elemen kedua adalah kebijakan moneter. Kebijakan ini harus mendukung stabilisasi makro ekonomi, terutama melalui kebijakan suku bunga dan nilai tukar. Kedua hal itu penting untuk menekan cost of fund yang saat ini sangat diperlukan bagi pelaku usaha untuk me-restart usahanya. Di samping itu, peran dan intervensi kebijakan moneter sangat diperlukan untuk menjaga pasar keuangan sebagai penyedia sumber pembiayaan.

Terakhir, pemulihan akan sangat tergantung pada kapan pandemi ini berakhir. Akan sangat sulit membayangkan recovery tanpa tahu kapan berakhirnya pandemi. Namun, jalan menuju pemulihan itu sudah mulai terlihat. Hamonisasi seluruh elemen kebijakan tidak hanya dapat bermanfaat untuk mempercepat proses pemulihan, tapi juga turut menjaga kesinambungan dalam jangka panjang.