OPINI: Memanfaatkan Energi Ekonomi Syariah

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi (tengah) didampingi Wakil Direktur Utama I Ngatari dan Wakil Direktur Utama II Abdullah Firman Wibowo berpose dalam sesi foto usai penandatanganan akta penggabungan tiga bank syariah milik Himbara di Jakarta, Rabu (16/12/2020). - ANTARA

Pandemi Covid-19 mengajarkan tentang dampak penyebaran wabah, hingga membuat perekonomian lesu. Pandemi Covid-19 juga mengajarkan tentang pentingnya usaha kolektif dalam merespon tantangan berat di tengah perlambatan ekonomi.

Di saat banyak dari pekerja harus rela dirumahkan, bantuan mengalir tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari dana sosial masyarakat yang tidak hentinya ‘menambal lubang’ yang terdampak pagebluk tersebut.

Kohesi sosial yang tertanam dalam di masyarakat Indonesia adalah modal kuat yang dapat menjadi kekuatan untuk mencapai titik keseimbangan baru. Dalam kaitan itu sejatinya ekonomi syariah bergerak berdasarkan fondasi resilience yang kuat dengan memastikan bahwa sektor sosial aktif dalam mendorong perekonomian berbasis riil bersama dengan sektor komersial.

Pondasi ekonomi dan keuangan syariah terbukti lebih kokoh dibandingkan dengan ekonomi konvensional dalam menghadapi krisis dikarenakan kohesi tersebut.

Berdasarkan laporan Indonesia Shariah Economic Outlook 2021 yang diterbitkan Universitas Indonesia, performa ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air memang terdampak Covid-19. Namun, ekonomi dan keuangan syariah nasional tercatat lebih resilience dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi yang lebih besar menjadi motor penggerak kebangkitan ekonomi Indonesia pada 2021.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan kelas menengah dan usia produktif yang terus tumbuh serta peningkatan minat terhadap produk halal, peluang untuk menjadi pusat pertumbuhan dan pemain utama ekonomi syariah global bukanlah tidak berdasar. Dengan dukungan penuh pemerintah dalam akselerasi ekonomi syariah di era digital diharapkan dapat meningkatkan investasi serta konsumsi.

Pada akhirnya mengarahkan peningkatan kapasitas ekspor produk-produk pasar halal dunia. Kunci keberhasilan peran ekonomi syariah adalah pendekatan yang adaptif dan inovatif dengan memanfaatkan teknologi digital. Pada sektor keuangan komersial Islam, highlight perkembangan pada 2021 masih diwarnai dengan harapan besar terhadap bank syariah anak usaha Himpunan Bank-bank milik negara (Himbara) hasil merger dalam meningkatkan penetrasi pasar ekonomi syariah dan memberikan kebermanfaatan.

Dengan konsolidasi yang memberikan competitive advantage berupa dana murah, jaringan luas maupun blended expertise, Bank Syariah Indonesia diharapkan mampu membuka akses pembiayaan lebih luas dalam perekonomian nasional.

Harapan besar ini perlu disambut dengan komitmen untuk terus hadir dalam memberikan solusi keuangan yang sesuai dari sektor mikro hingga korporasi besar, terutama dalam kaitannya mendukung linkage keuangan syariah dengan industri halal yang sedang dikembangkan.

Untuk mendukung kebutuhan permodalan dalam negeri tersebut, aksi korporasi untuk memperluas jaringan dalam rangka menarik arus likuiditas masuk ke Indonesia dapat dimainkan agar kecukupan likuiditas dapat dipenuhi. Tidak lupa juga perlu adanya pendekatan inovatif pada layanan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi keuangan untuk menyasar sektor UMKM.

Pasar modal syariah diyakini akan tumbuh dengan peningkatan jumlah investor, maupun volume transaksi. Tren kapitalisasi pasar modal syariah meningkat hingga akhir 2020, terutama melalui peningkatan nilai outstanding sukuk, reksa dana syariah yang beredar maupun jumlah saham syariah.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 mendorong sektor keuangan sosial Islam untuk berperan lebih dalam perekonomian pada saat sektor keuangan komersial Islam menghadapi tekanan. Total koleksi dana zakat menunjukkan pertumbuhan 26,1% dengan penyaluran mencapai 84,59% pada 2020.

Tren positif ini akan terus berkembang pada 2021. Ke depannya, sinergitas antara masyarakat, pengelola dana sosial, dan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan dana maupun program untuk memberikan dampak yang lebih luas.

Untuk memacu kebangkitan ekonomi pada 2021, kunci awal keberhasilan dan peran penting ekonomi syariah memastikan ketersedian modal untuk menggerakkan sektor UMKM dan industri halal. Oleh karena itu, pekerjaan rumah besar dipikul oleh Bank Syariah Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi syariah untuk dapat menarik dana dari luar, terutama dari Timur Tengah.

Perlu digaris bawahi bahwa lebih dari 60% likuiditas di sektor keuangan syariah berputar di Timur Tengah, di mana hal ini merupakan potensi besar apabila dapat disentuh.

Selain pembukaan kantor cabang di Timur Tengah, Bank Syariah Indonesia perlu untuk memproyeksikan visi dan brand image, selain dengan proyek strategis yang ditawarkan melalui jalan diplomasi ekonomi syariah, melalui keterlibatan di forum-forum ekonomi syariah dunia maupun menjadi bank percontohan berbasis value-based intermediation.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia