RIFKA ANNISA: Bercerita Pengalaman Kekerasan Seksual

Foto ilustrasi setop kekerasan - Freepik
29 Maret 2021 06:57 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Salam Kakak Rifka Annisa, saya memiliki calon suami dan siap menikah. Suatu ketika pasangan saya mengungkit pertanyaan tentang keperawanan. Saya khawatir dan bingung tentang hal itu, karena memiliki pengalaman buruk sebelumnya. Saat Kelas II SD, saya dan salah satu teman perempuan saya dijebak oleh teman-teman senior kami, dan dipaksa melakukan hubungan seksual dengan salah satu teman laki-laki yang sebaya dengan saya.  Saat itu saya belum mengerti apa-apa. Saya bahkan tidak mengerti tentang hubungan seksual. Jika diingat-ingat kembali kejadian itu saya sendiri lupa jadinya bagaimana.

Saya bingung ketika calon suami saya bertanya hal ini, saya harus jawab apa, karena saya sudah benar-benar lupa detail peristiwanya bagaimana dan apakah saya melakukan atau tidak. Selama ini tidak ada yang mengetahui peristiwa ini. Kalau saya cerita apakah calon suami akan menerima saya? Namun jika saya tidak cerita, saya dihantui ketakutan jika kabar ini sampai pada dia dari orang lain. Mohon saran dari kakak.   

JAWAB

Terima kasih sudah berbagi cerita. Iya, kakak bisa memahami kebingunganmu. Karena dalam budaya kita, keperawanan menjadi momok bagi sebagian besar perempuan, terutama yang belum menikah. Tubuh kita itu milik kita sendiri. Tidak ada orang lain yang berhak melakukan apapun pada tubuh kita, kecuali dengan izin dari kita.

Ibaratnya kamu punya kamar tidur. Kalau tiba-tiba ada orang masuk dan mengacak-acak lemarimu, kamu pasti merasa tidak nyaman kan? Nah, di kasus pertama, ketika ada orang asing yang datang dan mengacak-acak kamarmu itu, apakah itu salahmu? Atau walau pun kamu memperbolehkan tetapi enggak tahu maksudnya, apakah itu juga salahmu?

Menurut kakak, dalam kasusmu di masa kecil tersebut, dirimu adalah korban. Usiamu masih sangat kecil untuk bisa memahami dan membuat keputusan.

Begitupun halnya dengan calon suami bahkan suami. Untuk menyentuhmu dia harus mendapatkan izin dan kerelaan darimu. Pernikahan bukan untuk mengekang, tetapi untuk menjadikan kita bisa berkembang menjadi diri kita yang terbaik.

Cerita hidupmu adalah milikmu sendiri. Kamu boleh menceritakan atau tidak menceritakan pada orang yang kamu kehendaki. Dan reaksi orang terhadap ceritamu juga bukan tanggung jawabmu. Jika kamu memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada calon suami ini, saatnya kamu melihat apakah dia cukup bijaksana melihat permasalahanmu ini.

Masa lalu adalah sesuatu yang sudah pergi jauh, dan masa depan adalah sesuatu yang belum terjadi. Sehingga lebih baik kita fokus pada diri kita yang sekarang. Diri kita berharga dengan semua cerita yang pernah terjadi dalam sejarahnya. Hidupmu adalah milikmu, dan jadikan itu indah untuk dijalani. Kamulah yang menentukan, bukan orang lain. Begitu ya jawaban dari kakak, semoga dapat menjadi inspirasi.

Rubrik ini kerja sama Harian Jogja dengan Rifka Annisa. Kirim pertanyaan, opini maupun tulisan Anda mengenai gender, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hukum ataupun korban kekerasan ke rifka@rifka-annisa.org atau konsultasi.rifka.annisa@gmail.com. Untuk layanan konseling silakan menghubungi nomor telepon (0274) 553333 atau hotline 085799057765 (konseling perempuan dan anak), 085100285002 (konseling laki-laki). Anda juga bisa mengunjungi kantor kami di Jalan Jambon IV Kompleks Jatimulyo Indah, Tegalrejo, Jogja.