OPINI: Bias Psikologi Investor

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
15 September 2021 06:07 WIB Desmon Silitonga, Riset Analis PT Capital Asset Management Aspirasi Share :

Di tengah suramnya kinerja perekonomian Indonesia akibat hantaman pandemi Covid-19, ada kabar yang menggembirakan dari pasar modal yaitu tingginya minat masyarakat menjadi investor.

Berdasarkan data Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor di pasar modal pada 2020 menembus 3,88 juta Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 56,2% (YoY) dari 2019. Tren ini berlanjut pada 2021. Sampai dengan Juli, jumlah SID telah mencapai 5,82 juta atau tumbuh 50,04% dari 2020.

Jika dilihat berdasarkan pilihan produk investasi, reksa dana paling diminati. Sampai dengan Juli 2021, jumlah SID reksa dana mencapai 5,16 juta SID atau tumbuh 62,6% dari akhir 2020.

Maraknya pertumbuhan investor reksa dana ini tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor, seperti pesatnya pertumbuhan platform online investasi yang menjadi penghubung antara manajer investasi (MI) sebagai pihak yang mengeluarkan dan mengelola produk reksa dana dan investor; regulasi yang makin sederhana; biaya yang murah; modal investasi yang sangat terjangkau; diversifikasi produk reksa dana yang beragam dan dapat disesuaikan dengan profil risiko investor, serta menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.

Tak kalah menarik, pertumbuhan investor yang pesat ini didominasi oleh investor usia di bawah 30 tahun dan usia 30—40 tahun. Jika merujuk pada klasifikasi generasi dari Badan Pusat Statistik (BPS), pasar modal Indonesia didominasi oleh investor Gen-Z dan Gen-Y (milenial).

Total kontribusi dua strata generasi ini terhadap total investor di pasar modal mencapai 80% dengan akumulasi aset Rp113,5 triliun. Perkembangan ini patut diapresiasi. Dengan berinvestasi sejak dini diharapkan dapat mengurangi tekanan keuangan yang saat ini banyak melanda generasi muda ini, khususnya generasi milenial.

Mereka ini juga kerap disebut sebagai generasi sandwich, yaitu keadaan seseorang yang terjepit secara keuangan, karena harus menanggung secara finansial orang tua, keluarga sendiri, dan anak-anaknya. Meski begitu, tingginya gairah untuk berinvestasi ini harus tetap diikuti dengan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan dan mengendalikan bias psikologi, sehingga investasi yang dijalani menjadi sehat dan tumbuh.

Bagi investor muda, pengetahuan tentang investasi bisa dengan mudah diperoleh seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan platform media sosial. Hanya melalui smartphone pengetahuan tentang investasi bisa diperoleh dari pakarnya, baik melalui seminar online, kuliah online, dan forum-forum diskusi online lainnya. Namun, pengetahuan saja tidak cukup.

Ada salah satu kemampuan yang juga harus terus dilatih, yaitu mengendalikan bias psikologi yang memang melekat dari diri setiap investor.

Bahkan, kemampuan mengenali dan mengendalikan bias psikologi ini kerap menjadi penentu terbesar dalam keberhasilan berinvestasi. Sejarah mencatat bahwa krisis ekonomi besar yang pernah terjadi kerap dipantik oleh keruntuhan oleh kegagalan investasi di pasar keuangan.

Ditelisik lebih jauh, kegagalan investasi itu terjadi akibat ketamakan (greed) dan kepercayaan diri berlebihan yang memicu irrational exuberance. Ini merupakan bias psikologi yang gagal dikendalikan.

Menjadi investor yang sekadar ikut-ikutan (herding) merupakan salah satu gambaran dari ketikdakmampuan mengendalikan bias psikologi ini. Mudah percaya dengan bualan dari para influencer dengan follower yang banyak. Mudah terpikat dengan bualan seorang selegram yang sebenarnya masih gagap dan faham dalam membaca laporan keuangan.

Akibat dari herding ini memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Ini merupakan ganguan keadaan psikologis yang merasa takut tertinggal dengan peers, karena tidak mengikuti aktivitas tertentu.

Di awal 2021, pasar saham Indonesia dilanda fenomena FOMO. Para investor muda terus memburu saham-saham yang berkapitalisasi kecil dengan fundamental yang tidak terlalu solid, sehingga harganya terus naik. Ironisnya, meski harga sudah naik tinggi, terus diburu karena iri melihat peers-nya menikmati keuntungan besar.

Sayangnya, harga tiba-tiba ambruk. Harapan untuk mengejar cuan besar dalam waktu pendek berubah menjadi kerugian jumbo. Bahkan, banyak yang menggunakan utang sebagai modal untuk bertransaksi saham. Fenomena FOMO juga terjadi di negara maju. Salah satunya, lonjakan harga saham Gamestop di bursa saham AS.

Tentu bukan model investasi ala FOMO ini yang kita harapkan. Sebaliknya, investasi yang sehat harus ditumbuhkan. Strategi ini ibarat menanam pohon. Untuk menghasilkan buah yang baik dibutuhkan kemampuan memilih bibit yang baik dan kiat untuk menumbuhkannya menjadi pohon yang sehat dan berbuah lebat (faktor pengetahuan). Kesabaran dan keuletan untuk mengolah dan merawat (faktor psikologis). Hasilnya adalah buah yang baik dan manis.

Tidak ada cara instan meraih keutungan besar dengan cepat di pasar modal. Semua butuh proses. Sayangnya, makin banyak investor muda yang tidak tertarik melakukan investasi seperti menanam pohon dengan benar. Mereka beralasan hal itu tidak menarik dan membosankan. Sebaliknya, ingin cepat untung besar. Itu sah saja dan itu pilihan.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa investor yang menjadi pemilik kekayaan terbesar ialah mereka yang berinvestasi dengan keuletan dan kesabaran. Terus mengasah kemampuan untuk dapat mengendalikan bias psikologi.

Nasihat Benjamin Graham penulis buku The Inteligent Investor layak direnungkan: ‘in the short run, the market is a voting machine, but in the long run, it is a weighing machine’. Selamat berinvestasi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia