OPINI: Menyambut Dunia Bisnis Pasca Covid-19

Tegar Satya Putra, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Pandemi Covid-19 telah membawa banyak perubahan tiba-tiba dalam aspek kehidupan. Mulai dari siswa sekolah sampai pebisnis dan pekerja, semua harus mau tidak mau menyesuaikan cara baru untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Ruang kelas dan rapat tidak lagi ramai, keramaian siswa dan pekerja semua berpindah ke ruang virtual seperti Zoom atau Google Meet. Pusat perbelanjaan tidak lagi ramai dengan pembelanja, pembelanja tersebut berpindah ke lokapasar (marketplace). Banyaknya perubahan yang terjadi, membuat banyak ahli memprediksi bahwa masa pasca Covid (post-Covid world) tidak akan kembali seperti dunia sebelum pandemi terjadi. Berikut adalah perubahan yang akan terjadi dalam dunia bisnis.

Pengelolaan Pegawai

Covid-19 memaksa banyak perusahaan untuk menerapkan sistem Work from Home (bekerja dari rumah) atau remote work (bekerja dari jarak jauh). Tren WFH ini diramalkan akan tetap ada dan menjadi kebiasaan baru untuk kebanyakan perusahaan pasca Covid. Mckinsey, sebuah perusahaan global yang menawarkan jasa konsultansi bisnis, memprediksi bahwa tren WFH akan tetap ada pada masa pasca Covid. Banyak perusahaan yang menyadari bahwa beberapa pekerjaan bisa dilakukan tanpa adanya sebuah kantor dan berkumpul bersama. Maka dari itu, banyak perusahaan di masa pasca Covid akan menerapkan konsep kerja hibrida antara bekerja secara daring dan luring.

Konsep kerja hibrida menguntungkan bagi perusahaan maupun pegawai. Dari sisi perusahaan, konsep kerja hibrida mengurangi kebutuhan ruang kantor, karena tidak semua pegawai masuk pada saat bersamaan. Berkurangnya kebutuhan ruang kantor akan mengurangi biaya sewa ruang perkantoran. Di sisi pegawai, konsep kerja hibrida akan memberikan pengurangan biaya transportasi ke kantor. Selain penghematan biaya, pegawai akan mendapatkan lebih banyak fleksibilitas dalam melakukan pekerjaannya. Mereka bisa mengerjakan pekerjaan mereka di manapun mereka mau tanpa harus ada kewajiban untuk hadir di kantor setiap saat. Namun, keuntungan yang diberikan sistem kerja hibrida juga disertai beberapa tantangan.

Tantangan pertama, perusahaan harus mampu menerapkan sistem kerja hibrida dengan adil, padahal tidak semua pekerjaan dalam suatu perusahaan bisa dilakukan secara daring. Penerapan sistem kerja hibrida sangat rentan menimbulkan rasa iri dan konflik antar pegawai.

Ke depannya, perusahaan akan melakukan banyak uji coba untuk mencari sistem dan cara pengelolaan sistem kerja hibrida yang paling tepat untuk perusahaannya. Tantangan kedua, perusahaan perlu mencari cara baru untuk meningkatkan kerjasama dan kualitas komunikasi di tempat kerja. Hal ini menjadi penting karena akan ada pegawai yang bekerja secara luring dan daring pada saat bersamaan dalam suatu perusahaan. Tantangan ketiga, ke depannya akan banyak pegawai yang tinggal di provinsi yang berbeda dengan kantor tempat dia bekerja. Selama ini penerapan gaji biasanya mengacu pada Upah Minimum Regional atau Provinsi (UMR/UMP), yang menurut penulis sudah tidak akan tepat dan adil untuk sistem penggajian di masa pasca Covid.

Penerapan sistem UMR dan UMP pada masa pasca Covid akan menimbulkan dampak negatif baik untuk perusahaan dan negara, sebagai contoh, bisa saja timbul eksodus (perpindahan besar-besaran) ke wilayah dengan biaya hidup yang lebih murah. Pemerintah dan pengusaha harus berdialog untuk menghasilkan sistem penggajian baru yang lebih tepat di masa pasca Covid.

Perilaku Konsumen

Selain berubahnya cara kerja, pandemi Covid-19 juga membuat perilaku berbelanja kebanyakan orang berubah. Berikut adalah beberapa perubahan signifikan yang akan tetap ada di dunia pasca Covid. Pertama, pembelanja lebih memilih untuk berbelanja secara daring. Covid-19 memaksa pembelanja untuk berbelanja dan mencari informasi produk secara daring. Pelahan tapi pasti, hal ini akan menjadi kebiasaan baru bagi kebanyakan orang.

Menurut survei Mckinsey di Indonesia, 92% responden survei menyatakan mencoba berbelanja produk secara daring. Selain produk kasat mata, peningkatan drastis juga terjadi pada aktivitas belanja jasa daring seperti jasa antar makanan, jasa antar belanjaan dan lain-lain. Bahkan, kebanyakan dari responden survei tersebut berniat menggunakan layanan jasa daring tersebut walau pandemi berakhir nantinya.

Perubahan perilaku ini menandakan makin pentingnya kehadiran suatu produk secara daring. Jika suatu bisnis ingin produknya tetap laku pada masa pasca Covid, pemasaran digital melalui Instagram, Tokopedia dan platform daring yang lain harus diterapkan. Kedua, platform belanja daring memberikan kemudahan bagi pembelanja untuk membandingkan dan mencoba produk baru. Selain itu, dampak ekonomi dari Covid-19 menyebabkan pembelanja mencari alternatif produk yang lebih murah. Ahli meramalkan tren ini akan terus ada sampai pada masa pasca Covid. Hal ini menjadi tantangan bagi perusahaan.

Pesan Penutup

Covid-19 bukan hanya krisis kesehatan namun krisis kehidupan. Walau pandemi ini berdampak negatif, namun pada saat bersamaan, pandemi ini memberikan percepatan dan perubahan. Percepatan dan perubahan ini memberikan keuntungan dan tantangan bagi pebisnis dan perekonomian secara umum. Maka dari itu dibutuhkan usaha dan inovasi dari dalam perusahaan untuk dapat berjaya dalam masa pasca Covid.