OPINI: Strategi Membumikan Ekonomi Syariah

Karyawati Bank Syariah Indonesia melayani nasabah di KC Jakarta Hasanudin, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
06 November 2021 06:07 WIB Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Aspirasi Share :

Tidak berpuas diri. Demikian pesan dari Presiden Joko Widodo kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan di Tanah Air saat memberi sambutan pada Peringatan Hari Santri Nasional 2021 di Istana Negara, 22 Oktober lalu.

Presiden mengingatkan perlunya upaya strategis antar pemangku kepentingan agar ekonomi syariah Indonesia tumbuh lebih pesat lagi. Sesuai arahan Presiden Jokowi, Indonesia diharapkan menjadi pemain kunci dalam ekonomi syariah global. Pusat gravitasi ekonomi syariah bagi dunia.

Pesan dan harapan dari Presiden tersebut tentunya menjadi pemantik semangat bagi seluruh pemangku kepentingan di industri ekonomi dan keuangan syariah untuk bersinergi, bergandengan tangan lebih kuat, dan berkontribusi lebih baik lagi untuk mewujudkannya. Tak terkecuali PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sebagai satu-satunya bank syariah berstatus BUMN.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki modal untuk menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah global. Kita ketahui sektor ekonomi syariah di dalam negeri tumbuh signifikan.

Ekonomi syariah nasional terus menunjukkan progres menarik dalam beberapa tahun terakhir. Data The State of Global Islamic Indicator Report 2020/2021 menunjukkan Indonesia menempati posisi keempat pada 2020, naik dari posisi 10 besar dunia (2018) dan peringkat kelima (2019).

Indonesia terbilang unggul dalam beberapa aspek ekonomi syariah, termasuk keuangan. Baru-baru ini Cambridge Global Islamic Finance Report (GIFR) merilis laporan yang menegaskan posisi keuangan syariah Indonesia di tataran global.

Indonesia menjadi negara terbaik dalam sektor keuangan syariah dengan nilai Islamic Finance Country Index (IFCI) sebesar 83,35%. Cukup jauh di atas peringkat kedua yakni Arab Saudi dengan nilai 80,67% dan peringkat ketiga Malaysia di angka 80,01%.

Artinya Indonesia telah muncul sebagai pemain yang serius dalam industri jasa keuangan syariah global. Industri ini mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, takaful dan retakaful, keuangan mikro Islami hingga perusahaan teknologi keuangan berbasis nilai Islami.

Namun, capaian positif tak lantas membuat kita berpuas diri sebagaimana pesan Presiden Jokowi. Meskipun berada di tingkat pertama dunia dalam hal indeks keuangan syariah, aset keuangan syariah Indonesia masih berada di peringkat ketujuh di bawah Iran, Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.

Di tataran dalam negeri, industri keuangan syariah juga baru menyumbang sebagian kecil (11,5%) dari total aset keuangan nasional.

Karena itu diperlukan mesin khusus yang dapat membantu Indonesia me-leverage industri ini, yang pada akhirnya dapat menjadi roda pertumbuhan ekonomi syariah dalam negeri. Tidak dapat dipungkiri bahwa BSI didirikan untuk menjadi solusi atas minimnya entitas di sektor keuangan syariah berkapasitas besar untuk menggerakan ekonomi syariah.

Lahir pada 1 Februari 2021 sebagai hasil merger tiga bank syariah anak BUMN, yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM), PT BNI Syariah (BNIS), dan PT Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS) di tengah situasi pandemi yang memukul berbagai sektor bisnis di Indonesia dan dunia.

Hasilnya adalah sebuah bank syariah dengan skala ekonomi yang kuat dan menembus 10 bank besar nasional serta kinerja yang solid. Bahkan di tengah pandemi pada kuartal III/2021 berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp219,19 triliun dengan jumlah pembiayaan Rp163,32 triliun. Di bottom line, laba naik 37,01% menjadi Rp2,26 triliun.

Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, kami siap menjadi pemain kunci, menggarap potensi ekonomi syariah nasional untuk meraih kemaslahatan umat dan mewujudkan harapan besar Indonesia sebagai sentral ekonomi syariah dunia.

Komitmen itu diteguhkan dengan fokus menjalankan transformasi digital, mendorong bertumbuhnya kewirausahaan (entrepreneuship) dan menggencarkan literasi dan keuangan syariah di Tanah Air.

Untuk membumikan ekonomi dan keuangan syariah hingga ke penjuru Nusantara, langkah itu diawali dengan merampungkan proses migrasi dan integrasi seluruh jaringan ke dalam sistem tunggal. One single system membuat operasional bank menjadi satu.

Seluruh nasabah akan memiliki akun di sistem baru. Seluruh jaringan yang berasal dari bank legacy juga terintegrasi. Layanan digital juga akan semakin kuat setelah rampungnya integrasi operasional. Alhasil, pengembangan layanan dan garapan potensi pasar keuangan syariah dapat dilakukan dengan lebih optimal.

Pasar yang dapat dirangkul menjadi lebih luas. Bukan tidak mungkin selanjutnya dapat menjadi penopang industri halal nasional.

Bagi perusahaan, potensi peningkatan kinerja menjadi sangat besar. Selanjutnya memenuhi target yang diinginkan yakni menjadi rahmatan lil alamin dengan pemberdayaan umat, pengembangan sektor UMKM, going global, serta menjadi energi baru perekonomian nasional.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia