Advertisement

OPINI: Ketika QRIS Melewati ‘Batas’

Marizsa Herlina
Jum'at, 04 November 2022 - 06:27 WIB
Maya Herawati
OPINI: Ketika QRIS Melewati ‘Batas’ Ilustrasi sistem pembayaran QRIS - Freepik

Advertisement

Saat ini, sepertinya masyarakat Indonesia sudah makin dekat menuju cashless society, yaitu masyarakat yang transaksi keuangannya dilakukan secara nontunai. Bahkan membeli segala hal di pasar tradisional, pedagang kaki lima, tukang bakso sekarang pun sudah lumrah dengan pembayaran nontunai. Hal ini disebabkan oleh inovasi yang kerap muncul di masyarakat yang memudahkan kita untuk melakukan transaksi yang tidak memakai uang tunai.

Pengguna QR Code Indonesian Standard (QRIS) di Indo­ne­sia saat ini sangat masif. Data September 2022 menunjukkan merchant yang menggunakan QRIS mencapai sekitar 21,4 juta merchant, didominasi oleh pulau Jawa sebanyak 17,7 juta merchant. Selain itu, ekspansi transaksi QRIS juga begitu besar, terdapat peningkatan 184% volume transaksi dan 352% nominal transaksi QRIS dari tahun la­lu. Di mana besaran transak­si QRIS pada Agustus 2022 mencapai 91,73 juta tran­saksi dengan nominal se­besar Rp9,66 triliun.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Rasio volume transaksi QRIS pada bank dan non-bank adalah 38:62, sedangkan untuk rasio nominalnya 50:50. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya masyarakat bertransaksi menggunakan QRIS didominasi via nonbank, seperti pengguna­an e-wallet, seperti Shopeepay, Gopay, Dana, dan Ovo, yang nyaris dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan menggunakan bank. Artinya, masyarakat masih lebih menyukai membayar dengan QRIS melalui nonbank.

Banyak indikasi yang muncul dari hasil ini, yang pertama, mungkin masyarakat yang menggunakan QRIS tidak memiliki rekening (unbankable) sehingga penggantinya adalah e-wallet yang gampang untuk diisi di gerai/agen seperti minimarket. Kedua, mungkin masyarakat memiliki rekening (bankable), tetapi tidak memiliki mobile banking sehingga lebih terbiasa untuk menggunakan nontunai dari e-wallet. Dan ini pun didukung dengan data bahwa volume dan nominal transaksi uang elektronik nonbank meningkat 39% dan 43,2% dari tahun lalu.

Dari data di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa QRIS mam­pu mengakselerasi dan memperluas transaksi ke­uangan nontunai, baik di ka­lang­an masyarakat banka­ble maupun unbankable. Tidak heran jika QRIS memperluas potensinya dengan melewati ‘batas’ negara Indonesia atau boleh kita sebut dengan QRIS antarnegara.

Melewati batas biasanya merupakan konotasi yang negatif. Namun, kini artinya berbeda, ada sesuatu yang melewati batas, tetapi bisa dibilang pengaruhnya positif. QRIS antarnegara dapat digunakan untuk pembayaran di luar negeri. Turis asing dapat membayar menggunakan aplikasi negaranya dengan memindai QRIS di merchant Indonesia, ataupun sebaliknya, turis Indonesia dapat membayar menggunakan aplikasi pembayaran QRIS dengan memindai QR code di negara lain. QRIS sudah mulai merambah ke negara tetangga, yaitu Thailand sejak 29 Agustus 2022. Selanjutnya, Malaysia serta Singapura akan segera menyusul.

QRIS antarnegara akan mem­per­mudah masyarakat du­nia untuk bertransaksi di luar negeri yang terintegrasi. Kita tidak perlu repot untuk me­nukar uang ke mata uang lo­kal atau menyiapkan kartu kre­dit/debit untuk bertransak­si. Kursnya pun bersaing dan tidak mahal serta tidak ada charging fee dari besaran tran­saksi untuk pengguna (konsumen). Penggunaan QRIS juga tentunya akan mencegah risiko pengambilan cash di negara lain yang kursnya dipatok cukup mahal.

Jika penggunaan QRIS sudah diterima dengan luas seperti pemakaian kartu kredit/debit berlogo tertentu, maka bukan mimpi bahwa kita akan menuju ke cashless society, bahkan di luar negeri. Selain itu, bagi UMKM yang mempunyai buyer di luar negeri, pembayaran dengan QRIS akan jauh lebih mudah karena akan mirip dengan transfer bank biasa.

Advertisement

Untuk pembuat kebijakan, maka digitalisasi tentunya bisa didorong semaksimal mungkin. Artinya, masyarakat makin bisa menerima teknologi dan pemerintah sudah mendapatkan data yang akurat pada transaksi individu dan merchant. Dengan QRIS antarnegara, artinya data turis/WNA yang menggunakan QRIS atau berbelanja di Indonesia akan muncul.

Dari sana, banyak sekali informasi yang akan kita dapat, contohnya turis dari negara A sering berbelanja di tempat B, C, D di Indonesia. Kita bisa mengetahui demografi dari turis/WNA dan seberapa besar pengeluaran mereka di negara ini serta di tempat seperti apa. Begitu pula sebaliknya, kita juga bisa mengetahui berapa banyak pengeluaran orang Indonesia di luar negeri dan bagaimana karakter/pola belanja individu tersebut ketika di luar negeri. Dari big data ini, pemerintah diharapkan dapat membuat insight yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk membuat data-driven decision agar kebijakan tepat sasaran dan makin efisien.

Tentu saja dibalik keuntungannya, pasti ada kekhawatiran yang menyertainya, yaitu keamanan data transaksi. Kebijakan antarnegara untuk QRIS ini tentunya perlu disosialisasikan. Khawatirnya, perbedaan kebijakan menjadi terbentur dengan kebutuhan sehingga masyarakat bisa jadi tidak percaya untuk menggunakan QRIS. Namun, pada akhirnya, QRIS harus mencoba melewati batas agar kita bisa berkembang dan mempercepat digitalisasi transaksi keuangan yang pada akhirnya akan memacu percepatan ekonomi Indonesia dengan kebijakan yang tepat.

Advertisement

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Perempuan Bangsa DIY Tolak Politik Uang dan SARA di Pemilu 2024

Bantul
| Rabu, 07 Desember 2022, 03:27 WIB

Advertisement

alt

Kabar Gembira! Tiket Tambahan Konser Westlife di Jakarta Tahun Depan Sudah Tersedia

Hiburan
| Selasa, 06 Desember 2022, 14:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement