Advertisement

OPINI: Green Leadership untuk Keberlanjutan

Agatha Mayasari, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Kamis, 05 Januari 2023 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Green Leadership untuk Keberlanjutan Agatha Mayasari, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Advertisement

 Pada penghujung 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memberikan penghargaan Green Leadership Utama serta Green Leadership Inspiratif kepada lima direktur perusahaan, yaitu PT Sido Muncul, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, PT Pertamina, PT Kalbe Farma, dan PT Golden Energy Mines.

Penghargaan diberikan kepada Direktur perusahaan yang memiliki kepemimpinan berwawasan lingkungan yang adil secara sosial dan adil secara ekologis.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Artinya, kegiatan usaha dari perusahaan memberikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungan untuk mendorong perusahaan meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan yang berkembang dan berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk mengurai masalah lingkungan yang telah menjadi isu penting di seluruh dunia.

Keberlanjutan (sustainability) diharapkan menjadi tren yang digandrungi oleh dunia usaha dan dunia industri. Keberlanjutan sering dikaitkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Namun, hal tersebut adalah berbeda.

Istilah keberlanjutan mengacu pada memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Keberlanjutan tidak hanya terkait tentang produk hijau atau “menjadi hijau” —daur ulang, pemanasan global, dan menyelamatkan hutan.

Namun lebih dari itu, keberlanjutan adalah tentang karyawan, pelanggan, komunitas, dan reputasi perusahaan. Salah satu konsep keberlanjutan yang dikenal umum dalam membantu pemimpin perusahan mempertimbangkan keputusan keberlanjutan adalah triple bottom line. Konsep triple bottom line fokus pada tiga dimensi yaitu people, planet, dan profit. Triple bottom line adalah konsep bisnis yang mengandaikan perusahaan harus berkomitmen untuk mengukur dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan usaha perusahaan, selain mengukur kinerja keuangan yang hanya berfokus pada menghasilkan laba saja.

Pada era saat ini, keberlanjutan menjadi isu penting bagi perusahan dalam  menentukan strategi pertumbuhan bisnis yang terintegrasi. Upaya untuk menjadikan keberlanjutan sebagai strategi dibutuhkan pemimpin perusahaan yang memiliki kepemimpinan berwawasan lingkungan, yaitu green leadership.

Menurut Martin et al (2020) dan Meule (2019), green leadership adalah kemampuan dari seorang pemimpin dalam memengaruhi orang dan menggerakkan organisasi untuk menentukan kebijakan dan mewujudkan visi keberlanjutan yang pro-lingkungan dalam jangka panjang.

Kemampuan kepemimpinan hijau ini akan mendorong adanya eco-strategy yang sangat diperlukan dalam menjalankan perusahaan supaya tidak hanya sebatas pada pencapaian efisiensi tetapi eco-efficiency.

Kita tahu bahwa dunia usaha dan dunia industri sangat kompleks, tujuan bisnis terus berkembang. Para pemimpin dan profesional tidak hanya fokus pada tanggung jawab ekonomi perusahaan tetapi juga harus menghargai tanggung jawab etis, filantropis, dan lingkungan.

Green leadership dapat menginspirasi karyawan untuk mempraktikkan perilaku hijau saat melaksanakan tugas dan terlibat dalam perilaku hijau untuk memajukan pembangunan berkelanjutan. Pemimpin hijau mempromosikan kepercayaan dan sikap hijau dengan memodelkan perilaku pro-lingkungan dan mengomunikasikan standar cita-cita keberlanjutan kepada karyawannya. Pemimpin hijau sebagai role model memberikan contoh dalam bertindak pro-sosial dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Kepemimpinan hijau secara lebih spesifik sebagai kemampuan kepemimpinan karismatik individu untuk mengubah dan membujuk orang lain untuk terlibat dalam tindakan pro-lingkungan.

Pemimpin dengan green leadership menjadikan seorang individu memiliki keterampilan yang sangat penting dalam membantu perusahaan mempercepat dan memperluas pemahaman tentang masalah bisnis nyata yang terkait dengan keberlanjutan.

Namun sayangnya, dalam penelitian Constantinus et al. (2022) menyebutkan bahwa masih sangat sulit menerapkan green leadership, kemungkinan yang terjadi adalah karena belum adanya peraturan yang jelas tentang penerapan green leadership.

Belum adanya peraturan yang jelas di perusahaan, membuat pemimpin merasa tidak nyaman untuk menerapkannya. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya disonansi kognitif, yaitu ketika seseorang sangat peduli tentang masalah lingkungan, namun mereka masih menghadapi hambatan untuk bertindak.

 

Keterampilan Dasar

Dengan adanya satu dari sekian banyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan green leadership untuk keberlanjutan, individu perlu memiliki keterampilan dasar untuk berkontribusi pada praktik keberlanjutan di organisasi, yaitu pertama, pengetahun dasar, seorang pemimpin wajib memiliki pengetahun dasar tentang praktik pro-lingkungan, mempelajari ilmu lingkungan dan perubahan iklim, serta mempelajari bagaimana bisnis yang dijalankan berpengaruh pada setiap aspek lingkungan.

Kedua, kepemimpinan yang kuat, sebagai pemimpin hijau harus menjadi role model untuk memberikan contoh dan memengaruhi anggota organisasi. Ketiga, kemampuan mengidentifikasi peluang bisnis, praktik bisnis yang dilakukan memberikan kontribusi positif pada keberlanjutan. Keempat, berpikir ke depan, strategi bisnis yang akan dibuat harus berdasarkan komitmen terhadap keberlanjutan untuk jangka panjang. Kelima, pemecahan masalah secara kreatif, pemimpin menemukan jawaban dan mengembangkan solusi kreatif serta ide-ide inovatif untuk menjawab tantangan baru dan kompleks dari praktik berkelanjutan.

Keenam, menghitung nilai potensial, pemimpin lengkap mengimplementasikan konsep triple bottom line. Menghitung return on investment (ROI) untuk proyek yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat, dan informasi tersebut digunakan untuk menyatakan bahwa keberlanjutan dapat menjadi keputusan yang bijak dan menguntungkan.

Ketujuh, kemampuan basic data, pemimpin mampu mengumpulkan dan menganalisis data untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan strategi berkelanjutan. Kedelapan, komunikasi efektif, pemimpin mampu mengomunikasikan komitmen dalam menjalankan strategi bisnis berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Dua Varietas Baru Durian Diperkenalkan di Embung Tonogoro

Kulonprogo
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:47 WIB

Advertisement

alt

Lirik 'Angin' Dewa 19, Lagu Pembuka Konser di JIS

Hiburan
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement