Advertisement

OPINI: Melihat Era Baru Perekonomian Global

Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen FEB Unhas, Komisaris Utama PTPN IX
Jum'at, 06 Januari 2023 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Melihat Era Baru Perekonomian Global Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles di Washington, D.C., AS, Mingg (10/4/2022). Bloomberg - Tom Brenner

Advertisement

Perekonomian global memasuki era baru. Era rezim suku bunga tinggi dan kelangkaan modal. Likuiditas global menurun, investor menyesuaikan kepemilikan asetnya (rebalancing portofolio chanel), mengalihkannya ke aset keuangan AS.

Majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di Inggris, The Economist, edisi 10—16 Desember 2022, menurunkan tulisan berjudul “The New Rules”. Tulisan tersebut dimulai dengan kalimat provokatif “welcome to the end of cheap money.” Likuiditas perbankan Emerging Market Economies (EMEs) menyusut. Likuiditas perbankan Indonesia tertinggi pada Januari 2022, sekitar Rp1.021,181 triliun menjadi Rp575,242 triliun pada September 2022. Suku bunga acuan The Fed, Federal Fund Rate (FFR) naik agresif karena tingginya inflasi AS. FFR naik dari 0,25%—0,50% pada Januari 2022 menjadi 4,25%—4,50% pada 14 Desember 2022.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Tingkat inflasi AS dan Zona Euro (ZE) masih tinggi. Hal ini memberikan sinyal bahwa bank sentral AS, The Fed dan European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga hingga inflasi mendekati 2%, sesuai target kedua bank sentral. The Fed diperkirakan menaikkan FFR menjadi 4,75%—5,0% awal 2023. Sementara suku bunga ECB naik dari 0,5% pada Juli 2022 menjadi 2,5% pada 14 Desember 2022. Suku bunga ECB diperkirakan naik menjadi 3% awal tahun 2023.

Tekanan Resesi

Perekonomian global memasuki resesi akibat pandemi Covid-19 tahun 2020. Resesi dimulai pada kuartal kedua. Pertumbuhan ekonomi tiga perekonomian terbesar dunia, AS, China, dan ZE negatif selama dua kuartal berturut-turut. Negara maju dan EMEs secara bersamaan mengambil kebijakan kontra siklus pada masa pandemi Covid-19. Kebijakan suku bunga rendah, stimulus fiskal sangat besar, lebih dari US$4 triliun, setara 20% GDP global tahun 2020.

Perekonomian global segera keluar dari resesi pada kuartal ketiga 2020. Setelahnya inflasi naik sangat ekstrem di negara maju. Inflasi AS mencapai titik tertinggi dalam 40 tahun terakhir, 9,1% Juni 2022 dan ZE 10,6% Oktober 2022. Inflasi AS bersifat persisten. Pemicunya, gangguan rantai pasok akibat pandemi Covid-19, pergeseran konsumsi dari jasa ke barang, kebijakan moneter longgar, stimulus fiskal, shortage pasar tenaga kerja, tekanan harga makanan dan energi akibat perang Ukraina.

Inflasi tinggi membuat kebijakan moneter dan fiskal berubah dari longgar menjadi ketat. The Fed dan ECB menaikkan suku bunga acuan dengan sangat agresif. Setiap negara bersamaan mengurangi stimulus fiskal secara drastis. Kebijakan moneter dan fiskal ketat menjadi ancaman baru perekonomian global. Secara teknis, perekonomian AS kembali memasuki resesi pada kuartal kedua 2022. Pertumbuhan ekonomi AS dua kuartal awal, tahun 2022, secara berturut-turut negatif 1,6% dan 0,6%.

Perekonomian ZE diperkirakan memasuki resesi pada kuartal pertama 2023. Pertumbuhan ekonomi ZE positif 0,8% kuartal kedua, menjadi 0,3% kuartal ketiga, dan diperkirakan negatif 0,4% kuartal keempat 2022.

Resesi adalah pertumbuhan negatif Gross Domestic Product (GDP) selama dua kuartal berturut-turut. Sejarah resesi global dimulai dari pertumbuhan negatif tiga perekonomian utama dunia, AS berkontribusi 25%, China 18%, dan ZE 13% terhadap GDP global.Turbulensi ekonomi global berkurang, tekanan resesi menurun pada kuartal ketiga 2022. Pertumbuhan ekonomi AS dan China negatif pada kuartal kedua, kemudian positif pada kuartal ketiga 2022. Namun, ZE diperkirakan tumbuh negatif pada kuartal keempat 2022.

ERA BARU

Kekurangan likuiditas, inflasi dan suku bunga tinggi menjadi tantangan baru perekonomian global ke depan. Korporasi dan individu berinvestasi dalam rezim suku bunga tinggi dan kelangkaan modal (The Economist).

Rezim suku bunga tinggi membuat harga saham turun drastis. Indeks harga saham, The S&P 500 index, indeks utama AS menurun 25%. Nilai pasar saham AS menyusut sebesar US$10 triliun hingga saat ini. The Fed, merespons inflasi tinggi dengan menaikkan FFR. Kenaikan FFR menurunkan permintaan kredit. Pinjaman korporasi dan individu menurun. Biaya operasional perusahaan, ekspansi dan akuisisi terbatas.

Rezim suku bunga tinggi menyebabkan aktivitas ekonomi melambat. Profitabilitas perusahaan menyusut. Potensi earning perusahaan makin mengecil. Harga saham (stock prices) menurun. Sejalan dengan The Economist, era baru perekonomian global memerlukan aturan baru yang ditandai oleh: Pertama, meningkatnya ekspektasi return. Kenaikan suku bunga acuan (policy rate) menyebabkan harga aset turun, dan ekspektasi yield surat berharga meningkat.

Kedua, rezim suku bunga tinggi membuat investor berorientasi jangka pendek. Investor tidak sabar menghadapi penurunan nilai sekarang dari pendapatannya yang akan datang. Ketiga, perubahan strategi investasi, switching dari public market ke private market.

Singkatnya, pilihan kebijakan bagi Bank Indonesia (BI), ikut menaikkan suku bunga acuan. Targetnya, menekan inflasi, mengurangi capital outflow, mempertahankan likuiditas perekonomian, dan menjaga kestabilan nilai rupiah. Meskipun pengorbanannya, biaya dana meningkat yang memberatkan konsumen dan pelaku usaha.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Kompensasi Belum Beres, Menara Telekomunikasi Disegel Warga

Sleman
| Minggu, 05 Februari 2023, 18:27 WIB

Advertisement

alt

Lirik 'Angin' Dewa 19, Lagu Pembuka Konser di JIS

Hiburan
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement