Advertisement

HIKMAH RAMADAN: Dakwah, Generasi Muda dan Sepakbola

Filosa Gita Sukmono
Kamis, 13 April 2023 - 06:17 WIB
Bhekti Suryani
HIKMAH RAMADAN: Dakwah, Generasi Muda dan Sepakbola Filosa Gita Sukmono - Dok. Pribadi

Advertisement

Tulisan ini diawali dari seringnya mendengar banyak penceramah di beberapa majelis yang curhat tentang hilangnya generasi muda di masjid maupun musala, bahkan kemudian banyak guyonan yang hadir dari para penceramah bahwa banyak orang tua gadis yang sulit menemukan calon menantu di masjid ataupun musala karena peserta pengajian ataupun jemaah mayoritas adalah orang-orang tua.

Fenomena ini menjadi menarik, tetapi coba kita dekati dalam perspektif yang berbeda, salah satunya adalah menjadikan olahraga sebagai dakwah baru untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada generasi muda. Artinya dakwah maupun pesan-pesan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui pengajian-pengajian di masjid tetapi agar sampai ke generasi muda maka dakwah yang kita dorong mendekat kepada sesuatu yang disukai sekaligus dijalani oleh generasi muda.

Advertisement

Olahraga adalah salah satu pilihan tepat terutama olahraga sepak bola. Mengapa sepak bola karena menurut data yang diambil dari website katadata terdapat hasil riset dari Alvara Research Center sekitar 3-4 tahun lalu yang menunjukkan bahwa mayoritas generasi milenial (penduduk usia 20-35 tahun) gemar sepak bola atau futsal. Melibatkan 1.200 responden, sebanyak 72,9% mengaku menyukai kegiatan olahraga, jumlah tersebut, 44,5% di antaranya memilih sepak bola sebagai cabang olahraga favorit mereka.

Kemudian kondisi tersebut tidak berbeda jauh dengan Generasi Z atau anak-anak yang lahir antara 1995-2014. Sepakbola juga merupakan olahraga favorit Gen Z, yakni mencapai 50,7%, diikuti dengan cabang olahraga badminton, berlari, berenang, dan basket masing-masing sekitar 13,4%.

Kemudian yang membedakan kedua generasi tersebut adalah kesukaan Gen Z terhadap sepak bola lebih tinggi dari milenial. Sementara olahraga seperti jalan santai dan tenis meja sudah sepi peminat dari kedua generasi tersebut.

Data-data tersebut pastinya terus berkembang sampai hari ini, meskipun Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 di tahun 2023 tetapi semakin banyaknya pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri. Hal ini belum ditambah banyaknya pemain muslim yang menjadi pesepak bola sukses di Eropa atau negara-negara Islam yang perkembangan sepak bolanya mencuri perhatian dunia seperti Maroko, Arab Saudi, Turki dan lain-lain.

Dakwah melalui olahraga sepak bola ini bisa berjalan dengan dua cara, pertama, secara spontan kedua dirancang atau direncanakan. Secara spontan bisa kita lihat dari kebiasaan dan gaya hidup para pemain muslim baik Indonesia maupun luar negeri seperti kebiasaan tetap puasa meskipun menghadapi pertandingan yang kompetitif, minum dengan duduk ketika pertandingan berjalan, sujud syukur ketika berhasil mencetak gol sampai kebiasaan berbagi atau bersedekah yang dilakukan kebanyakan pemain muslim sukses di tengah kehidupan glamor pemain sepak bola lainya.

Kemudian cara kedua yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang sudah dirancang atau direncanakan. Salah satu yang bisa dibuat adalah banyak menghasilkan tulisan populer maupun berita yang diselipkan pesan-pesan keagamaan. Cara kedua ini bisa dilakukan oleh penulis-penulis muslim yang banyak menghasilkan tulisan olahraga di mana di dalam tulisanya secara tersirat dan tersurat bisa menyampaikan dakwah yang bisa memengaruhi pembaca khususnya generasi muda.

Filosa Gita Sukmono

Dosen Ilmu Komunikasi UMY dan Anggota Lembaga Pengembangan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

BMKG: Sebagian Besar Kota Besar Diprediksi Hujan, Termasuk Jogja

Jogja
| Sabtu, 25 Mei 2024, 09:07 WIB

Advertisement

alt

Lagu Rohani Kristen When I Pray For You, Doa Ayah untuk Calon Anaknya

Hiburan
| Jum'at, 24 Mei 2024, 21:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement