Advertisement

Rantai Pasok Bahan Makanan Pokok, Upaya Optimasi dalam Menjaga Ketahanan Pangan Kulonprogo

Iwan Aminto Ardi, S.T., M.Sc, Ridayati, S.Si, M. Sc (Tim Peneliti ITNY)
Rabu, 21 Februari 2024 - 16:47 WIB
Arief Junianto
Rantai Pasok Bahan Makanan Pokok, Upaya Optimasi dalam Menjaga Ketahanan Pangan Kulonprogo Tim Peneliti ITNY, Ridayati, S.Si, M. Sc (kiri) dan Iwan Aminto Ardi, S.T., M.Sc,

Advertisement

Pertumbuhan dan perkembangan penduduk di Kabupaten Kulonprogo pada beberapa tahun terakhir meningkat cukup pesat. Jumlah penduduk bertambah tidak hanya secara alami tetapi juga disebabkan oleh adanya migrasi masuk ke wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Peningkatan jumlah penduduk membawa konsekuensi terhadap peningkatan kebutuhan bahan pokok untuk menunjang kehidupan mereka. Sementara, apabila dilihat dari kondisi produktivitas bahan pokok berupa beras, Kabupaten Kulonprogo berada pada posisi terendah, meskipun pada 2020-2021 mengalami kenaikan.

Advertisement

Kondisi yang tidak konsisten seringkali memerlukan intervensi berupa penambahan persediaan bahan pokok melalui pasokan dari wilayah lain. Pertanyaannya adalah sejauh mana rantai pasok sudah mencapai optimal untuk mendukung kebijakan tersebut.

Jika dilihat di dalam Kabupaten Kulonprogo, jumlah dan kepadatan penduduk dalam kurun waktu 20 tahun (1980-2020) mengalami penurunan antara tahun 1980-2000.

Peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk terjadi pada tahun 2010-2020. Berdasarkan data diketahui bahwa peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk yang sangat signifikan terjadi antara tahun 2010-2020. Jumlah penduduk meningkat hingga 19,30%, sedangkan kepadatan penduduk meningkat hingga 14,73%.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2021) diketahui bahwa pada caturwulan ke-4 jumlah produksi beras di Kabupaten Kulonprogo berada pada posisi terendah di antara empat kabupaten yang ada di DIY, dengan hasil produksi 53.149 ton.

Posisi Kulonprogo masih di bawah Gunungkidul (112.128 ton), Bantul (80.627 ton), dan Sleman (70.202 ton), bahkan pada Oktober dan November produksi beras di Kulonprogo tidak ada.

Meskipun hasil produksi 2021 meningkat dibandingkan 2020, tetapi belum dapat dijamin konsistensinya di masa yang akan datang.

Hal ini tentunya menjadi perhatian khusus terkait ketahanan pangan khususnya ketersediaan bahan pokok beras di Kabupaten Kulonprogo. Apabila terjadi kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan, maka akan mendatangkan beras dari daerah lain, dengan konsekuensi adanya tambahan variabel biaya transporatsi dari wilayah penyedia ke Kulonprogo.

Merujuk pada hasil riset tentang Model Optimasi Rantai Pasok Bahan Kebutuhan Pokok di Kabupaten Kulonprogo yang didanai oleh anggaran program kerja LPPMI Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), dapat disimpulkan bahwa rantai pasok yang optimal sangat tergantung dari bagaimana ketersediaan dan keterandalan jaringan yang menghubungkan antara pusat distribusi sebagai daerah asal dan wilayah penerima sebagai daerah tujuan.

BACA JUGA: Pertumbuhan Penduduk Jogja Terkendali, Jumlah Anak Menurun

Proses distribusi bahan pokok seringkali tidak berupa asal dan tujuan tunggal, tetapi terdapat beberapa asal dan tujuan sekaligus. Jalur transportasi yang mendukung proses distribusi memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sesuai dengan ketersediaan dan kondisi elemen transportasi, seperti jaringan jalan, kendaraan sebagai alat angkut, fasilitas pendukung berupa stasiun pengisian bahan bakar, kompetensi personal, dan regulasi yang mendukung dan menjamin proses distribusi berjalan lancar.

Selain sistem jaringan yang baik, optimasi distribusi bahan makanan pokok juga sangat diperlukan, mengingat biaya transportasi angkutan barang antarwilayah setiap satuan unit barang berbeda pada setiap kondisi wilayah.

Jarak dan waktu tempuh menjadi salah satu perhitungan dalam memperkirakan biaya transportasi. Efisiensi menjadi tujuan utama dari upaya optimasi distribusi bahan makanan pokok. Posisi Kulonprogo cukup strategis apabila ditinjau dari posisi terhadap pemasok bahan pokok, sehingga keberlanjutan distribusi di masa yang akan datang diperkirakan dapat berjalan dengan baik untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

40.000 Lebih Kendaraan Keluar DIY lewat Prambanan

Sleman
| Sabtu, 13 April 2024, 22:17 WIB

Advertisement

alt

Westlife Bakal Konser Eksklusif di Indonesia, Rencana Digelar di Candi Prambanan

Hiburan
| Jum'at, 12 April 2024, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement