Advertisement

OPINI: Belajar dari Kasus Tudingan Depresi Bocah 13 Tahun

Ratna Yunita Setiyani Subardjo
Senin, 20 Mei 2024 - 06:07 WIB
Bhekti Suryani
OPINI: Belajar dari Kasus Tudingan Depresi Bocah 13 Tahun Ratna Yunita Setiyani Subardjo - Dok. Pribadi

Advertisement

Media sosial sedang gempar membahas soal siswa kelas 6 SD yang mengalami depresi seusai handphone (HP) miliknya dijual oleh orang tuanya. Kasus itu dialami ARD (13) yang tinggal di Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat. Diduga, pemicunya lantaran sang ibu menjual HP miliknya karena desakan ekonomi. Namun berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Sang Ibu, Ibu menjual HP tanpa sepengetahuan anak.

Apa yang terjadi dari kasus ini menarik untuk dikupas dari sisi psikologi, baik sisi anak maupun orang tua. Masih banyak orang tua yang merasa bahwa segala milik anak menjadi hak orang tua tanpa memperhatikan hak anak dan bagaimana secara lebih jauh perasaan anak. Namun kejamnya, anak langsung dilabeli depresi tanpa diagnosa pasti dari profesional. Apakah ini benar? Bukankah anak juga harusnya mendapatkan hak yang sama untuk status mentalnya? Jika anak dilabeli depresi dan justru mnejadi bahan bully lingkungan, siapakah yang mau bertanggung jawab? Mari kita kupas detil dari sudut padang psikologi.

Advertisement

Definisi depresi sendiri merupakan gangguan suasana hati yang cenderung bersifat sedih secara berkepanjangan dengan gejala seperti kehilangan minat atau demotivasi dengan kondisi fisik yang tidak mendukung seperti merasa mudah lelah. Dan yang wajib diingat, depresi itu sendiri bertingkat, mulai dari low, medium, hingga severe atau dari tingkat rendah, sedang, hingga tinggi. Selain merasakan kesedihan secara berkepanjangan lebih dari dua minggu, gejala lainnya adalah adanya perasaan ingin menarik diri, dan kondisi fisik terasa mudah lelah.

Jika dilihat dari sisi A, jika memang benar kondisinya merupakan depresi, maka kita mesti jeli dan teliti untuk melihat apakah gejala-gejala tadi muncul secara regularly atau hanya dilihat saat setelah kejadian HP dijual. Pertama, harus terlebih dahulu melihat track record untuk bisa menemukan beberapa faktor. Karena depresi itu sendiri muncul bukan hanya dikarenakan satu faktor melainkan beberapa faktor.

Jadi jangan hanya mengandalkan satu keterangan setelah kejadian lantas kita menyimpulkan sesuatu secara tiba-tiba, yang kemudian kita yakini sebagai depresi. Melihat kasus A ini, seharusnya dilakukan pendalaman dengan cara menarik mundur untuk mencari track record-nya, karena depresi tidak hanya terjadi pada satu faktor melainkan faktor-faktor lainnya juga. Sedangkan pada kasus yang dialami oleh A ini tidak bisa dikatakan oleh satu faktor seusai sang ibu menjual ponsel milik A dari uang yang ditabungnya saja. Jadi perlu dicari tahu penyebab lainnya. Bukan justru meyudutkan anak dengan anggapan depresi tanpa lebih jauh kita dalami.

Nah sekarang mari kita lihat dari sisi Ibu. Dalam hal apapun seharusnya akan lebih baik jika Ibu mengomunikasikan terlebih dahulu niatan untuk menjual HP. Mengajak berdiskusi adalah bagian dari pengasuhan demokratis. Anak juga memiliki hak yang sama dalam berbicara dan menentukan pendapatnya sendiri. Namun, jika mendalami kasus ini, dimana ayah dari anak tersebut sempat tidak memberikan nafkah selama delapan bulan yang tentunya berdampak pada kondisi keluarga yang tidak sehat, hal ini juga berdampak pada psikologis ibu dari A, yang mengharuskan memenuhi kebutuhan dari anak-anaknya selama delapan bulan karena tidak dinafkahi oleh suaminya. Hal inilah yang memperberat kondisi, di mana akhirnya rentetan peristiwa dari akar masalah sang ayah yang tidak memberi nafah, menyebabkan Ibu menjadi depresi, dan melampiaskan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, yang berdampak pada psikologis anak dalam kondisi mudah marah, mengamuk dan melakukan beberapa tindakan agresif baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Delapan bulan tidak dinafkahi, bagi sang Ibu adalah waktu yang tidak sebentar. Sehingga selama fase waktu tersebut dapat menimbulkan emosi negatif pada sang ibu yang berimbas pada anak-anaknya dan terjadi secara berulang-ulang hingga memunculkan perilaku yang merugikan bukan hanya fisik tapi juga mental anak. Hingga klimaksnya pada saat ibu menjual HP milik A dari hasil menabung selama beberapa bulan. Terlebih lagi juga HP itu merupakan benda yang diharapkan oleh A sampai rela menabung untuk bisa mendapatkannya dengan segala usaha terbaiknya, harus merelakan lenyap begitu saja.

Faktor Depresi
Secara umum, ada beberapa faktor depresi mulai dari faktor genetik, faktor peristiwa dan faktor lingkungan. Keluarga sebagai support system terbesar menjadi bagian penting dari bermulanya depresi jika memang keluarga justru memberikan pengasuhan yang tidak berkualitas. Ketika salah satu dari keluarga memiliki kesehatan mental yang kurang baik maka akan menurun pada keturunan selanjutnya. Kalau untuk faktor peristiwa biasanya dari rasa traumatis yang tidak menyenangkan pada masa lalu. Terakhir faktor lingkungan yang biasanya dari keluarga sebagai lingkungan terdekat, ketika lingkungan keluarga tidak sehat tentu ini bisa menjadi penyebab salah satu faktor seseorang mengalami depresi.

Diketahui bocah A yang kini berusia 13 tahun ini ada dalam fase peralihan dari anak-anak menuju masa remaja. Dari beberapa teori menjelaskan pada fase ini merupakan fase anak memerlukan dukungan besar karena ini masuk pada fase self center dan support mode on. Harusnya dalam fase ini anak bisa mendapatkan lingkungan sosial yang support maka akan sangat semangat dan berenergi untuk mendapatkan sesuatu yang disukai. Namun ketika berada dalam lingkungan yang tidak support maka anak akan merasakan kegagalan atau rendah diri.

Jika melihat dari kasus ini A, A sempat mengalami fase ketekunan dimana rela menabung untuk bisa mendapatkan ponsel. Saat harapannya tercapai maka muncul rasa kebanggaan dan ponsel menjadi sesuatu yang berharga baginya. Akan tetapi, secara tiba-tiba tanpa diinginkannya ponsel tersebut harus dijual bukan atas dasar keinginan dirinya sendiri. Maka saat itu juga timbul perasaan kecewa, marah dan memberontak karena merasa lingkungan keluarga tidak support. Di saat itulah ia merasa bahwa keluarga bukan menjadi support system dirinya namun justru menjadi pemicu masalah psikologis yang berakibat pada perilaku agresif dan emosional yang tak mampu ia tanggung sendiri. Dan ini jika dibiarkan akan mengakibatkan munculnya depresi seperti yang dituduhkan dan dikhawatirkan. Kondisi A bisa normal kembali, hanya saja membutuhkan waktu yang cukup lama sembari mendapatkan pengawasan dari tenaga profesional dengan dukungan suasana lingkungan keluarga yang positif.

Ratna Yunita Setiyani Subardjo
Psikolog dan Dosen Psikologi Unisa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Bawaslu Bantul Ingatkan Potensi Hoaks di Pilkada 2024 Mendatang

Bantul
| Senin, 24 Juni 2024, 05:37 WIB

Advertisement

alt

Jadwal Konser Musik dan Event di Jogja, 22-30 Juni, Ada Iwan Fals, Shaggydog, Maliq D' Essentials hingga Festival Tradisional

Hiburan
| Jum'at, 21 Juni 2024, 19:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement