OPINI: Pudarnya Sikap Saling Menghormati

Gambar ilustrasi - Hengki Irawan
23 April 2019 07:02 WIB Sumbo Tinarbuko* Aspirasi Share :

Pelajaran untuk saling menghormati selalu didengungkan oleh siapa pun yang memiliki nurani menghargai keberadaan harkat dan martabat seorang manusia. Sikap saling menghormati dipahami sebagai sebuah perbuatan yang mencerminkan rasa menghargai terhadap seseorang atau sekelompok orang.

Pada tahun politik ini, sikap saling menghormati mulai pudar. Indikatornya terlihat manakala manusia diselimuti sifat ambisius membara. Mereka berkejaran untuk mendapatkan kursi kekuasaan sebagai pejabat publik. Lewat medsos segala cara ditempuh. Mereka bersekutu saling menghujat. Melalui sebaris tagar, mereka membunuh lawannya. Ujaran kebencian, berita bohong dan diksi nyinyirisme menjadi kemasan jahat untuk menelikung lawan.

Mereka juga memelintir fakta menjadi opini demi mendapatkan dukungan masyarakat. Tujuannya satu. Mendapatkan jabatan publik yang diinginkannya. Seluruh catatan peristiwa pudarnya sikap saling menghormati dapat dilihat pada jejak digital pilpres dan pileg.

Mereka juga mengedepankan sikap egoisme pribadi dan kelompok dalam bentuk perilaku intoleransi dan diskriminatif. Kasus Slamet Jumiarto, seorang pelukis dan beragama Katolik di Pleret Bantul, menjadi representasi pudarnya sikap saling menghormati kepada sang liyan.

Seperti diwartakan Harianjogja.com (4 April 2019), meski akhirnya Slamet Jumiarto dibolehkan menempati rumah kontrakannya di Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul. Tapi sebelumnya ia sempat ditolak karena ada peraturan desa yang bersifat diskriminatif. “Syukurlah masalah ini sudah selesai. Sudah klir. Kepala Dusun Karet, Ketua Pokgiat Masyarakat Karet, Pak Lurah, Pak Camat, dan masyarakat sudah menawarkan kami sekeluarga tinggal di sini,” terang Slamet seperti dikutip Harian Jogja (4 April 2019).

 Realitas Semu

Pada tahun politik ini, naluri sosial saling menghormati secara tulus ditengarai mulai dilupakan oleh manusia yang terjebak pada sindrom ambisius, intoleransi dan diskriminatif.

Hal ini semakin tampak di pelupuk mata ketika sekelompok manusia rela dikondisikan untuk lebih menghargai realitas semu yang didedahkan tayangan televisi dan pergerakan linimasa medsos.

Mereka disihir mengadopsi gaya berpikir, gaya hidup serta gaya bicara yang diajarkan budaya layar: internet, televisi dan medsos.  Kekerasan simbolik secara masif dikumandangkan melalui budaya layar. Mereka didaulat menghargai kehidupan instan dengan memutus rantai proses kehidupan.

Ideologi semacam ini bertentangan dengan proses hidup dan kehidupan yang sudah diguratkan dalam garis tangan setiap manusia. Penampakan visual semacam itu sejatinya representasi proses pendewasaan manusia.

Masalahnya, apa kata Ibu Pertiwi ketika sekelompok manusia lebih memercayai realitas semu yang diternakkan budaya layar. Sebab, realitas semu diyakini sebagai realitas maya bersifat fiktif. Keberadaanya merupakan tatanan perikehidupan semu yang tidak menanamkan budi pekerti dalam payung kearifan lokal.

Realitas semu ditahbiskan oleh budaya layar sebagai sebuah habitus semu yang tidak menempatkan sikap hormat menghormati sebagai pilar utama hidup bermasyarakat. Rupa wujudnya, antara lain: kekerasan verbal dan kekerasan visual. Pada era post truth, kekerasan simbolik berikut turunannya pelan namun pasti akan membentuk jati diri baru manusia Indonesia. Ketika hal itu tidak segera diantisipasi, maka efek dominonya dikhawatirkan akan tumbuh budaya kekerasan simbolik.

 Hidup Bersahaja

Pendeknya, sikap hidup saling memuja seperti dipolakan dalam kehidupan realitas semu di jagat budaya layar, sejatinya senantiasa bermuara pada kehendak kuasa uang.

Kuasa kapital dalam konteks budaya visual menjadi representasi pemenuhan hasrat manusia, yakni hasrat purba mendapatkan sanjungan atas apa pun aktivitas yang mereka jalankan. Kuasa uang juga menjadi penanda visual seseorang dihormati secara artifisial.

Masalahnya kemudian, apakah seseorang akan dihormati oleh orang lain manakala ia mampu menunjukkan penampakan visual sebagai orang kaya? Jika hal itu menjadi persyaratan mutlak dalam hidup dan kehidupan patembayatan sosial, maka dengan segala cara, diperbolehkan melakukan perburuan harta benda, pangkat dan derajat. Hanya agar seseorang mendapat hormat.

Dengan demikian kehormatan seseorang senantiasa ditakar dengan seberapa banyak uang yang dimilikinya. Artinya, uang menjadi penanda kasta sosial seseorang di tengah gejolak zaman yang semakin anomali ini.

Benarkah demikian? Yang jelas, lewat ajakan saling menghormati dan menerima apa adanya, menghargai kebinekaan yang bersemayam di dalam hati dan pikiran  manusia. Pada titik itu, kualitas kemanusiaan dari manusia itu sendiri akan muncul. Artinya, kualitas kemanusiaan manusia dari waktu ke waktu semakin terasah kepekaannya.

Hal itu diyakini mampu mendengarkan pesan suci yang menyembul lembut dari hati nurani. Sebuah pesan suci yang menuntun nalar rasa dan nalar pikir kita untuk senantiasa mewartakan cinta kasih dan mengamalkan rasa kasih sayang kepada seluruh manusia. Namun, semuanya itu akan terwujud sepanjang kita rela hati memilih hidup bersahaja dalam dimensi horizontal maupun vertikal. Bukan mendewakan kapital demi kemuliaan artifisial.

*) Penulis adalah Pemerhati Budaya Visual dan Komunikasi Publik, Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta.