OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa

Ilustrasi kerja sama. - Bisnis.com
25 Juni 2019 16:48 WIB Bima Himawan Aspirasi Share :

“Tidak ada bangsa menjadi bangsa yang besar, yang rakyatnya adalah kecil dan sempit dalam hati dan tindakan.” (Bung Karno)

Pesan Bung Karno berpuluh tahun yang lalu, masih terasa menohok diri kita. Pemikiran yang picik dan sempit akan menghasilkan tindakan mau menang sendiri serta menjadikan kita sebagai bangsa yang kerdil. Mari kita tengok beberapa peristiwa akhir-akhir ini yang mengancam persatuan bangsa. Pesta demokrasi yang semestinya menjadi wadah penyaluran aspirasi rakyat dengan penuh kegembiraan berubah menjadi ajang perseteruan yang berpotensi perpecahan. Kelompok elit politik merancang strategi sedemikian rupa, seringkali tanpa etika, menggiring opini masyarakat ke arah yang dimauinya, bahkan membenturkan satu kelompok dengan lainnya. Belum lagi berbagai berita bohong yang memang sengaja diproduksi secara sistematis, hanya untuk mendiskreditkan lawan politik ataupun menaikkan citranya sendiri. Peran teknologi yang semestinya menjadi alat bantu untuk memudahkan aktivitas manusia, diselewengkan menjadi sarana pencetak dan penggulung hoaks yang ampuh.

Luka itu masih menganga, meski pesta itu telah usai. Masih tersisa rasa sakit, benci dan dendam. Tensi ketegangan di elit politik agak menurun dengan momentum Idulfitri dan berpulangnya Ibu Negara keenam, bahkan sudah ada tanda-tanda mulai move on. Namun bara di akar rumput belumlah padam. Memang tidak mudah memperbaiki lubang di dinding walaupun paku yang menancap sudah dicabut. Siapa yang dapat memperbaikinya? Apakah kita hanya menunggu bagaimana arah dan pesan dari calon pemimpin yang kita usung? Mari kita renungkan dalam-dalam. Apa yang sesungguhnya kita dapatkan dari peristiwa ini? Akankah kita mempertaruhkan ikatan persaudaraan, pertemanan bahkan ikatan keluarga hanya karena perbedaan pilihan politik dan ego kita sendiri? Ke manakah semangat toleransi, tepa selira serta gotong royong yang selama ini menjadi modal bangsa Indonesia?

 

Esensi Kehidupan

Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Hanya dengan ruh, yang ditiupkan saat usia janin 120 hari, membuat diri manusia menjadi hidup. Dari mana kita berasal, sedang apa kita saat ini dan ke mana kita akan pergi, menjadi pertanyaan instrospektif bagi mereka yang mulai memiliki kesadaran dan dapat menjadi titik tolak untuk terus berproses mencari jati dirinya.

Ruh yang berasal dari Sang Maha Pencipta, tentu berharap agar dapat kembali pulang dengan selamat kepadaNya. Lantas pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya? Apakah yang kita kerjakan saat ini berkorelasi positif dengan tujuan akhir kehidupan kita? Atau kita hanya berputar-putar asyik dengan kehidupan dunia? Berawal dari kesadaran diri inilah, manusia hendaknya memulai langkah untuk mempersiapkan kehidupan di masa depan.

Banyak nabi diutus Allah SWT untuk menunjukkan jalan keselamatan kepada manusia. Beragam kondisi dan karakter telah dicontohkan. Ada yang miskin, tak punya apa-apa, bahkan berpenyakit namun ada pula yang kaya raya, jadi raja dan berwajah tampan. Ada yang punya karakter keras, tekad kuat dan penuh semangat namun ada pula yang berkarakter lembut, santun dan dipercaya. Terpulang kepada kita, teladan mana yang paling sesuai. Meski berbeda kondisi dan karakter, ada kesamaan yang terpancar dari para utusan Allah tersebut. Mereka mampu bertauhid dan mengimplementasikan kasih sayang.

Bertauhid (meng-Esa-kan Allah), berarti meletakkan Allah sebagai prioritas yang pertama dalam kehidupan. Segala sesuatu yang dikerjakan selalu merujuk kepada Allah. Sayangnya manusia, dengan hawa nafsunya yang sering tidak terkendali, lebih mengutamakan hal-hal duniawi untuk kepuasan sesaat. Ada yang menuhankan harta, pangkat, kekuasaan, popularitas, keluarga dan ilmu, yang sebenarnya tidak abadi dan bahkan membuat manusia terperangkap dalam jebakan dunia. Bagaimana mungkin manusia kembali dengan selamat, ketika ia hanya berpikir, berlisan dan bertindak hanya untuk kepentingan dunianya saja. Para pendiri bangsa ini sudah meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila, yang mengingatkan kita bahwa untuk hidup berbangsa dan bernegara, manusia Indonesia hendaklah bertauhid. Mari renungi baik-baik, sudahkah kita melakukannya?

Wujud kasih sayang yang dipancarkan para nabi menjadi hal yang patut kita teladani. Kasih sayang terhadap sesama manusia dan alam semesta, tanpa membeda-bedakan. Menjadi pengayom, tempat bertanya, peneduh dan penjaga persatuan umat. Senantiasa menghasilkan buah yang bermanfaat, dan bukannya membuat perpecahan dan merusak tatanan kehidupan.

 

Mengenali Sang Pencipta

Untuk mengenal Penciptanya, manusia harus mengenal dirinya lebih dahulu. Sudahkah kita mengenali diri kita secara holistik (utuh & menyeluruh)? Mengenal tidak saja lahiriahnya. Namun juga yang batiniah. Mengenal bukan hanya raga dengan berbagai indera, tetapi juga dengan akal, hati, nafsu dan juga ruh yang bersemayam dalam diri manusia.

Yang akan kembali kepada Allah SWT adalah roh, sedangkan yang lainnya akan tinggal di Bumi. Roh akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang kita lakukan di dunia. Mampukah roh bertanggung jawab dengan baik apabila selama hidup di dunia, manusia dipimpin selain darinya? Oleh karenanya sangatlah penting kita dapat mengenal komponen rohani kita dan menempatkannya sebagai pimpinan dalam diri, bukan yang lain.

Kotoran hati, penyakit hati dan berbagai gangguan makhluk membuat roh tidak mampu bersinar memimpin diri. Hawa nafsu rendah yang menjerumuskan diri manusia dalam dosa yang terus menggulung akan menutupi hati kita yang menjadi tempat Ruh bersemayam. Hanya dengan bertobat, mohon ampun kepada Allah, mohon maaf kepada sesama manusia, melakukan pembersihan hati, baru kemudian hati menjadi bersih. Di awal mungkin terasa sulit untuk melakukannya karena kotoran sudah demikian tebal dan berkarat. Diperlukan tekad dan upaya keras untuk melakukannya. Bahkan setelah berhasil membersihkan hati sekalipun, kita harus tetap istiqomah terus membersihkannya karena setiap hari, karena selalu ada dosa yang kita lakukan, baik sengaja maupun tidak.

Kesadaran untuk melakukan introspeksi diri inilah yang kita rasakan terdegradasi dalam masyarakat kita. Lebih banyak orang menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain, daripada instrospeksi diri sendiri. Bahkan kuman di seberang lautan pun tampak, sementara gajah di pelupuk mata tak kelihatan. Jadi jelas, yang harus disadarkan adalah faktor manusianya, terlepas dari agama apa yang dianutnya, karena semua agama mengajarkan manusia untuk mampu introspeksi dan mengendalikan dirinya.

 

Tugas Jati Diri

Setiap manusia memiliki kodratnya masing-masing. Berbekal pengenalan diri yang utuh, seorang manusia akan mengetahui tugas jati dirinya. Apa sesungguhnya yang harus dikerjakan olehnya untuk menuntaskan amanah yang dibebankan kepadanya? Apakah yang dikerjakannya sekarang adalah tugas jati dirinya? Atau jangan-jangan kita mengambil tugas orang lain? Tentu pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menggelitik manusia yang telah mulai tumbuh kesadaran dirinya.

Tujuan akhir yang kita harapkan tentunya adalah kembali dengan selamat kepada Allah SWT. Tugas jati diri seorang manusia sangat berkaitan dengan tujuan akhir tersebut. Dalam perjuangannya untuk terus mampu menjaga kemurnian diri agar bisa kembali selamat, manusia mempunyai tugas untuk menyampaikan, mengajak dan membimbing manusia lainnya masuk ke dalam rel yang digariskan Allah. Membangkitkan kesadaran terlebih dahulu, kemudian mengajak untuk berproses mengenal diri, mengenal Allah dan mengenal tugas jati dirinya. Bagi yang telah menyelesaikannya, maka ia mulai menjalani tugas jati dirinya. Ibarat sebatang obor yang menyala, bila berhasil menyalakan obor-obor yang lain, maka akan lebih banyak wilayah yang dapat diterangi. Mula-mula hanya dalam skala keluarga, menjadi desa, membesar lagi menjadi kota, kemudian provinsi dan bahkan akhirnya dapat menjadi obor bagi bangsa dan juga dunia.

 

Membangun Karakter

Bagaimana membuat orang lain mau menoleh dan kemudian mulai tumbuh kesadaran dirinya? Di samping unsur kefakiran kepada Allah, manusia cenderung akan tertarik untuk melihat, mempelajari dan meneladani manusia lain yang memancarkan nilai-nilai yang sejalan dengan dirinya. Oleh karenanya diperlukan sarana berupa karya yang nyata. Karya yang dapat dinikmati oleh indera kita, perasaan bahkan akan membawa imajinasi kita ke manapun perginya.

Makin tinggi kualitas seseorang, maka ia akan menghasilkan karya yang lebih bermutu, unik dan fenomenal di mana akan sulit dicari bandingannya. Bahkan pada orang-orang tertentu Allah menganugerahkan multitalenta, artinya ia mampu berkarya dalam banyak bidang. Kecerdasan yang dimilikinya bersifat holistik, tidak saja intelektualnya, namun juga spiritualnya sehingga menghasilkan tindakan dan hasil yang nyata bagi orang lain.

Ketika kesadaran diri mulai tumbuh, di sinilah awal bangunan karakter terbentuk. Ia akan mengambil pilihan untuk memulai perjalanan hakikinya. Merenungi esensi kehidupan, belajar untuk mengenal diri, mengenal Sang Pencipta dan mengenal tugas jati dirinya serta kemudian menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Kumpulan karakter unggul yang berkesadaran diri, akan mampu menjadi motor penggerak bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Makin banyak tumbuh manusia yang menjalankan tugas jati dirinya, akan lebih banyak karya fenomenal yang dihasilkan, dan akhirnya akan mampu mengajak manusia lain untuk sadar diri. Jika hal tersebut dapat terbangun dan terwujud, kita tak perlu khawatir dengan persatuan dan kesatuan bangsa, karena masyarakat yang berkesadaran diri akan menjadi teladan dan penggerak negara.

Inilah karya holistik yang mampu menginspirasi dan membangun karakter bangsa. Begitu padat dengan pesan-pesan dari Tuhan, yang menjawab semua kegalauan dan pertanyaan batin yang berkecamuk dalam diri manusia tentang eksistensi dirinya. Terketukkah hati kita untuk mau menelaah sebuah karya lebih dalam dan lebih dalam lagi? Sampai di sini, mari kita renungkan kembali sebuah pesan dari Ibu Susilawati Susmono kepada kita semua “Duduklah di kursi kodratmu dengan ikhlas”. Sudahkah kita melakukannya? Jika belum, mari bergegas. Selagi hayat dikandung badan, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita.