OPINI: Bandara Adisutjipto Pasca 29 Maret 2020

Ilustrasi Bandara Adisutjipto, Jogja. - Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya
27 Maret 2020 05:02 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Kita semua menyadari multiplier effect keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) akan bermanfat bagi Pemerintah Daerah Magelang, Purworejo dan Kulonprogo. PT Angkasa Pura 1 dan PT PP sebagai salah satu kontraktor telah menyelesaikan infrastruktur, administrasi, sekaligus proses ketenagakerjaan menjelang pengoperasian YIA pada 29 Maret 2020.

Revitalisasi infrastruktur YIA membuka peluang investasi di DIY dan Jawa Tengah semakin luas. Konon pembangunan YIA pada 2018, menurut Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal DIY, menyumbang investasi ke DIY sebesar Rp7,2 triliun. Terdiri dari PMDN Rp6,13 triliun dan PMA Rp1,08 triliun sedangkan investasi YIA sekitar 61% dari total investasi yang masuk, yaitu Rp4,4 triliun.

Magnet investasi YIA selain dirasakan Kabupaten Kulonprogo, juga di DIY dan Jawa Tengah. Konon, realisasi investasi di DIY 2014 sebesar Rp1,4 triliun, 2015 sebesar Rp1,69 triliun, 2016 sebesar Rp854,2 miliar dan pada 2017 sebesar Rp776,3 miliar.

Bandara Adisutjipto
Perhatian pemerintah memang tertuju pada YIA. Sesuai falsafah Among Tani dan Dagang Layar yang dikemukakan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, yaitu orientasi bisnis yang semula fokus pada pertanian, kini dilengkapi bisnis perikanan dan pelayaran.

Kendati begitu, masyarakat berharap Pemerintah Pusat maupun DIY tidak mengabaikan potensi Bandara Adisutjipto di sisi timur Kota Jogja. Bandara Adisutjipto termasuk bandara ikonik, bukan saja bagi masyarakat Jogja melainkan seluruh anak bangsa. Bahkan masyarakat menyebutnya artefak perjuangan bangsa di mata dunia internasional.

Bandara Adisutjipto telah menorehkan sejarah panjang. Bangunan zaman penjajahan yang dibangun sekitar 1940 disebut Pangkalan Udara Maguwo. Kemudian digunakan Militaire Luchtvaart pada 1942. (Dibyo Sumantri Priambodo, FB 14/3)

Ketika Indonesia merebut kemerdekaan, bandara Maguwo diambil alih Pemerintah RI 1945, digunakan sebagai wahana pelatihan para kadet sekolah penerbang dibawah asuhan Agustinus Adisutjipto. Akan tetapi pada 29 Juli 1947 pesawat Dakota VT-CLA yang dikemudikan Marsekal Muda Adisutjipto, ditembak jatuh pesawat Belanda.

Maka untuk mengenang gugurnya Adisutjipto, bandara Maguwo dirubah namanya menjadi Adisutjipto sesuai SKEP Kepala Staf Angkatan Udara No.76/1952 tertanggal 17 Agustus 1952. Pada 1964 Bandara Adisutjipto menjadi bandara gabungan sipil dan militer.

Pada 1 April 1964, Bandara Adisutjipto masuk dalam pengelolaan Perum Angkasa Pura. Kemudian melalui PP No.5/1993 status Perum Angkasa Pura diubah menjadi PT Angkasa Pura 1 Cabang Bandara Adisutjipto, Jogja.

Dioptimalkan
Dari sejarah dipetik kesimpulan Bandara Adisutjipto adalah milik bangsa Indonesia. Dari sudut nasionalisme, bandara Adisutjipto adalah artefak perjuangan bangsa saat melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

Nilai kepahlawanan Agustinus Adisutjipto bersama Abdurahman Saleh dan Adisumarmo tentu jadi perhatian Pemerintah Pusat, Pemerintah DIY, TNI-AU maupun PT Angkasa Pura (Persero) sebagai perusahaan BUMN yang mengelola bandara tersebut.

Kini sebagaian maskapai penerbangan nasional maupun internasional dari bandara Adisutjipto pindah ke YIA di Kulonprogo. Tetapi Manajemen Angkasa Pura tentu melakukan job enrichment dan job enlargment, sesungguhnya Bandara Adisutjipto tidak surut pamornya di mata masyarakat.

Berbagai konter bisnis di Bandara Adisutjipto yang kosong dapat dioptimalkan pemanfaatannya dengan kegiatan pariwisata Jogja. Pelataran parkir yang luas, gerai niaga dan desain interior khas Jogja akan melahirkan kreasi tersendiri dalam pemanfaatannya.

Misalnya untuk jangka menengah dan panjang, gerai niaga yang kosong dapat diisi beragam hasil UMKM, Culinary Heritage, ajang fashion show, pengembangan olah raga motor sport serta kreasi dan inovasi lainnya. Terlepas dari kepentingan TNI AU dalam melatih kadet AAU, maka lokasinya strategis, berdekatan dengan perhotelan, serta memiliki nilai tambah lantaran dikenal luas secara nasional maupun internasional.

Faktor SDM
Menjelang perpindahan operasional bandara secara penuh pada tanggal 29 Maret 2020, dibutuhkan seleksi dan penempatan pegawai sesuai profesionalisme dan kompetensinya. Di sisi lain Direktorat Personalia dan Umum juga harus mempertimbangkan penyebaran virus Corona Covid-19 yang cukup memprihatinkan dewasa ini.

Beruntunglah Direktur Utama PT Angkasa Pura 1 merespons cepat himbauan Presiden, yaitu dengan menekankan komitmen manajemen untuk melindungi dan memprioritaskan kesehatan seluruh Insan Angkasa Pura I dari ancaman penularan Covid-19 melalui konsep social distancing dan bekerja dari rumah.

Ditegaskan kebijakan social distancing maupun bekerja dari rumah bagi Angkasa Pura tidak mengganggu kinerja perusahan lantaran di dukung platform kerja digital melalui Office Collaboration Platform (OCP) dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas di era digital. Di samping itu Bandara Adisutjipto maupun YIA menggunakan SAP untuk memonitor administrasi, bisnis dan keuangan perusahaan.

Saat ini PT Angkasa Pura 1 tidak perlu sibuk dengan pekerjaan clerical dan administratif lantaran memiliki tata naskah dinas elektronik (TNDE) hingga seluruh pegawai Angkasa pura I dapat bekerja dari rumah pada situasi yang belum sepenuhnya bersahabat ini.

Permasalahan utama setiap transisi, baik proses perpindahan operasionalisasi bandara, penggunaan Office Collaboration Platform, Human Capital Information System (HCIS), SAP maupun TNDE, adalah kesiapan psikologis manajemen dan pegawai.

Job enlargment maupun job enrichment yang mengutamakan pelayanan prima, membutuhkan profesionalisme dan kompetensi SDM. Semoga penyebaran Covid-19 segera menurun dan proses pengoperasian secara penuh YIA serta Bandara Adisutjipto berjalan lancar. Semoga.

*Penulis merupakan Psikolog di sebuah BUMN