HIKMAH RAMADAN: Tetap Berbuat Baik di saat Musibah

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
11 Mei 2020 17:22 WIB Miftahulhaq Hikmah Ramadan Share :

Sebagaimana diketahui, umat manusia di berbagai negara, termasuk Indonesia, sedang menghadapi wabah virus Covid 19. Badan kesehatan dunia, WHO, menyatakan bahwa wabah virus ini sebagai pandemi yang menjadi masalah global. Dan Pemerintah Indonesia pun telah menetapkan wabah non alam virus corona ini menjadi bencana nasional. Wabah virus ini bisa menimpa kepada siapa saja, kapan dan di mana saja. Tidak mengenalkan umur, status sosial, atau status ekonomi dan pekerjaan.

Dalam ajaran Islam, musibah adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Sebagaimana Allah tegaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 155, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Ayat ini menunjukkan musibah atau bencana adalah suatu yang akan ditimpakan kepada siapa saja. Bencana, apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Dan berbagai musibah yang menimpa manusia adalah ujian dan cobaan terhadap keimanan manusia itu sendiri terhadap Sang Khaliq.

Ajaran tauhid seorang mukmin akan menuntunkan bahwa wabah virus corona ini bukanlah masalah, karena memang manusia hidup pasti akan diuji dengan berbagai masalah. Peristiwa yang merupakan musibah adalah takdir Allah, yaitu berupa ketetapan dan ketentuan Allah yang telah terjadi di hadapan setiap manusia. Allah-lah yang mengetahui ketetapan dan ketentuan-Nya. Manusia hanya dapat mengetahuinya ketika ketetapan dan ketentuan tersebut terjadi. Manusia hanya wajib memohon kepada Allah dan berusaha untuk menyikapi berbagai musibah dengan penuh kesabaran dalam rangka merubah keadaan yang dihadapinya menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, setiap manusia harus mampu menyikapi kasus virus corona ini secara cepat dan tepat. Seluruh pihak harus memiliki kepedulian untuk terlibat aktif dalam pencegahan penyebaran virus ini. Tentunya di antara pihak yang paling bertanggungjawab adalah pihak pemerintah. Karena pemerintah lah yang mengemban amanat rakyat dalam pengaturan urusan hidup yang berkaitan dengan publik dan karena pemerintah yang memiliki wewenang untuk menggunakan dan menyalurkan segenap potensi dan sumberdaya yang diperlukan terkait dengan penanganan bencana.

Walau penanganan bencana itu menjadi otoritas pemerintah, tetapi bukan berarti sebagai anggota masyarakat boleh bersikap masa bodoh dan berdiam diri memikirkan diri sendiri. Seorang muslim harus tetap saling tolong menolong satu sama lain, tanpa mengenal latar belakang suku, ras maupun agama. Sesama anggota masyarakat harus memiliki sikap empati dan simpati kepada para korban, sehingga menjauhkan diri dari sikap menghakimi dan menyalahkan korban.

Dalam penyebaran virus corona, kita harus mampu menjadi pribadi yang bisa memutus mata rantai penyebaran virus itu. Setiap individu perlu membangun kesadaran, pemahaman dan sikap yang sama untuk secara aktif terlibat dalam mencegah penyebaran virus corona semakin meluas, sehingga semakin mempercepat wabah ini berakhir.

Setiap anggota masyarakat harus bisa menepati anjuran pemerintah untuk mencegah virus corona ini, untuk menjaga daya tahan tubuh, tetap di rumah dan menghindari kerumunan banyak orang. Tetap peduli dengan saling berbagi dan tolong menolong antar kerabat, tetangga dan anggota masyarakat lainnya. Terlebih di bulan puasa ini, bisa saling memberi makan berbuka dan memperbanyak shadaqah dan infak. Dan tentunya tetap memperkuat iman dengan beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT. Serta selalu berdoa semoga Allah segera mengangkat penyakit dan mengakhiri wabah Covid 19 ini. Amin.

*Penulis merupakan Dosen AIK FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta