HIKMAH RAMADAN: Eksistensi Makna dan Esensi Ramadan di Tengah Pandemi

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
12 Mei 2020 17:27 WIB Moch. Iqbal Hikmah Ramadan Share :

Eksistensi Makna dan Esensi Ramadan di Tengah Pandemi

Ramadan kali ini diwarnai dengan kemunculan pandemi penyakit yang sangat berbahaya dengan akronim Covid-19 yang telah merambah ke seluruh penjuru dunia dan menjadi pandemi, termasuk di Indonesia. Hal tersebut memberi kesan Ramadan kali ini menjadi sesuatu yang extra ordinary dan terasa sedikit aneh.

Tradisi-tradisi lokal yang biasa kita jumpai di setiap bulan Ramadan selama rentang waktu satu bulan penuh seakan mati suri. Bahkan, suasana religius pun seakan tereduksi, meskipun secara makna dan esensi semestinya tidak berkurang. Kenikmatan salat tarawih berjamaah di masjid tidak dapat dirasakan. Kajian menjelang berbuka puasa di masjid ditiadakan. Pun, syahdunya iktikaf di masjid menjemput malam yang paling mulia, laitatul qadar, terancam tak dapat dilakukan.

Keterkurangan-keterkurangan yang muncul sebagai imbas dari covid-19 menjadikan Ramadan kali ini seakan hambar di mata kita. Ada sesuatu yang kurang yang menghinggapi pikiran kita. Padahal sejatinya, makna dan esensi dari Ramadan itu sendiri tetap ada dan bertebaran di sekitar kehidupan kita. Tinggal bagaimana cara pandang (mode of though) kita dalam memaknai ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Islam saja memiliki keluwesan dalam syariatnya, yaitu berupa adanya rukhsah (dispensasi) bagi kasus dan kondisi tertentu, lalu mengapa cara pandang kita sebagai pemeluknya seperti mengalami kemacetan dan kejumuda (stagnasi), bahkan terkesan memaksakan diri. Kita seakan menutup mata dan telinga dari keadaan yang dialami dunia saat ini dan mengenyampingkan resiko-resiko yang akan menyertainya, padahal sangat jelas sekali Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak menjerumuskan diri kepada kebinasaan dan kecelakaan (Al-Baqarah: 195).

Dari sisi pahala berjamaah dan kalkulasi langkah kaki menuju masjid mungkin tidak kita dapatkan, namun sejatinya hal tersebut tergantikan dengan pabrik pahala lainnya yaitu berdiam diri di rumah untuk menghindari pandemi. Quédate en casa (stay at home) dalam kondisi tersebut dengan tetap menjaga kuantitas dan kualitas iman dan takwa, serta menghiasi hari-harinya dengan ibadah, juga menyediakan ruang pahala yang begitu luas.

Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Ra, Rasulullah Saw bersabda; “pandemi penyakit adalah salah satu siksa (azab) yang Allah kirimkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terkena pandemi, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidaklah terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan bahwa makna gamblang dan akurat (manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (berdiam diri di rumah saat terjadi pandemi) akan mendapatkan pahala syahid, walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.

Salat lima waktu dan tarawih mungkin tidak dapat kita lakukan di masjid, namun kita dapat melakukannya berjamaah di rumah bersama keluarga. Interaksi sosial (hablun minan-naas) pun tetap dapat kita lakukan pada bulan suci ini yaitu dengan bersedekah, memberi makanan berbuka puasa untuk orang lain, dan menunaikan zakat fitrah. Dengan demikian, ada atau tidaknya pandemi Covid-19 ini, Ramadan kali ini tetap memiliki makna dan esensi seperti biasanya yang dapat mengantarkan kita kepada tujuan dari berpuasa yaitu la’allakum tattaquun (menjadi orang yang bertakwa).

*Penulis merupakan Dosen PBA UMY/Kandidat Doktor Universidad Autónoma de Madrid, Spanyol