OPINI: Warisan Dunia dan Pariwisata Indonesia

Wisatawan mulai ramai mendatangi Bukit Klangon di Glagaharjo, Cangkringan, Minggu (13/9/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak

Dewan Eksekutif United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 7 Juli 2020 menggelar sidang ke-209 di Paris, Prancis dan memutuskan Kaldera Toba dinyatakan sebagai UNESCO Global Geopark. Ini merupakan pengakuan dunia terhadap Indonesia yang berhasil memelihara warisan dunia untuk kesekian kalinya.

Di Indonesia, telah banyak yang diakui UNESCO, contoh yang berbentuk peninggalan budaya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran; bentang alam, seperti Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Cultural Landscape Subak Bali, Gunungsewu Global Geopark, Kaldera Toba Global Geopark; dan yang berbentuk intangible cultural heritage seperti wayang, keris, batik, dan juga pencak silat.

UNESCO sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) beranggotakan 194 negara, bertujuan mendukung perdamaian dan keamanan dengan mempromosikan kerja sama antar negara melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya guna meningkatkan rasa saling menghormati yang berlandaskan kepada keadilan, peraturan hukum, HAM, dan kebebasan hakiki.

Adanya warisan dunia, dapat dimaksimalkan menjadi kekuatan oleh negara-negara yang tergabung dalam UNESCO, yaitu melalui kerja sama antar negara yang memiliki situs budaya sejenis, bahkan nantinya kerja sama tersebut dapat dikembangkan dan ditingkatkan ke hal-hal lain yang lebih strategis. Pada sisi lain, akan menjadi kelemahan, manakala pelestarian situs atau cagar budaya dan aktivitas didalamnya tidak mampu memberikan manfaat yang optimal kepada negara dan masyarakat setempat, ditambah adanya konflik kepentingan antar pemangku kepentingan.

Pemerintah Indonesia berkewajiban melakukan pelestarian dengan berprinsip pada pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan, yang terintegrasi. Namun, pelestarian ini bukan hanya tugas pemerintah saja, namun menjadi tugas bersama seluruh pemangku kepentingan yang ada agar manfaatnya dapat memberikan hasil guna untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia, seperti aspek citra, ekonomi ataupun pariwisata.

Pengakuan UNESCO menunjukan Indonesia peduli dan mendukung pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan, terbukti situs dan budaya tidak hilang sehingga apa yang dapat dinikmati hari ini akan terus dapat dinikmati untuk generasi-generasi yang akan datang.Ini memberikan citrapositif, sehingga negara-negara yang tergabung di dalam UNESCO akan percaya Indonesia mampu memelihara situs dengan baik, dan mereka tidak akan ragu-ragu manakala ada rencana untuk melakukan kerja sama dengan Indonesia.

Pada aspek ekonomi, kucuran dana dari UNESCO nilainya kecil, namun menunjukan bentuk kepedulian lembaga dunia tersebut,justru keuntungan yang terpenting adalahdampak yang dirasakan oleh banyak pihak akibat adanya situs,seperti para pedagang dan pemandu tur. Sebuah situs baik budaya ataupun alam dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata, hal ini telah dipromosikan oleh UNESCO dalam bentuk pengakuannya sehingga menimbulkan rasa penasaran semua pihak, dan menarik wisatawan datang, mengunjungi untuk melihat langsung ke situs budaya, demikian pula keindahan bentang alam di Indonesia, sangat memukau menjadikan Indonesia zamrud di khatulistiwa.

Dengan memadukan situs budaya dengan lingkungan, maka lokasi tersebut dapat dijadikan sebagai kawasan destinasi pariwisata yang pantas dikunjungi oleh wisatawan dunia. Untuk menghindari adanya perubahan sosial setempat serta kerusakan situs budaya, akibat adanya wisatawan yang bekunjung, maka perlu diberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar tentang potensi terjadinya akulturisasi khususnya yang bersifat negatif agar dapat diminimalkan.

Selain itu, dilakukan tata kelola situs budaya dan alam secara profesional, mulai dari zonasi yaitu mengelompokan unsur-unsur dengan fungsi yang sama, pengaturan arus pengunjung terkait kapasitas daya dukung, pengelolaan keselamatan wisatawan, peningkatan kompetensi para petugas, serta pengendalian pedagang cenderamata.

Pengelola destinasi pariwisata berbasis situs budaya dan alam, berharap pengunjungnya akan tumbuh dari tahun ke tahun, namun demikian harus disesuaikan dengan carrying capacity yang ada sehingga kualitas turisme harus dipikirkan. Untuk mensiasati hal ini, dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi budaya masyarakat setempat, seperti desa wisata di sekitar cagar budaya yang dapat menjual adat-istiadat yang terkait dengan cara mereka beraktivitas, seperti bercocok tanam, membuat barang-barang kerajinan tangan, ritual-ritual keagamaan dan lain-lain.
.
Selain itu dengan bantuan teknologi, misalnya virtual reality atau augmented reality dengan tema sesuai dengan situs yang ada, ini dapat dijadikan pelengkap dikawasan destinasi sekaligus mendistribusikan penyebaran pengunjung sehingga wisatawan dapat mengikuti dan merasa nyaman sekaligus mendapatkan gambaran yang lebih jelas, memahami apa yang terjadi pada saat itu, apalagi ditambah sistem tata suara atau bau-bauan agar lebih mendramatisir suasana.

Sebagai penguat situs budaya ataupun alam lainnya yaitu pemandu wisata atau guide, yangmempunyai arti penting karena sebagai ujung tombak pariwisata, yang berinteraksi langsung dalam durasi waktu yang relatif lama, dengan bermodalkan story telling, pemandu wisata memberikan pemahaman, dan pengertian keberadaan situs budaya tersebut. Selain itu turut mempromosikan produk dan jasa masyarakat sekitar, serta menjadi jembatan komunikasi di antara mereka.

Dengan adanya warisan dunia yang diakui oleh UNESCO, harus dapat dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan sehingga semakin menguatkan kepariwisataan di Indonesia.