OPINI: Menggantang Asa UMKM di PPKM Level 2

Djati Julitriarsa, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen, YKPN Yogyakarta

Sampai saat ini, nampaknya pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Namun begitu, terdapat angin segar bagi para pelaku usaha, khususnya yang termasuk dalam kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena pemerintah telah menetapkan adanya penurunan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari level 3 ke level 2. Dengan adanya penurunan level PPKM ini, maka disambut dengan antusias oleh para pelaku usaha tersebut karena dengan penurunan level tersebut dapat dipastikan peningkatan aktivitas masyarakat untuk mengadakan perjalanan ke luar rumah, khususnya untuk melakukan kegiatan wisata ke pelbagai tujuannya.

Nampak pula kegiatan masyarakat DIY dan Kota Jogja pada khususnya, dapat disaksikan bagaimana ramainya masyarakat yang berkunjung ke kawasan Malioboro terutama pada waktu akhir pekan. Jalanan menjadi macet dengan dipenuhi kendaraan baik pelat Jogja maupun dari luar DIY, dan juga begitu riuhnya kawasan Malioboro yang dipadati para pengunjung, yang tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah baik Pusat maupun daerah.

Dengan datangnya wisatawan, tentu saja hal ini disambut gembira oleh pelaku usaha, terutama para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan tersebut yang dapat kembali mengais rezeki, yang sudah sekian lamanya gara-gara pandemi Covid-19 yang dirasakan sangat memukul kehidupan mereka, karena tidak mempunyai penghasilan dengan tidak dapat melakukan penjual barang dagangannya. Dengan menggeliatnya dunia pariwisata (hotel dan restoran), secara otomatis hal ini akan diikuti oleh para usahawan UMKM yang semakin menyemarakkan kehidupan wisata tersebut, sesuai permintaan para pedagang kaki lima di kawasan Malioboro khususnya, maupun PKL yang berada di tempat lain di DIY.

Peran strategis UMKM

Bila ditelaah lebih lanjut memang tidak dapat disangkal bahwa para pelaku UMKM di DIY ternyata memiliki peran yang cukup bahkan strategis untuk menopang pemulihan ekonomi pada masa pandemi ini. Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) DIY, yang mengacu ke pada survei pada tahun 2018, tercatat bahwa 98,2% perekonomian di DIY disumbang oleh sektor UMKM. Menurut sumber yang dapat dipercaya, pendapatan UMKM di DIY terhitung Maret hingga Juni 2020, turun senilai 80% dengan adanya pandemi Covid-19. Lebih lanjut disebutkan bahwa UMKM menjadi salah satu di antara sektor usaha yang paling besar dalam penyerapan tenaga kerja di DIY. Terutama pada sektor usaha mikro yang mendominasi sekitar 80% dari total 1.230 UMKM di DIY, kemudian disusul oleh usaha kecil sebesar 12% dan 8% oleh pelaku usaha menengah.

Penyerap tenaga kerja banyak disumbangkan pelaku UMKM, khususnya sektor usaha mikro karena jumlahnya yang banyak dan jenis usahanya yang juga beragam, sehingga  bisa mencakup banyak kalangan. Maka, untuk mengurangi beban pelaku UMKM, pemerintah tetap getol untuk memberikan stimulus terhadap pelaku usaha tersebut. Dengan adanya stimulus ini diharapkan mampu memulihkan perekonomian, khususnya bagi pelaku UMKM guna pengembangan usahanya.

Peran UMKM memang begitu penting pada pertumbuhan perekonomian, sehingga UMKM harus terus diberi dorongan agar dapat bangkit lagi kehidupannya. Susilo, menegaskan bahwa berdasarkan data pada tahun 2017 sampai dengan kuartal 3, distribusi langsung pada sektor pariwisata, yakni untuk hotel dan restoran terhadap PDRB sebesar 55%. Secara tegas disebutkan bahwa sektor tersebut serta usaha mikro, kecil, dan menengah masih menjadi sektor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di DIY dan ekonomi kreatif masih sangat berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi DIY.

Sementara itu untuk sektor UMKM berdasarkan data sensus 2016, dari jumlah total usaha sebanyak 532.670 unit usaha, maka jumlah usaha mikro dan kecil (UMK) sebanyak 524.935 unit atau 98,40% dan usaha menengah besar (UMB) sebanyak 8.735 perusahaan atau hanya 1,60 persen.

Peran dalam penyerapan tenaga kerja maka UMKM ini merupakan tenaga kerja UMK (79%) dan sisanya tenaga kerja yang diserap oleh UMB. Oleh sebab itu, menjadi tidak salah kalau kemudian kepada para pemangku kepentingan diharapkan lebih mementingkan upaya untuk menumbuhkembangkan UMKM di DIY. Maka tidak menolak kemungkinan apabila di DIY dapat dikembangkan lewat ekonomi kreatif karena sangat potensial dan layak memperoleh perhatian yang memadai dari seluruh pemangku kepentingan, terutama berkaitan dengan subsektor kuliner, subsektor fashion, subsektor kriya, dan subsektor animasi serta pembuatan games. Sebagian besar keempat sektor tersebut merupakan UMKM, sehingga dengan mendorong keempat subsektor ekonomi kreatif, yang termasuk UMKM, akan dapat menjadi fokus dari pemangku kepentingan tanpa terkecuali.

Harapan Bangkit Kembali

Memperhatikan uraian di atas, maka dapat dipastikan bahwa setelah sekian lama terpuruk dengan pandemi Covid-19 ini dan diberlakukannya PPKM Level 2, niscaya kehidupan pelaku UMKM di DIY segera akan pulih kembali dan semakin menyemarakkan kehidupan perekonomian di DIY. Bahkan lebih lanjut, suatu info yang dapat dihimpun menyebutkan bahwa Bank Indonesia Kantor Perwakilan Yogyakarta menegaskan adanya data bahwa pada tahun 2018 UMKM masih menjadi penopang utama dari perekonomian DIY. Hal ini  ditunjukkan dengan adanya daya tahan UMKM yang dapat membuat pertumbuhan perekonomian DIY yang tumbuh di atas perekonomian Indonesia, di mana kontribusi UMKM terhadap perekonomian DIY mencapai 94,6%. Sementara itu, UMKM mampu menyerap 79% dari total lapangan kerja dan dari jumlah tersebut paling banyak diserap oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, serta perhotelan.

Maraknya  wisatawan yang berkunjung ke DIY secara umum dan khususnya Kota Jogja,  merupakan kabar yang membawa angin segar bagi kehidupan UMKM di saat PPKM sudah di level 2. Semoga harapan ini akan menjadi suatu kenyataan yang menggembirakan bagi semua pihak, khususnya para pelaku UMKM di DIY. Semoga.