OPINI: Dorongan Presidensi G20 untuk Pariwisata

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno (tengah) didampingi anggota DPR Syafrudin (kiri), dan Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri (kanan) menandatangani prasasti peresmian kompleks rumah adat Uma Lengge sebagai desa wisata di Desa Maria, Bima, Nusa Tenggara Barat, Minggu (13/6/2021). - ANTARA/Dhimas B.P.

Perhelatan akbar KTT G20 berikutnya yang dijadwalkan pada 30—31 Oktober 2022 di Bali bermakna penting bagi Indonesia. Pada KTT G20 di Roma, Italia pada 30—31 Oktober lalu, Indonesia untuk pertama kalinya menerima estafet keketuaan /Presidensi G20.

Presiden Jokowi telah mengundang pemimpin negara maju untuk datang ke Bali tahun depan, di ruang terbuka, di hamparan pantai yang indah, yang menginspirasi gagasan yang inovatif untuk produktivitas G20 ke depan.

Selain sebagai prestasi tersendiri bagi Indonesia, momentum ini menjadi kekuatan bagi pariwisata nasional untuk mendorong pertumbuhan melalui gelaran meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) skala dunia. Peran strategis MICE berskala global di Indonesia telah terbukti, sebut saja, PATA Travel Mart pada September 2007 di Bali. Saat itu Indonesia berhasil mengalahkan India dan China.

Hal utama yang perlu menjadi pemikiran dalam agenda MICE adalah banyak tidaknya dan besar kecilnya skala penyelenggaraan. Selain itu, tantangan yang tak kalah pentingnya adalah penciptaan ikon acara milik Indonesia.

Jepang misalnya, mendunia dengan Tokyo Motor Show. Jerman dengan Frankfurt Motor Show. Hal senada dengan itu juga perlu dirumuskan dan dilaksanakan secara konsisten di Indonesia sambil dipromosikan ke berbagai negara, khususnya gelaran yang berbasiskan daerah seperti Jakarta International Expo atau Jember Fashion Carnaval.

Untuk menggaet MICE skala dunia agar dilakukan di Indonesia, pemerintah tidak dapat berjalan sendirian. Sektor bisnis terkait dengan MICE juga perlu mencari pasar lebih agresif untuk diselenggarakan di sini.

Mereka adalah professional exhibition organizer (PEO), professional conference organizer (PCO), stan kontraktor, freight forwarder, pemasok, florist, event organizer, hall owner, tenaga kerja musiman, percetakan, transportasi, biro dan agen perjalanan wisata, hotel, perajin dan pedagang cendera mata, serta UKM. Mungkin yang berada di garda depan untuk mencari pasar MICE hanyalah PEO, PCO, perhotelan dan asosiasi pariwisata yang dikoordinasikan oleh pemerintah.

Dalam pariwisata, MICE merupakan produk unggulan karena kegiatan itu menghasilkan devisa dan pendapatan asli daerah (PAD) lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran wisatawan biasa yang datang ke Indonesia. Wisatawan MICE pada umumnya mempunyai pengeluaran yang lebih tinggi dan lama tinggal lebih panjang, karena mereka mengikuti kegiatan pre and post tour.

Dalam KTT UNFCCC beberapa tahun lalu misalnya, disiapkan sejumlah kegiatan pendukung, baik berupa side event maupun parallel event. Kegiatan side event berupa Conference on Climate Change and Tourism-Responding to Global Challenges pada 11 Desember 2007. Adapun parallel event berupa seminar sehari bertajuk Dampak Perubahaan Iklim Terhadap Kepariwisataan Indonesia.

Selanjutnya juga ada post conference tour, pameran, cultural performace, press conference, serta penanaman 1.000 pohon.

Juga dilakukan cultural performace yang dihadiri sekitar 500 undangan dari para delegasi UN-WTO, pejabat pemerintah, pakar lingkungan hidup, asosiasi pariwisata, serta lembaga pendidikan pariwisata. Untuk dukungan post conference tour diikuti sekitar 60 peserta VIP dan 20 wartawan yang mengunjungi lokasi Samboja di Kalimantan Timur, Pulau Komodo, dan sejumlah tempat di Bali.

Wisatawan MICE memiliki ‘tingkat kekebalan’ yang relatif lebih tinggi terhadap berbagai isu ketidakjelasan di suatu negara. Mereka tidak mudah membatalkan kunjungannya. Ajang MICE juga memberikan manfaat langsung pada ekonomi masyarakat seperti akomodasi, usaha kuliner, cendera mata, pemandu wisata hingga transportasi lokal.

Dalam kaitan itu elemen dasar MICE seperti akomodasi hotel dan ruang pertemuan, bandara, sarana transportasi dalam dan antar kota serta keamanan di dalam negeri mutlak membutuhkan pembenahan secara terus menerus. Menjelang pelaksanaannya, perlu koordinasi yang intensif dengan masyarakat tempat berlangsungnya acara MICE agar mereka juga turut serta berpartisipasi sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

Penyelenggaraan MICE berskala internasional di Indonesia memperkuat positioning dan branding Tanah Air sebagai tujuan wisata tingkat dunia. Setiap perhelatan berskala internasional yang diadakan di Indonesia dipastikan memiliki efek berganda yang positif pada berbagai sisi. Pariwisata khususnya adalah sektor yang terdongkrak pada perhelatan ini. Pada kegiatan KTT G20 di Bali tahun depan diharapkan memberikan dampak secara ekonomi, tidak hanya bagi Bali, tetapi juga daerah lain.

Jasa persewaan mobil misalnya, akan banyak menuai pesanan selama kurang lebih sepekan penuh berlangsungnya acara. Jawa Timur misalnya, sebagai provinsi yang bertetangga dengan Bali diharapkan juga menuai keuntungan. Bisnis biro perjalanan, khususnya aktivitas in bound, perlu diarahkan untuk mengunjungi beberapa kawasan wisata andalan di Jawa Timur.

Kita melihat ada sinyal yang sangat kuat akan bangkitnya sektor pariwisata nasional pasca pandemi Covid-19. KTT G20 adalah berkah untuk pariwisata khususnya dan untuk bangsa Indonesia. Mari kita syukuri berkah ini dengan ikut menyukseskannya melalui berbagai cara.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia