Pengaruh Tionghoa dalam Surat-Surat Kartini

Museum Kartini - Antara/Yusuf Nugroho
11 Mei 2018 01:25 WIB Hendra Kurniawan Aspirasi Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kartini merupakan tokoh perempuan Jawa yang gigih memperjuangkan cita-cita perempuan saat itu dalam menentukan identitas diri sendiri. Hari Kartini menjadi peringatan istimewa untuk menghadirkan kembali memori perjuangan perempuan dalam memperoleh persamaan derajat.

Gejolak perjuangan Kartini didorong oleh kesempatan pendidikan yang pernah dia peroleh sebagai keturunan darah biru. Selama masa kebebasan itu, Kartini banyak bergaul dengan kalangan feminis asal Belanda, seperti Estelle Zeehandelaar (Stella), Marie Ovink-Soer, dan Rosa Manuela Abendanon-Mandri.

Persahabatan Kartini dengan mereka berlangsung cukup lama dan intensif melalui surat-menyurat. Kepada para sahabat penanya, Kartini banyak berkisah tentang belenggu adat, tradisi pingit, pernikahan, keluarga, pendidikan, kehidupan pribadinya, hingga persoalan candu.

Sikap Kartini yang memberontak terhadap nilai-nilai kekolotan, poligami, dan adat yang mengungkung perempuan terungkap dalam surat-suratnya. Jejak-jejak korespondensi persahabatan Kartini itu lantas diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) oleh J.H. Abendanon pada 1911.

Sejarah mengungkap bahwa ternyata tidak semua surat Kartini diterbitkan. Surat yang bersifat sangat personal tidak dipublikasikan. Demikian juga dengan surat-surat yang dianggap sensitif terhadap isu tertentu harus disortir, misalnya kritik terhadap pemerintahan Hindia Belanda, persoalan candu, hingga yang bersinggungan dengan Tionghoa.

Dalam surat kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri bertanggal 27 Oktober 1902, Kartini bercerita tentang kedekatan batinnya dengan masyarakat dan budaya Tionghoa pada masa itu. Benny G. Setiono (2008) mencatat Kartini dengan gamblang mengaku dirinya adalah “Boeddha-kind” atau “anak Buddha”.

Kisah ini berawal saat Kartini kecil terserang penyakit berat dan tak ada lagi dokter yang sanggup menyembuhkan. Di tengah keputusasaan, sahabat sang ayah, seorang Tionghoa, menawarkan diri untuk menolong. Kartini sembuh dari sakit setelah meminum air yang telah dicampur dengan abu bakaran hioswa persembahan dari sebuah kelenteng di Welahan.

Sejak itu Kartini menganggap dirinya menjadi anak dari Santikkong atau Kongco Welahan, orang suci yang dipuja di kelenteng tersebut. Inilah alasan yang kemudian mendasari Kartini menjadi seorang vegetarian. Dalam surat Kartini tersebut, yang dimaksud dengan Santikkong atau Kongco Welahan sebenarnya Hian Thian Siang Tee atau Siang Tee Kong.

Pendidikan Tinggi

Tokoh ini di-toapekong-kan sebagai Dewa Langit (ada yang menyebutnya sebagai Dewa Obat) di Kelenteng Welahan. Kelenteng ini konon merupakan kelenteng tertua di Indonesia. Menurut cerita sejarah, Kelenteng Welahan didirikan oleh kakak beradik Tan Siang Boe dan Tan Siang Djie sekitar 1830-an.

Sejak didirikan, kelenteng ini memang dianggap memiliki daya penyembuh sehingga banyak orang datang berkunjung, tidak hanya dari kalangan Tionghoa. Membaca kisah yang dituturkan Kartini mengenai mukjizat kesembuhan dirinya melalui perantaraan Santikkong memperlihatkan betapa Kartini memiliki ikatan batin yang erat dengan Kelenteng Welahan.

Buktinya pada suatu waktu Kartini menyempatkan diri berkunjung ke sana. Sebagai seorang gadis Jawa, daya sinkretis yang berasal dari leluhurnya masih begitu kuat. Inilah yang membuat Kartini dengan lugas menyebut dirinya sebagai “anak Buddha” dari Kelenteng Welahan.

Kisah lengkap dengan ungkapan batin terdalam yang dituturkan oleh Kartini ini menjadi bukti kerapatan relasi antara Jawa dengan Tionghoa. Sayangnya tidak banyak orang yang tahu.

Pada masa Hindia Belanda, Tionghoa menjadi korban politik. Setelah Geger Pacinan pada 1740-an, relasi antara Jawa dengan Tionghoa sengaja dibuat renggang. Pemerintah Hindia Belanda menganggap eratnya relasi Jawa-Tionghoa sebagai ancaman berbahaya. Inilah salah satu yang mendasari Abendanon meminggirkan kisah Tionghoa dalam surat Kartini.

Keterbukaan Kartini soal persentuhannya dengan Tionghoa tidak menutup kemungkinan ada respek terhadap perempuan Tionghoa. Tentu saja analisis ini perlu dikaji lebih lanjut. Satu hal yang menguatkan yakni konsistensi perjuangan Kartini yang menaruh kepedulian terhadap nasib kaum perempuan atas dasar prinsip egaliter.

Sezaman dengan Kartini tercatat beberapa perempuan Tionghoa yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Mereka berani menyerukan pentingnya pendidikan dan emansipasi bagi perempuan, seperti Caroline dan Leonie Tan yang menulis artikel mengenai pendidikan untuk perempuan di Harian Sin Po pada 1914.

Sebagai bagian dari bangsa ini, perlu upaya untuk mengungkap berbagai hal mengenai Tionghoa yang jarang diketahui publik. Membangun kesadaran sejarah dari dalam menjadi penting untuk menumbuhkan semangat ke-Indonesia-an yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Bukan sekadar mencari tahu berbagai informasi dan catatan sejarah mengenai Tionghoa. Lebih dari itu keberadaan Tionghoa harus diakui telah turut mewarnai dinamika kehidupan masyarakat termasuk dalam konteks perjuangan bagi kemerdekaan bangsa ini.

*Penulis adalah dosen Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Jogja