Bentengi Keluarga dari Terorisme

Irwan Hafid - Ist.
24 Mei 2018 00:25 WIB Irwan Hafid Suara Mahasiswa Share :
Ad Tokopedia

Aksi terorisme serangan dan ancaman yang dilakukan secara terkoordinasi guna membangkitkan perasaan teror di masyarakat. Gerakan ini seringkali dilakukan dengan berbagai motif oleh pelakunya, mulai dari latar belakang sosial, ekonomi, dan agama. Namun, seringkali dilakukan dengan kedok ideologi agama untuk memuluskan aksinya. Agama yang keberadannya menjadi sumber kedamaian dan kebahagiaan, dibajak dan dipakai sebagai dalih munculnya tindakan terorisme tersebut.

Hampir semua negara di dunia menolak dan mengecam keras tindakan terorisme, termasuk Indonesia. Karena keberadaannya dapat mengancam stabilitas keamanan suatu negara dengan serangan yang dilakukan. Seperti halnya bom bunuh diri di area publik, sebagaimana terjadi peledakan bom di beberapa gereja di Surabaya, Rusun Wonocolo Sidoarjo, serta Mapolrestabes Surabaya. Mirisnya, rentetan peristiwa bom bunuh diri yang terjadi dibeberapa lokasi berbeda tersebut, kesemuanya melibatkan satu keluarga, baik suami, istri, maupun anak-anaknya.

BNPT menyebutkan keterlibatan aksi bom bunuh diri satu keluarga secara bersama-sama merupakan modus baru yang berkembang saat ini. Namun demikian, peneliti terorisme Universitas Paramadina Suratno dalam risetnya mengungkapkan bahwa keterlibatan keluarga dalam aksi terorisme berdasarkan sejarahnya bukanlah merupakan hal baru. Sebab, dalam beberapa kasus, afiliasi keluarga sudah beberapa kali terlibat dalam terorisme. Ia menyebutkan hasil riset Della Porta tentang organisasi teroris Brigade Merah di Italia, 298 dari 1.214 anggotanya memiliki hubungan keluarga. Selain itu, riset komisi PBB terkait pembajakan pesawat peristiwa 9/11 dikonfirmasi bahwa enam dari 19 pembajak adalah bersaudara. Kemudian, pelaku bom Bali I, Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron merupakan kakak beradik.

Banyak faktor yang menyebabkan keluarga dilibatkan dalam aksi terorisme, khususnya dalam aksi bom bunuh diri secara bersama-sama. Salah satunya karena keterlibatan perempuan dan anak-anak dapat mengelabuhi orang-orang di sekitar calon korban. Karena selama ini mereka tidak terlalu diidentikkan dengan pelaku teroris, jika dibandingkan dengan dominasi aksi terorisme yang seringkali dilakukan oleh kaum laki-laki dalam beberapa kasus. Selain itu, mereka meyakini bahwa kematian mereka dengan aksi bom bunuh diri secara bersama-sama dikategorikan sebagai mati syahid sehingga dapat dipertemukan lagi dalam satu keluarga kelak di surga.

Atas permasalahan yang ada, kita semua perlu mengantisipasi aksi terorisme tersebut. Pertama, perlu pembinaan dan keterlibatan para tokoh agama untuk menetralisir pemahaman keagamaan yang keliru, dengan aktif melakukan dialog serta pengajian mulai tingkat RT/RW hingga pusat. Bahkan, juga dibutuhkan peran psikolog untuk turut membina anggota masyarakat yang berpotensi bahkan sudah terpapar paham radikal. Kedua, pentingnya pendidikan dan pendampingan bagi anak-anak, orang tua, dan kerabat terdekatnya sejak dini tentang bahaya agar tidak terjerumus kepada aksi terorisme. Ketiga, pentingnya pemberdayaan dengan keterampilan yang mereka miliki. Agar aktifitasnya disibukkan dengan kegiatan postif, sehingga mereka tidak punya waktu untuk berfikir bahkan melakukan gerakan terorisme. Namun yang terpenting, perlu komitmen setiap elemen agar berada dalam satu tekad untuk memberantas terorisme guna terciptanya kehidupan bangsa yang aman, damai, dan tenteram.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Ad Tokopedia