OPINI: Menggenjot Ekspor Komoditas Andalan

Kapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018). - Bisnis Indonesia
10 Oktober 2018 07:25 WIB Tasroh Aspirasi Share :

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus membuat gundah semestinya tidak berlangsung lama. Fluktuasi harga komoditas dunia memang memberikan sentimen beragam terhadap perekonomian negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Pasar uang terpengaruh. Pasar saham bergejolak dalam kurun hampir dua bulan terakhir. Harga komoditas tambang seperti emas, nikel, bauksit, dan batu bara serta harga minyak yang menunjukkan tren meningkat memberikan dampak bermacam-macam pada pergerakan pasar di sebuah negara.

Pada September 2018 lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak dalam rentang konsolidasi di tengah aksi jual investor asing. IHSG diperkirakan masih akan terlihat berada dalam rentang konsolidasi seraya menanti aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi untuk nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Rupiah diperkirakan akan stabil pada Rp14.200-14.300 per dolar Amerika Serikat walau kemudian ternyata tembus Rp15.000 per dolar Amerika serikat. Harga komoditas, khususnya batu bara, memang fluktuatif sejak April 2018 lalu.

Harga batu bara bahkan mencetak rekor tertinggi sejak awal November 2016 di level 114,1 dolar Amerika Serikat per ton pada 7 Juni 2018 silam. Meningkatnya volume permintaan pada tahun ini, khususnya di Asia, menjadi penyebab meroketnya harga komoditas sumber energi utama dunia ini, padahal batu bara sempat dikhawatirkan tidak populer lagi mengingat sifatnya yang tidak ramah lingkungan.

Negara-negara Asia masih membutuhkan pasokan batu bara dalam jumlah besar. Tiongkok, misalnya, mengimpor 104,5 juta ton batu bara pada periode Januari-Mei 2018. Jumlah ini meningkat 10,2% daripada periode yang sama pada 2017. India mengimpor 77,4 juta ton pada lima bulan pertama tahun ini atau naik 3,3% secara tahunan.

Selain dua negara itu,  Jepang juga mencatat kenaikan impor sebesar 5,4 juta ton menjadi 77,4 juta ton pada lima bulan pertama 2018. Korea Selatan mengimpor 51,7 juta ton atau naik tipis 500.000 ton secara year on year  (yoy). Hal inilah sebenarnya yang menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor batu bara dan menambah devisa negara dari sektor pertambangan.

Sayangnya, Indonesia hanya mampu meningkatkan ekspor sebesar 4%. Hal ini sebagai imbas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan aturan volume domestic market obligation (DMO) yang lebih besar.  Perusahaan-perusahaan batu bara di dalam negeri tidak mampu meningkatkan kinerja ekspor.

Selain bursa efek dan nilai tukar rupiah, harga komoditas utama yang diperdagangkan di dunia juga menjadi salah satu faktor yang dapat di-pergunakan sebagai indikator makroekonomi. Selain telah menjadi kebutuhan pokok, komoditas juga digolongkan sebagai investasi dalam pasar berjangka, yaitu pasar komoditas.

Standar Ekspor

Oleh karena itu, komoditas menjadi pilihan dalam portofolio para investor. Dalam hubungannya dengan nilai tukar, komoditas sebagai barang konsumsi akan memberikan pengaruh terhadap nilai tukar melalui jumlah demand and supply komoditas tersebut.

Harga komoditas yang stabil atau cenderung naik tentu akan baik untuk ekonomi nasional karena akan mendorong ekspor sehingga akan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Idealnya Indonesia tidak terlalu bergantung pada sektor komoditas ini sebab harga komoditas cenderung tinggi volatilitasnya sehingga dapat jatuh tiba-tiba dan membuat negara merugi.

Tentu saja harapannya adalah harga komoditas terus membaik demi mendorong ekspor dan konsumsi masyarakat. Upaya menggenjot ekspor komoditas hanya dapat berjalan baik dan mendongkrak nilai tukar rupiah jika komoditas yang dihasilkan diimbangi dengan perbaikan standar ekspor sesuai dengan yang diberlakukan di negara-negara tujuan ekspor.

Nilai tukar rupiah cenderung sering ”keok” dengan mata uang asing asing, khususnya dolar Amerika Serikat, maka standar komoditas ekspor nasional harus mengukuti standar tujuan negara ekspor. Hanya dengan mendongkrak standar ekspor komoditas tiap tujuan negara, nilai tukar rupiah akan lebih berdaya sehingga meningkatkan daya saing komoditas nasional tersebut.

Sayangnya, tidak mudah meningkatkan standar komoditas untuk ekspor karena harus dibarengi penerapan teknologi, padahal untuk yang satu ini komoditas khas Indonesia tergolong ”termiskin di dunia” ( istilah yang disampaikan pakar industri Amerika Serikat, Jannet Ludwig, dalam Global Comodities Standard pada 2015) karena 60% komoditas Indonesia ternyata belum memenuhi uji kualitas produk standar ekspor karena kurangnya sentuhan teknologi.

Akibatnya sebagian komoditas ekspor Indonesia kurang memiliki advantage competitiveness karena belum diimbangi dengan teknologi yang diakui dunia. Pada konteks ini, peran teknolog, yakni para peneliti/ahli teknologi, khususnya pada komoditas ekspor andalan nasional, harus bekerja keras dengan mengembangkan dan melahirkan inovasi teknologi sehingga komoditas itu memiliki added values yang unggul.

Komoditas timah skala ekspor seharusnya bukan dalam bentuk timah mentah tanpa nilai tambah, tetapi adalah komoditas (minimal) setengah jadi sesuai kebutuhan negara tujuan. Jika perlu komoditas itu diekspor dalam bentuk komoditas paripurna alias barang jadi sehingga memiliki daya saing dan nilai tambah yang berlipat-lipat.

Langkah inilah yang sudah banyak dilakukan negara maju seperti Jepang atau Korea Selatan, yakni bahan baku yang diperoleh dari negara berkembang seperti emas, tembaga, timah, bauksit, aluminium, besi, seng, atau produk mineral lainnya, atau komoditas di sektor perkebunan dan lainnya, diekspor kembali ke berbagai negara dengan suntikan teknologi canggih.

Langkah demikian ini membuat komoditas-komoditas tersebut memilki nilai tambah 1.000 kali lipat daripada komoditas yang masih mentah (raw materials). Sektor komoditas masih akan terbantu dengan perbaikan harga batu bara dan sawit yang masih akan membaik. Paling tidak pada level yang menguntungkan buat kalangan industri.

Harga komoditas di pasar dunia menjadi sentimen positif bagi perekonomian nasional, meski dari sisi konsumsi domestik nasional pertumbuhan tidak terlalu baik, setidaknya ada katalisator yang membuat perekonomian nasional tetap seksi, yakni aktivitas ekspor komoditas.

Tren kenaikan harga sejumlah komoditas asal Indonesia yang diekspor, khususnya yang bersumber dari komoditas sumber daya alam seperti karet, kelapa sawit, batu bara, dan komoditas tambang lain, memberikan sentimen positif bagi penghasilan masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan penghasil komoditas seperti Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

*Penulis adalah analis kerja sama investasi dan alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Sumber : JIBI/Solopos