PERSPEKTIF: Menanti KNKT Menguak Misteri Lion Air JT 610

Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan 2007-2009, dalam gambar olahan. - Bisnis Indonesia
30 Oktober 2018 12:20 WIB Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan 2007-2009 Aspirasi Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pujian terhadap hasil audit dari ICAO, Uni Eropa dan FAA telah membawa standar keandalan regulator dan maskapai penerbangan Indonesia dalam memelihara tingkat keselamatan penerbangan ke tingkat yang lebih tinggi.

Standar itu termasuk kategori I dari FAA, Uni Eropa dan ICAO. Hal tersebut adalah hasil dari sebuah perjuangan tak kenal henti selama lebih 10 tahun sejak 2007. Karena itu, berita kecelakaan ini membuat kita merasa berduka.

Kita juga berduka karena 189 penumpang ikut dalam musibah Lion Air JT 610 tersebut. Pesawat yang jatuh adalah jenis Boeing 737 Max. Pada 2006, Boeing mulai mempertimbangkan penggantian seri 737 dengan desain dari nol.

Rancang bangun yang diawali dengan “clean-sheet”, kertas yang bersih dengan paradigma baru. Sebuah pesawat terbang modern yang sama sekali baru dan dapat mengikuti jejak Boeing 787 Dreamliner.

Pada 1 Desember 2010, Airbus, meluncurkan keluarga Airbus A320 neo yang bersaing “head to head” dengan keluarga Boeing 737.

Hal ini menyebabkan pada Februari 2011, CEO Boeing, Jim McNerney menyatakan, “Kami telah mengambil keputusan bulat untuk membuat rancang bangun dan produksi pesawat modern, advanced technology dan sama sekali baru.”

Pada konferensi ISTAT Maret 2011, Presiden Boeing Commercial Airplane James Albaugh tidak yakin dengan kinerja mesin 737 generasi lama. Ia ingin pesawat pengganti 737 akan memanfaatkan teknologi baru system Propulsi.

Lahirlah LEAP atau “Leading Edge Aviation Propulsion” yang merupakan teknologi engine pendorong propulsi pesawat terbang, sebagai hibrida teknologi engine CFM dan program akuisisi teknologi LEAP56, yang diluncurkan oleh CFM pada 2005. Mesinnya secara resmi diluncurkan sebagai LEAP-X pada 13 Juli 2008.

Apa yang saya kemukakan secara singkat di atas untuk menggambarkan bahwa kelahiran Boeing 737-Max merupakan suatu inovasi Boeing untuk tetap menjadi “leader” dalam teknologi pesawat terbang di kelas 150 penumpang.

Karena itu jatuhnya pesawat Terbang Boeing 737 Max yang baru pertama kali terjadi ini, juga merupakan pukulan bagi Boeing.

Timbul pertanyaan, pesawat Boeing 737 Max milik Lion Air yang baru 800 jam terbang, dan dikemudikan oleh Captain Pilot dan Co Pilot yang secara akumulatif memiliki pengalaman tinggi dengan jam terbang 11.000 jam, apa sebabnya?

Secara teknologi, keunggulan dan keandalan Boeing 737 Max tidak dapat diragukan. Hal ini dapat dijejaki dari proses evolusi rancang bangun dan produksi pesawat terbang ini.

Teknologi pesawat Boeing 737 family sudah teruji sejak 1964. Awal 737-100 melakukan penerbangan pertama pada April 1967. Kemudian seri ini memasuki layanan penerbangan pada Februari 1968 di maskapai Lufthansa.

Selanjutnya, seri 737-200 beroperasi April 1968. Pada 1980 Boeing meluncurkan lagi varian 737-300, 737−400, dan 737−500. Varian ini disebut sebagai seri Boeing 737 Classic yang menampilkan mesin turbofan CFM56 dan rancang bangun sayap badan yang sangat dapat diandalkan.

Boeing 737 Next Generation (NG) diperkenalkan pada 1990-an. Seri 737 NG terdiri dari varian 737-600, 737−700, 737−800, dan 737−900. Versi Boeing Business Jet dari 737 NG juga diproduksi.

Kemudian rancang bangun keluarga 737 direvisi dan direkayasa ulang dengan metode Computational Aerodynamic terbaru dan pemanfaatan teknologi digital dalam Sistem Kendali Terbang, Sistem Avionika dan Autopilot yang terintegrasi dalam ruang kemudi.

Pada 2010 muncul seri 737 MAX yang menampilkan mesin CFM LEAP-1B dan peningkatan winglet. Beeing 737 MAX memasuki layanan pada 2017 dengan customer pertama Malindo dan Lion Air Group.

Lalu mengapa pesawat secanggih Boeing 737 Max mengalami kecelakaan?

Di running text salah satu tv pada jam 18.46 WIB, saya membaca tulisan yang menyatakan sebelum jatuh, tiga menit setelah tinggal landas dari Sukarno Hatta, pilot sempat berkomunikasi dengan ATC. Pilot menjelaskan bahwa ia mengalami problem flight control, dan meminta izin Return to Base.

Sebuah permintaan yang wajar jika dari ruang kemudi pilot mendeteksi adanya “abnormality” dalam tingkah laku pesawat yang dikemudikannya, sebab safety is number one priority.

Akan tetapi hampir lebih sepuluh menit berlalu, permintaan RTB ini tidak dieksekusi oleh Pilot. Yang terjadi kemudian setelah 13 menit, pesawat jatuh di teluk dekat Karawang 34 Nautical Mile dari Jakarta.

Saksi mata mengatakan pesawat terlihat jatuh dari ketinggian terbangnya ke laut. Secara teoritis memang jika ada pernyataan dari Pilot kepada ATC bahwa problem yang ia hadapi ketika sedang terbang di udara adalah Flight Control, maka ini termasuk problem serius.

Hal itu karena sistem kendali terbang merupakan mata rantai paling utama untuk membuat Pilot in Command dapat mengendalikan tingkah laku pesawat terbang. Jika ini terjadi masalah, berarti pilot merasakan “fenomena ketidaksenyawaan dirinya” dengan pesawat terbang. Ia seolah tidak lagi dapat membawa pesawat ke arah yang dikehendakinya.

Tetapi apakah sepotong informasi tersebut dapat membimbing kita pada realitas sesungguhnya? Pengalaman 20 tahun saya menyatakan itu tidak cukup untuk digunakan mengambil keseimpulan.

Perlu analisa lebih dalam melalui jejak suara yang diperoleh dari Voice Data Recorder dan Flight Data Recorder. Dua Black Box bewarna jingga yang kini sedang diburu dan dicari oleh Tim KNKT dan BASARNAS di lapangan.

Ketika saya menulis jam 19.30 WIB, sudah ada tujuh kantong jenazah yang tiba di RS Polri. Sudah banyak kapal yang dikerahkan termasuk 6 kapal perang TNI AL.

Namun, komponen pesawat terbang utama seperti fuselage atau badan pesawat sayap, ekor dan landaing gear belum ditemukan. Yang muncul hanya serpihan. Black Box pembuka misteri belum juga dapat di”rescue”.

Sehingga sebab musabab dan akar masalah mengapa pesawat jatuh tetap menjadi misteri hingga jam 20.00 tadi malam. Operasi pencarian SAR pun terus dilakukan.

Pesawat terbang jatuh memang merupakan tragedi. Berita sedih. Kita selalu bertanya Mengapa jatuh? Apa sebab utamanya? Cuacakah? Tidak berfungsinya komponen utama pesawat terbangkah? Ataukah ada sebab lain.

Dalam semua teka teki ini kunci jawabannya hanya ada pada black box. Dan penyelidikan kecelakaan transportasi sesuai dengan Undang Undang No 1/2009 Penerbangan, hanya dapat dilaksanakan oleh lembaga satu satunya yang memiliki otoritas dan kewenangan yakni Komite Nasional Kecelakaan Transportasi atau KNKT.

Karena itu dari pada berspekulasi tentang “the most probable secenario” mengapa kecelakaan terjadi, lebih baik kita tunggu KNKT. Dalam hal ini Silent is Golden.

*) Artikel ini dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (30/10/2018).

 

Sumber : Bisnis.com