OPINI: Caleg Cap Tiang Listrik

Ilustrasi tiang listrik - JIBI/Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
08 November 2018 08:25 WIB Sumbo Tinarbuko Aspirasi Share :

Pada tahun politik yang berujung perhelatan pemilu, selalu beredar dogma politik yang menyatakan, “Beriklan besar-besaran dengan biaya mahal mampu mendongkrak popularitas sang caleg.” Dalam perspektif budaya visual, pernyataan semacam itu sejatinya hanyalah mitos yang berlaku di dalam jagat komunikasi politik.

Sedangkan realitas sosial di lapangan mencatat: ketika popularitas dan elektabilitas caleg peserta kontestasi pemilu hanya ditakar lewat tebaran iklan politik di ruang publik, terhadap realitas sosial seperti itu ternyata gempuran iklan politik sang caleg yang ditebarkan di ruang publik tidak serta-merta menjadikan jaminan dirinya untuk dipilih oleh calon pemilih. Artinya, serbuan iklan politik bergambar wajah sang caleg berikut janji politik di bawahnya tidak secara otomatis mendongkraki elektabilitas dirinya.

Perlawanan Sosial           

Ketika iklan politik dengan sengaja disemburkan sang caleg di ruang publik demi mengejar popularitas dan elektabilitas dirinya. Pada titik itu masyarakat calon pemilih justru melakukan perlawanan sosial. Secara serempak mereka memberikan penilaian negatif terhadap keberadaan iklan politik yang hanya mengandalkan penampakan visual ilustrasi wajah sang caleg berikut janji politik yang diletakkan di bawah wajahnya.

Bagi masyarakat calon pemilih, komunikasi politik yang dijalankan sang caleg lewat iklan politik dianggap fatamorgana politik. Seolah membela dan melayani rakyat. Tetapi sejatinya justru terlihat tidak merakyat. Masyarakat calon pemilih pun menilai sang caleg tidak berikhtiar memahami permasalahan sosial, budaya dan ekonomi yang membelit keseharian hidup warga masyarakat.

Pada titik ini, masyarakat calon pemilih semakin yakin ternyata sang caleg memang belum memiliki rekam jejak digital terkait dengan tugas politik yang akan diembannya. Mereka seakan tidak mempunyai rasa kesadaran diri guna melaksanakan tugas negara sebagai wakil rakyat.  Sebuah tugas mulia dengan garis komando yang berkewajiban untuk memperjuangkan hak sipil warga masyarakat. Ironisnya, justru mereka terjebak dalam euforia politik dengan memosisikan diri bagaikan seorang peserta kontes penyanyi idol. 

Ketika sang caleg setia melanggengkan mitos elektabilitas dengan mengandalkan penampakan visual dirinya  lewat iklan politik pemilu 2019.  Atas fenomena mitos elektabilitas semacam itu, warga masyarakat pun dengan riang gembira mentahbiskan dirinya menjadi caleg instan cap tiang listrik. Mengapa demikian? Sebab caleg instan cap tiang listrik memiliki mesin uang penghasil fulus berlimpah. Dalam posisinya sebagai orang kaya, caleg instan cap tiang listrik royal menghamburkan uangnya untuk belanja alat peraga kampanye. Hal itu dilakukannya agar sah mendapatkan cap politik sebagai caleg instan cap tiang listrik. Selanjutnya, mereka dengan membabi-buta memanfaatkan tiang listrik sebagai tempat pesebaran iklan politik miliknya.

Ketika status sosial sebagai caleg instan cap tiang listrik  sudah mereka kantongi, caleg instan cap tiang listrik seolah merasa menjadi orang yang perkasa. Mereka menganggap penampakan visual dirinya adalah pribadi menawan dalam balutan iklan politik kampanye pemilu. Hebatnya lagi, mereka seakan sudah menjadi anggota legislatif yang secara sah berkantor di tiang listrik, tiang telepon, di perempatan jalan dan di batang pepohonan. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, mereka merasa seperti telah terpilih menjadi anggota Dewan yang terhormat dengan tugas politik mewakili rakyat. Hal itu direpresentasikannya lewat iklan politik yang terpampang pada media iklan luar ruang bernama: billboard, baliho, spanduk, rontek, poster, bendera dan umbul-umbul. Eloknya lagi, mereka menjadi sangat rajin menyebarkan mitos citra visual karena merasa dirinya sudah menguasai lembaran iklan koran, layar televisi, kotak radio, jaringan internet dan medsos.

Bencana Sosial              

Pada era disrupsi seperti sekarang ini, masyarakat secara terbuka tidak akan terpengaruh oleh janji politik caleg instan cap tiang listrik yang manis di mulut, tetapi pahit dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak mau bagian dari hidup dan kehidupannya diganggu oleh janji gombal yang disuarakan caleg instan cap tiang listrik bersama partai politik yang sedang mencari pekerjaan politik lewat jalan berburu kursi kekuasaan.      

Masyarakat semakin cerdas dalam menentukan siapa yang layak memimpin Indonesia. Masyarakat pun cenderung berhati-hati dalam menentukan wakil rakyat yang akan duduk di gedung DPR. Kehati-hatian semacam itu lebih didasari pada fakta sejarah. Karena selama ini, para pemimpin bangsa yang diberi kepercayaan rakyat untuk mengelola Republik tercinta  ini, ternyata tidak merakyat dan tidak amanah. Yang terjadi kemudian, para wakil rakyat  lebih banyak bekerja dengan mengatur siasat dan beradu strategi demi berebut kursi kekuasaan yang berujung pada harta kekayaan.       

Kemudian pertanyaannya, cukupkah caleg instan cap tiang listrik bermodalkan popularitas dan gelontoran fulus untuk belanja alat peraga kampanye untuk mendongkrak elektabilitas dirinya? Jawaban konkretnya, jelas tidak cukup! 

Sebab rumusnya, jika seseorang terjun ke jagat politik dan ingin dikenal publiknya, ia harus mau bekerja keras. Hasilnya diyakini akan mengangkat elektabilitas dan popularitas namanya. Tentu saja kerja keras yang dijalankannya itu bukan dalam hitungan bulan atau satu tahun sebelum pemilihan umum berlangsung. Mereka sudah harus bekerja keras sejak sekarang untuk pemilu 15-20 tahun mendatang.

Jujur harus diakui, pengalaman menjalankan proses komunikasi politik dengan calon pemilih menjadi syarat penting. Pengalaman lapangan yang sudah teruji ruang dan waktu harus menjadi modal sosial bagi sang caleg. Pengalaman bergaul dengan masyarakat akar rumput guna mengatasi masalah sosial, budaya dan ekonomi dalam bentuk karya nyata demi kemaslahatan masyarakat, menjadi nilai lebih bagi sang caleg.

Selain itu, kualitas diri dan reputasi baik sang caleg jauh lebih penting ketimbang sekadar obral janji politik dan gembar-gembor iklan politik mempromosikan dirinya bagaikan tong kosong berbunyi nyaring. Kenapa hal itu dinilai penting? Sebab kualitas diri dan reputasi baik sang caleg adalah jaminan mutu untuk dipilih menjadi wakil rakyat pelayan masyarakat.

Terpenting, kualitas diri dan reputasi terhormat sang caleg dapat dibuktikan lewat segepok karya nyata yang memberikan bermanfaatan dan kemaslahatan bagi warga masyarakat. Bukan malah sebaliknya: bukti visual yang mereka tunjukkan berupa tebaran sampah visual iklan politik. Bukti visual tersebut sengaja dibuat oleh caleg instan cap tiang listrik dengan modus operandi menebar alat peraga kampanye yang bersalin wajah menjadi sampah visual iklan politik. Pada titik ini, sampah visual iklan politik yang dibentangkan dan ditancapkan di seantero ruang publik secara serampangan akan berubah menjadi teroris visual. Kehadirannya pun menjadi bencana sosial di ruang publik.

*Penulis adalah pemerhati budaya visual dan dosen Komunikasi Visual FSR ISI Jogja.