OPINI: Prevalensi Meningkat, Pendidikan Mesti Evaluasi Diri

Ilustrasi siswa sekolah - JIBI
17 Juli 2019 05:02 WIB A.Budiyanto Aspirasi Share :

Dunia pendidikan kembali disentil. Kali ini oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F Moeloek. Beliau menyoroti perilaku anak-anak dan remaja Indonesia yang sudah mulai menjadi perokok aktif. Melihat kenyataan ini, Menkes menekankan adanya peraturan yang lebih ketat di sekolah terkait para guru yang masih suka merokok. Menkes meminta agar para guru juga tidak menjadi perokok.

Jika kita melihat data yang ada, memang terjadi peningkatan dalam prevalensi perokok pada anak-anak dan remaja. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, telah merilis data Potret Sehat Indonesia dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 pada tanggal 02 November 2018. Sesuai dengan hasil Riskesdas 2018, sejak tahun 2013 prevalensi merokok pada remaja (usia 10-18 tahun) terus meningkat, yaitu 7,2 % (Riskesdas 2013), 8,8 % (Sirkesnas 2016), dan 9,1 % (Riskesdas 2018) (Kemenkes, web).

Guru dan sekolah perlu mengambil peran lebih dalam mengurangi tingkat prevalensi perokok pada anak-anak dan remaja yang nota bene mereka masih menjadi anak sekolah. Seperti yang dikutip dari detikhealth.com, Menkes juga menekankan adanya evaluasi terhadap peraturan sekolah yang mungkin kurang ketat, terutama terhadap guru yang masih menjadi perokok aktif terutama saat di sekolah. Penulis sendiri belum mendapatkan data yang valid terkait jumlah guru yang menjadi perokok aktif dan dampaknya terhadap meningkatnya prevalensi perokok aktif pada anak-anak dan remaja usia sekolah.

Guru sebagai aktor utama memang perlu mengambil peran lebih dalam memberikan contoh kepada anak didiknya. Kalau istilah Jawa, guru adalah orang yang ‘digugu’ dan ‘ditiru’. Harapannya semua perilaku, perkataan dan pemikiran seorang guru menjadi tauladan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Akan tetapi, itu hanya pemikiran yang sangat ideal yang kadang antara idealisme dan fakta sering bersebrangan jauh.

Guru dalam arti yang luas adalah pembimbing anak manusia untuk mengembangkan kodrat manusianya (Tilaar, 2015:128). Kodrat manusia yang dimaksud merupakan karunia dari Sang Pencipta yang sudah melekat pada setiap diri manusia atau anak. Salah satu kodrat anak adalah sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, seorang anak juga hidup dalam lingkungannya sendiri, baik itu lingkungan sosial ataupun budayanya.

Tidak bisa dipungkiri juga, lingkungan juga ikut andil dalam proses pendidikan anak. Bahkan, proses pendidikan sebagai proses pembudayaan itu harus dipandang sebagai proses emansipasi dan humanisasi, sesuai dengan konteks tantangan sosio-historis masyarakat (Tim PGRI, 2014:33). Baik itu dalam proses dan hasilnya, pendidikan pastinya juga mengindahkan kodrat anak yang satu ini. Bahkan kita dalam memandang pendidikan juga harus memperhatikan aspek lingkungan.

Lingkungan Pendidikan
Lingkungan yang dimaksud tidak hanya lingkungan masyarakat, tetapi mulai dari lingkungan keluarga, meningkat menjadi lingkungan masyarakat sekitar, hingga meluas sampai pada lingkungan nasional atau global. Lingkungan atau kehidupan sosial akan selalu dan sudah pasti berpengaruh terhadap anak, terutama dalam proses perkembangannya. Pada tahap remaja, anak akan lebih banyak berinteraksi ke lingkungan yang lebih luas dan dengan individu yang lebih banyak.

Bahkan lingkungan keluarga akan menjadi lingkungan yang lebih utama dan pertama untuk proses perkembangan dan pendidikan pada anak. Segala perilaku, pemikiran dan pemikiran semua orang yang ada di dalam keluarga akan menjadi contoh bagi anak dalam tumbuh kembangnya, terutama pada remaja yang nota bene juga sedang mencari jati diri mereka yang sebenarnya. Ada istilah, keluarga adalah sekolah yang pertama dan utama, itu memang sangat tepat.

Jika kita kembali kepada problem prevalensi merokok anak-anak atau remaja yang menigkat, apakah hanya sekolah atau guru yang harus melakukan evaluasi dan instropeksi diri? Penulis, dengan segala haknya untuk berpendapat, merasa semua aspek yang bersinggungan dengan proses pendidikan dan perkembangan anak juga harus ikut bertanggung jawab dan tentunya harus melakukan evaluasi dan instropeksi diri, termasuk lingkungan anak, baik itu keluarga, masyarakat, maupun global.

Menurut Menkes Nila, meningkatnya prevalensi perokok pada anak-anak dan remaja salah satunya karena mudahnya iklan maupun sponsor rokok beredar di media sosial, mengingat media sosial digunakan oleh segala umur (Detikhealth, web). Kalau kita menengok lagi, tidak ada namanya iklan itu di sekolah, apalagi diperankan oleh guru. Iklan adanya di lingkungan sosial anak, baik itu sosial nyata maupun maya.

Sebagai seorang guru dan pendidik di sekolah, penulis kadang merasa miris, masih sering baper. Apalagi jika ada masalah nasional, kembali lagi, hanya guru yang harus evaluasi diri. Walaupun tidak bisa dipungkiri memang harus menjadi evaluasi bagi dunia pendidikan yang nota bene dunia pendidikan masih banyak kekurangan dan jauh dari idealnya suatu pendidikan. Akan tetapi pada intinya, mari kita melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang dan dari berbagai aspek yang ada. Termasuk problem meningkatnya prevalensi perokok pada anak dan remaja, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang dan aspek yang lain.


*Penulis merupakan pendidik di SDIT Salsabila Al Muthi’in/Ketua Divisi Inovasi Program Komunitas Wonosobo Mengajar