RIFKA ANNISA: Nyala Pendidikan bagi Perempuan Haruslah Terang

Ilustrasi. - Freepik
07 November 2020 05:02 WIB Tri KurniaRevul Andina, Sukarelawan Media Rifka Annisa Aspirasi Share :

“Sekolah dapat mengajarkan kepada perempuan untuk lebih menghargai dirinya sendiri serta untuk mengetahui dirinya bukanlah objek melainkan individu yang sama seperti laki-laki, memiliki hak untuk hidup” (Netherlands Indies Government 1914: Brijdrage van RA SoerioHadikoesoema).

Begitulah pandangan Raden Ayu Soerio Hadikoesoema, saudara perempuan Kartini, mengenai pendidikan bagi perempuan. Ia juga berpendapat pendidikan dapat menghapus masalah perkawinan anak dan poligami yang pada masa itu tak urung menjadi perdebatan di banyak kalangan. Pemikiran progresif di masa perjuangan ini hendaknya memantik generasi penerus untuk merefleksikan dinamika implementasi pendidikan bagi perempuan serta terus mengobarkan semangat pendidikan pada diri perempuan.

Diskusi mengenai pendidikan bagi perempuan di Indonesia telah berlangsung ratusan tahun lamanya dengan melewati berbagai macam tantangan dan peluang. Meskipun terdapat perbedaan konteks masa kolonial, pasca-kemerdekaan dan era modern seperti sekarang, tujuan utamanya tetaplah sama yakni memenuhi hak tiap perempuan akan pendidikan. Setelah kemerdekaan, situasi perempuan mulai sedikit membaik karena hak atas pendidikan bagi setiap warga negara dijamin oleh berbagai konstitusi, legislasi dan kebijakan di Indonesia (Surbakti dan Devasahayam, 2015: 38).

Pemerintah Indonesia juga telah berupaya mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan lewat berbagai kebijakan, termasuk melalui pelaksanaan Wajib Belajar 12 Tahun untuk mendukung Program Indonesia Pintar memeratakan layanan pendidikan berkualitas (Bappenas, 2017). Namun, apakah itu berarti perjuangan atas pendidikan bagi perempuan berhentisampai di situ? Jawabannya, tidak.

Data Susenas tahun 2018 menunjukkan, kemampuan membaca dan menulis perempuan masih lebih rendah dibandingkan laki-laki. Angka melek huruf untuk laki-laki usia 15 tahun ke atas mencapai 97,33% sedangkan untuk perempuan sebesar 93,99%. Gap antara perempuan dan laki-laki dalam hal angka melek huruf ternyata hanya terjadi di Indonesia (KemenPPPA dan BPS, 2019:6). Selain itu, belum semua pihak senada dalam menerapkan pengarusutamaan gender (PUG) pada penyelenggaraan pendidikan.

Padahal, pemerintah Indonesia telah mengatur hal tersebut dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.84/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Ditambah, dewasa ini seringkali muncul narasi-narasi yang justru berusaha mengunci potensi, membatasi ruang ekspresi, serta menyempitkan peran perempuan. Pendidikan, apalagi yang tergolong tinggi digambarkan tak lazim diterima oleh perempuan sebab misalnya, ada anggapan perempuan tidak cukup besar kontribusinya dalam perekonomian atau tidak cukup signifikan partisipasinya di ranah publik sehingga pendidikan bukan diperuntukkan bagi mereka. Anggapan yang misleading ini tentu bisa dipatahkan termasuk dengan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan Penting
Konselor Psikologi Rifka Annisa, Indiah Wahyu Andari, menerangkan pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas sebagai manusia. Perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki hak untuk mengembangkan diri agar bisa mengelola kehidupan yang berkualitas. Indiah juga menjelaskan dengan pendidikan yang baik, perempuan mempunyai peluang untuk bermobilitas sosial, mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik, serta bisa menjadi tim yang setara dengan laki-laki.

Dengan pendidikan, perempuan dapat mengenal dirinya secara lebih baik, memiliki kemampuan untuk mengindentifikasi keinginan dan haknya, dan menentukan pilihan-pilihan hidupnya dengan bijaksana. Pendidikan mampu mendorong perempuan untuk berpikir lebih kritis baik terhadap diri sendiri maupun lingkungannya, paham dan bersuara atas permasalahan yang dihadapi sesame perempuan sehingga tumbuh rasa saling mengasihi satu sama lain. Di samping memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mendalami apa yang telah tertulis secara formal pada sistem pendidikan di Indonesia, yang tidak kalah penting, perempuan dapat meningkatkan posisi tawarnya.

Lebih jauh lagi, pendidikan dapat memberikan manfaat bagi perempuan terkait usia perkawinan dan kesadaran akan informasi kesehatan (OECD dan Asian Development Bank, 2015:251). Bicara soal perkawinan, pendidikan dapat membantu perempuan untuk mempersiapkan diri secara lebih matang baik dari segi fisik, mental, sosial, maupun ekonomi sebab perempuan mencari tahu lebih dalam konsekuensi dari tiap keputusan yang ia ambil. Perempuan juga mampu tersadarakan hak kesehatannya termasuk kesehatan seksual dan reproduksi sehingga mampu merawat dan menghargai tubuhnya. Melalui pendidikan pula, perempuan bisa menguasai keahlian-keahlian yang berguna bagi kelangsungan hidupnya sehingga ia bisa lebih mandiri dan percaya diri.

Setara dan Merata
Perempuan, sama halnya dengan laki-laki, memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pendidikan. Dampak positifnya pun sama antara memberikan akses pendidikan kepada laki-laki maupun perempuan, keduanya pasti sama-sama berkontribusi. Tidak benar jika dikatakan sumbangsih laki-laki lebih menguntungkan atau sebaliknya, justru kolaborasi keduanya sangat diperlukan.

Perempuan dan laki-laki juga berhak mengambil keputusan sesuai dengan apa yang mereka ingini, bukan yang orang lain harapkan. Tidak jarang di masyarakat ditemui anggapan-anggapan terkait perang gender, misalnya, perempuan lebih cocok bersekolah di bidang-bidang tertentu saja. Menurut Indiah, anggapan tersebut membatasi kesempatan perempuan untuk mengembangkan diri sesuai minat dan bakatnya. Pilihan menjadi sempit dan kesempatan belajar menjadi terbatas. Perempuan dilihat tidak lagi berdasarkan kemampuan dan kecakapannya, tetapi berdasarkan konstruksi gender yang dilekatkan. Di samping itu, pendidikan harus bisa dinikmati oleh seluruh perempuan di penjuru negeri, terlebih pada masa pandemi Covid-19 di mana kerumitan aksesnya berlipat ganda.

Walaupun telah melampaui hitungan abad, pendidikan bagi perempuan selalu jadi topic hangat untuk diperbincangkan. Perbaikan di berbagai lini telah dilakukan, namun tampaknya perjalanan menuju pendidikan yang diimpikan perempuan masih cukup panjang. Yang terpenting, jangan sampai perjuangan atas pendidikan bagi perempuan yang telah dihidupkan sejak lama menjadi redup, apalagi padam. Semangatnya harus terus menyala terang, tak ubahnya pendidikan itu sendiri yang menerangi langkah perempuan segala zaman untuk maju.