Ramadan dan Puasa Medsos

Endro Dwi Hatmanto, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMY
16 April 2021 06:17 WIB Endro Dwi Hatmanto, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMY Hikmah Ramadan Share :

Setiap tahun kita melaksanakan ibadah pada bulan suci Ramadan, termasuk pada 2021 ini. Ibadah Ramadan secara umum menghajatkan setiap muslim untuk melakukan puasa, mengindari makan dan minum di siang hari dan hal-hal lain yang dilarang selama bulan puasa.

Selain itu kita juga dilarang untuk melakukan hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa seperti berkata-kata yang tidak pantas, membuat rumor serta melakukan ghibah atau membicarakan keburukan orang lain serta ‘dosa sosial’ yang lain.

Al Ghazali menyebut bahwa kemampuan untuk tidak sekedar puasa menahan haus dan lapar, namun mampu mempuasakan mata, telinga dan mulut untuk membuat dosa-dosa sosial, adalah pertanda tingkatan puasa yang paling berkualitas.

Di era Internet dan media sosial saat ini, kesempatan untuk melakukan dosa sosial seperti saling mencaci maki, saling menjelekkan, berghibah dan menyebarkan berita tidak benar serta memecah-belah masyarakat semakin besar.

Oleh karena itu, selain berpuasa dari menahan lapar dan haus seharusnya setiap muslim harus melakukan apa yang disebut dengan puasa media sosial (medsos). Puasa medsos dimaknai sebagai menahan diri untuk tidak menggunakan medsos sebagai alat untuk membuat dosa-dosa sosial seperti yang dicontohkan sebelumnya.

Ada beberapa keterampilan terkait dengan puasa medsos. Yang pertama adalah kemampuan untuk mengatasi bias konfirmasi (confirmation bias). Bias konfirmasi adalah induk semua kesalahpahaman. Bias tersebut adalah kecenderungan untuk menafsirkan informasi baru sehingga menjadi selaras dengan teori, kepercayaan, dan keyakinan yang sudah ada dalam diri orang yang bersangkutan.

Dengan kata lain, kita membuang semua informasi baru yang bertentangan dengan pandangan yang sudah kita miliki walaupun informasi itu benar dan pandangan kita salah.

Internet dan media sosial adalah lahan subur untuk bias konfirmasi. Untuk terus mendapatkan informasi, kita menelusuri media sosial, situs dan blog yang kita sukai. Halaman-halaman media sosial yang kita sukai mencerminkan nilai-nilai yang ada pada kita. Lebih lagi, banyak informasi yang kita lihat, baca dan dengar melalui Internet dan media sosial adalah informasi yang sesuai dengan gagasan dan nilai yang kita yakini, bahkan walaupun informasi itu salah.

Dalam konteks kehidupan kita bermasyarakat, bias konfirmasi ini akan mendorong perpecahan dalam masyarakat. Contohnya, tokoh atau politisi yang didukungnya akan selalu dia puja walaupun tokoh itu membuat kesalahan.

Dan tokoh yang tidak disukainya akan selalu dicerca walaupun mungkin ia benar. Yang kemudian terjadi adalah masyarakat yang tidak memiliki rasionalitas dalam berpikir dan konflik yang keras dan tiada henti di media sosial karena perbedaan pilihan tokoh dalam perhelatan politik.

Puasa Ramadan seharusnya dapat melatih kita untuk meningkatkan kearifan dan rasionalitas kita dalam menelaah informasi.

Keterampilan kedua yang perlu diasah dalam rangka puasa media sosial adalah kemampuan kita untuk tidak terjebak dalam apa yang disebut oleh para ahli dengan “pengakuan sosial”. Di Internet dan media sosial, apapun yang viral dan disukai oleh banyak orang cenderung kita anggap benar dan kita pun ikut menyetujui informasi viral  yang dianggap kebenaran. Inilah yang disebut dengan sindrom “pengakuan sosial”. Al Qur’an mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengklaim kebenaran hanya karena sebuah hal itu disukai oleh kebanyakan orang. “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di Bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Q.S al An’am 116). Semoga puasa Ramadan tahun 2021 ini dapat semakin melatih kita menjadi netizen yang lebih arif dan bijak sehingga semakin memantapkan ibadah kita di bulan suci ini.