Cerdas dan Bijak Berbelanja

Budi Hanoto - Harian Jogja/Desi Suryanto
22 Mei 2018 13:25 WIB Budi Hanoto Aspirasi Share :
Ad Tokopedia

Pada saat Ramadan, situasi selalu ditingkahi oleh lonjakan harga barang kebutuhan pokok, khususnya pangan. Padahal, Ramadan adalah bulan ketika umat muslim yang mayoritas di negeri ini saatnya menahan diri untuk berkonsumsi. Waktu makan hanya dua kali, ketika sahur dan buka. Harusnya konsumsi menurun. Tapi kondisi bertahun-tahun menggambarkan peningkatan konsumsi saat Ramadan dan Lebaran. Masyarakat pun selalu dikhawatirkan oleh perkembangan harga barang kebutuhan pokok yang naik melampaui bulan-bulan sebelumnya.

Kondisi anomali ini tidak terlalu salah, bila kita melihat aura Ramadan adalah bulan suci yang esensinya tidak hanya puasa, tetapi diisi dengan amal ibadah lain seperti bersedekah, menyantuni anak yatim, membagikan takjil dan makanan buka kepada kaum duafa, dan mempererat tali silaturahmi dengan bukber. Pendeknya, momentum Ramadan adalah area berderma dan berbagi. Tidak heran, kebutuhan konsumsi masyarakat secara serentak meningkat pada waktu dan tempat yang bersamaan.

Kembali ke penyakit laten lonjakan harga di bulan Ramadan, sebenarnya pemerintah dan tim pengendali inflasi daerah (TPID), termasuk satgas pangan, sudah melakukan sejumlah langkah untuk meredam kenaikan harga, dengan menjaga pasokan yang lebih dari cukup. Langkah tersebut ditempuh mulai dari operasi pasar oleh Bulog, penyelenggaraan pasar murah, memonitor kelancaran distribusi, sampai kalau perlu impor dari daerah (negara) lain yang surplus. Bahkan, pengawasan jalur distribusi dan pasokan oleh satgas pangan sangat ketat dalam pemberian sanksi bila didapati indikasi penyelewengan, pelanggaran, dan spekulasi terhadap stok dan pasokan yang dilakukan agen atau pedagang. Dengan kata lain, langkah-langkah pengendalian harga dikelola sekondusif mungkin.

Kalaupun ada indikasi tekanan harga naik, hal itu diperkirakan terjadi karena sejumlah faktor. Pertama, pedagang memanfaatkan momentum lonjakan permintaan dengan meningkatkan harga, padahal pasokan sudah cukup. Kedua, distributor dan agen juga memiliki herding behaviour, sebuah perilaku kolektif, merespon kenaikan permintaan dengan menetapkan harga dan margin melampaui kewajaran. Ketiga, hambatan transportasi dan faktor lainnya membuat ketepatan waktu pengiriman sering terhambat. Dan melonjaklah sang harga, walaupun pasokan cukup.

Satu bulan terakhir sebelum Ramadan (April), inflasi DIY sebetulnya relatif terjaga, dengan inflasi bulanan 0,10%, inflasi year to date dari Januari – April masih di level 0,76% dan inflasi tahunan 3,11%, lebih rendah dari nasional yang mencapai 3,41%. Beras yang menjadi bobot terbesar penentu inflasi sudah turun. Bulog pun mengklaim persediaan berasnya relatif baik, mencapai lima hingga enam bulan ke depan, karena beberapa daerah dalam situasi pascapanen.

Walupun kondisi DIY dari sisi pasokan relatif bagus, tekanan inflasi di masa Ramadan dan Idulfitri ini patut diwaspadai dengan saksama. Kalau dari sisi pasokan dan distribusi relatif sudah memadai, didukung oleh produksi dan hubungan tata niaga antar provinsi yang baik, sisi permintaan pun perlu lebih dikontrol. Mengendalikan permintaan dilakukan dengan menanamkan keyakinan kepada konsumen dan produsen bahwa pasokan dijamin cukup dan belanja hendaknya dilakukan secara cerdas dan bijak. Artinya berbelanja barang hanya yang benar-benar prioritas sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan.

Rasionalitas Konsumen

Mendorong konsumen berbelanja cerdas dan bijak diyakini dapat memengaruhi ekspektasi inflasi kedua pihak, dari sisi konsumen dan pedagang. Konsumen harus rasional, belanja yang terlalu berlebihan akan memberikan “peluang” bagi pedagang dan rangkaian kanal distribusinya untuk merespon peningkatan permintaan dengan menaikkan harga. Pedagang biasanya beralasan macam-macam, seperti tidak bisa kulak lagi, tidak terdapat stok yang cukup, atau memerlukan waktu mendatangkan barang.

Konsumen juga harus beperilaku kolektif dalam menerapkan belanja cerdas dan bijak. Artinya, gerakan belanja bijak ini harus serentak, kolektif, dan lintas wilayah, sehingga tidak ada kesempatan pedagang berspekulasi menaikkan harga. Konsumen harus pandai mencari referensi harga dan berani menawar dengan harga yang dijadikan referensi, seperti level harga eceran tertinggi (HET) atau harga di papan resmi atau papan Kios Segoro Amarto, dan publikasi lainnya. Langkah ini untuk memperkuat bargaining position konsumen.

Maka, bila rasionalitas konsumen terbangun, imbauan berbelanja bijak amat penting. Peran otoritas, media massa, dan pelaku usaha juga vital dalam mengendalikan ekspektasi inflasi. Kita tidak boleh menengok situasi harga ke belakang. Namun kita harus membuat kebiasaan bahwa harga di setiap Ramadan atau Lebaran tidak terlalu naik atau bahkan relatif stabil. Apabila hal ini berulang terus menerus, dengan perilaku belanja bijak yang terjaga, maka pengendalian inflasi melalui pengelolaan ekspektasi dan komunikasi akan lebih efektif. Untuk itu, setiap otoritas perlu memberikan program edukasi belanja bijak yang lebih terstruktur dan sistematis, bahkan tidak hanya pada momentum Ramadan dan Lebaran. Masyarakat harus terbiasa merasakan kondisi harga yang selalu terkendali di setiap event apa pun, termasuk Ramadan dan Lebaran.

 *Penulis adalah Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY.

 

Ad Tokopedia