Ramadan dan Manajemen Keuangan Keluarga

Masyarakat lebih banyak berbelanja saat Ramadan. - Antara/Sigid Kurniawan
23 Mei 2018 07:25 WIB Dyah Pikanthi Diwanti Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

“Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

(QS.Al Baqarah: 208)

Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan yang batil (QS Al Baqarah:185). Dengan adanya Alquran hadir dorongan iman yang menggerakkan manusia untuk beramal saleh dan semata-mata mencari rida Allah SWT. Ramadan senantiasa melatih manusia dalam berbenah menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbagai ruang dan waktu. Sering kita mendengar bagaimana upaya mengatur keuangan untuk diterapkan secara baik dan benar di saat Ramadan. Manajemen keuangan sangat dibutuhkan baik secara personal maupun keluarga. Pembelajaran terkait manajemen atau pengaturan keuangan juga sangat kita harapkan mampu diterapkan dalam kehidupan kita sebagai muslim berdasar ajaran agama atau merujuk pada Alquran dan hadis sebagai penuntun kehidupan. Dalam Ramadan bagi umat muslim akan menunaikan apa yang dinamakan puasa. Puasa bukan hanya kewajiban yang dilaksanakan umat Islam setiap tahun, tetapi suatu cara untuk mendidik dan melatih individu serta masyarakat untuk mengontrol dirinya terhadap hal-hal yang tidak diperbolehkan maupun hal kesenangan yang berlebihan. Sudah menjadi hal umum yang banyak ditemui dalam individu, atau dalam hal ini keluarga, bahwa selama Ramadan pengeluaran keuangan cenderung membengkak. Di samping harga yang cenderung naik, utamanya kebutuhan pokok, godaan belanja guna pemenuhan kebutuhan selama Ramadan dan persiapan Lebaran semakin menguat. Untuk itulah diperlukan penyiapan yang cerdas dalam pengaturan keuangan sebagai kontrol diri.

Dalam kehidupan muslim saat ini banyak ditemukan upaya serangan yang menjurus pada perusakan akidah baik yang berasal dari luar Islam ataupun dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Dari luar Islam fenomena gaya hidup yang boros-hedonis banyak ditemui di sekitar kita dan pada Ramadan masih banyak kita jumpai fenomena tersebut. Umumnya pengeluaran yang dianggarkan dalam satu bulan bisa tiga kali pengeluaran seperti yang dianggarkan saat Ramadan. Di sisi lain dari dalam Islam sendiri fenomena kemiskinan juga menjadi alasan orang untuk berbuat hal yang tidak dibenarkan agama seperti mencuri-merampas hak dan sebagainya yang. Dua kondisi yang berkebalikan. Dan untuk mencari solusi atas dua kondisi tersebut perlu menganalisis hal apa yang menjadikan upaya dalam menegakkan syariat Allah dan berdasar tuntunan Alquran dan hadis ini belum terlaksana dengan baik. Propaganda dari Barat yang dinamakan globalisasi memengaruhi pola hidup masyarakat kita. Adapun program yang dibawa globalisasi di antaranya 3 F yakni food, fashion, fun (makanan, pakaian, dan hiburan) sehingga memunculkan konsumerisme dan pola pikir materialisme. Ketiga hal ini tampak dirasakan dari awal sampai dipenghujung Ramadan. Persiapan menyambut Lebaran menjadi sesuatu yang terlihat berlebihan. Dari makanan masih berlebihan ketika berbuka puasa dan santap sahur. Dari hiburan kecenderungan bepergian di tempat yang terkesan mewah. Dan dari pakaian akan banyak berbondong-bondong mencari baju-baju baru yang terkesan berlebih. Menurut Jan Aart Scholtc yang dikutip Rais (2008, hal 13) globalisasi adalah modernisasi yang mengarah pada kapitalisme-rasionalisme dan industrialis. Kondisi inilah yang membutuhkan refleksi bersama bagaimana melindungi lingkup masyarakat terkecil bernama keluarga dari hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama terutama di saat bulan Ramadan.

Membentengi Keluarga

Untuk membentengi keluarga maupun individu supaya tidak terbawa arus globalisasi maka diperlukan penguatan pemahaman dan mentalitas yang baik. Menurut Husein Syahatah (Ekonomi Rumah Tangga Muslim: 1998) pengertian rumah tangga muslim adalah sekelompok individu yang terdiri dari orangtua dan anak yang tinggal atau hidup bersama dalam suasana Islami yang diikat oleh nilai yang mendasarkan berbagai perkara hidupnya pada syariat. Menurut Sulastiningsih (Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga: 2008) manajemen keuangan keluarga adalah aktivitas keluarga dalam memperoleh harta dan menyalurkan harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yakni dengan merencanakan pemasukan keluarga untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ada muatan unsur yang mendasar yakni jalinan kekeluargaan, penggunaan nilai Islam dalam mengelola keuangan berumah tangga serta menciptakan hidup sejahtera di dunia dan akherat.

Internalisasi nilai-nilai Islam secara menyeluruh harus tersedia dalam lingkungan keluarga sebagai sarana tarbiyah Islamiyah yang bertujuan supaya keluarga muslim komitmen terhadap adab-adab Islam sehingga mampu membentengi diri personal muslim dan keluarganya dari arus globalisasi yang tidak sehat. Berkaitan dengan pengelolaan keuangan keluarga di bulan Ramadan, dalam pengelolaan keuangan dibutuhkan qudwah atau keteladanan yang merupakan sekumpulan adab Islam yang harus dilaksanakan oleh orang tua. Bersikap kritis terhadap kondisi masyarakat sekitar seperti pemberian fidyah bagi yang berhalangan melaksanakan puasa, maka fidyah bisa diberikan kepada lingkungan terdekat yang membutuhkan. Dianjurkan pula menempatkan posisi sesuai dengan syariat seperti hak dan tanggung jawab yang tepat dan dituntunkan dalam QS An Nisa:32 antara laki-laki dan perempuan antara suami dan istri.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian daripada apa yang diusahakan dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Bagi suami ada kewajiban dalam mencari nafkah dan bagi istri menjadi pengelola nafkah yang diberi suami dalam rumah tangga. Menolong dalam hal kebaikan seperti apabila istri ikut membantu suami dalam mencari rezeki dan dengan keikhlasannya harta yang diperoleh tersebut dipergunakan untuk keperluan hidup bersama dalam rumah tangga.

Selain itu pentingnya rumah yang harus kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam- sebab kondisi secara realitas dimasyarakat terbentuk dari lingkungan terkecil yakni keluarga yang menjadi cerminan sehatnya kondisi fisik rumah. Rumah yang tidak sehat secara fisik akan memunculkan berbagai penyakit sosial seperti ruang yang tidak bersekat antara orang tua dan anak ataupun kebiasaan yang tidak sehat. Kondisi rumah yang tidak sehat akan berpengaruh pada konsep kebersihan dalam melaksanakan aktivitas ibadah.

Menciptakan keluarga muslim yang taat perlu dukungan masyarakat untuk itulah upaya ishlahul mujtama (pembinaan masyarakat) sangat diperlukan agar nilai-nilai Islam dapat terealisasi baik dalam keluarga terlebih lagi masyarakat seperti dalam QS An Nahl:125. Dalam suasana Ramadan diperlukan pola pembiasaan yang mendukung seperti salat tarawih berjemaah di masjid, tadarus bersama, buka puasa bersama komunitas sosial dan lainnya.

Manajemen Keuangan

Dalam menerapkan prinsip manajemen keuangan keluarga maka ada tiga hal pokok yang dikaji lebih mendalam yakni terkait perolehan harta (pendapatan keluarga). Idealnya dalam keluarga muslim haruslah memperoleh harta dengan halal dan prinsip keikhlasan.

Menurut Nasrun Harun dalam bukunya Fiqh Muamalah, harta berasal dari kata al mal artinya segala sesuatu yang menyenangkan manusia dan mereka pelihara baik dalam bentuk materi maupun bentuk manfaat. Berkaitan dengan konsep kerja dalam Islam, menurut Mochtar Effendi dalam Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam, untuk mendapatkan harta maka manusia wajib berusaha atau bekerja dengan menggunakan tenaga, ilmu, dan keterampilan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Secara eksplisit Ahmad Hazali dalam Menuju Masyarakat Industri yang Islami menjelaskan motivasi dalam bekerja sesuai dengan perintah Allah SWT.

Pendapatan dapat diartikan sebagi aliran kas masuk yang diterima dalam jangka waktu tertentu yang dapat dibagi dari perolehan aktivitasnya yakni melalui kas masuk gaji dan kas masuk investasi. Gaji diperoleh dari status kita sebagai pegawai bisa dari suami bisa juga dari istri. Adapun hasil investasi diperoleh dari deposito, saham, dan lain sebagainya, yang biasa disimpan dalam bentuk tunai ataupun melalui bank.

Pembelanjaan harta dalam keluarga muslim haruslah dengan prinsip kebaikan dalam manfaat material maupun spiritual. Apabila kebutuhan yang banyak tidak bisa diatur, manajemen keluarga menjadi tidak teratur dengan baik. Adapun secara umum pengeluaran seperti membayar keperluan anak, zakat/pajak, sosial dan lainnya.

Ketiga, pengembangan harta merupakan kegiatan pengeluaran harta yang bertujuan untuk mendapatkan pendapatan dapat melalui investasi atau menabung. Penanaman nilai-nilai Islam dalam realisasinya harus diterapkan pada lingkungan terdekat. Selain itu banyaknya persoalan di masyarakat terkait masalah sosial di lingkungan yang dari tahun ke tahun bukannya terselesaikan, melainkan semakin meningkat menjadi masalah tersendiri yang diharapkan terdapat solusi kongkret.

Dalam momen Ramadan kepedulian dari sesama muslim sangat dianjurkan. Seperti masalah pengangguran-anak jalanan, anak terlantar. Fenomena tersebut memiliki makna yang mendalam sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berlangsung sebagai bagian dari momentum spirit Al Maun. Dalam surat Al Maun tersebutlah nilai-nilai sosial yang memuat ilmu amaliah amal ilmiah. Ajaran ilmu dari Al Quran yang diamalkan dan suatu amalan yang berdasar dari Alquran. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa momen Ramadan ini sangat berkaitan dengan hak dan kewajiban sesama manusia terhadap manusia lainya. Sebut saja bagaimana zakat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan infak, sedekah, wakaf dan lainnya merupakan satu bentuk tuntunan yang diajarkan untuk diamalkan bukan hanya ibadah yang bersifat vertikal, tetapi juga terdapat dimensi sosial yang menguatkan. Inilah bagian dari pengeluaran anggaran yang bersifat insidental sebagai upaya kepedulian di bulan Ramadan.

Untuk itu diperlukan pos anggaran yang sesuai agar pengeluaran selama Ramadanyakni dengan membagi anggaran pengeluaran menjadi tiga amplop pertama amplop untuk kas kebutuhan pokok, kedua amplop untuk kas kebutuhan mendadak dan ketiga amplop untuk tabungan.

*Penulis adalah dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Departemen Ekonomi Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah.

Ad Tokopedia