Mengembangkan Sikap Istikamah Melalui Puasa Ramadan

Endro Dwi Hatmanto - Ist.
24 Mei 2018 07:25 WIB Endro Dwi Hatmanto Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Salah satu manfaat dari puasa Ramadan adalah menumbuhkan sikap istikamah. Menurut terminologinya, istikamah adalah ikhtiar untuk menempuh jalan yang lurus, yakni agama yang lurus yang tidak bengkok kanan dan tidak bengkok ke kiri. Jalan yang lurus dan tidak bengkok mencakup semua bentuk ketaatan baik lahir dan batin serta meninggalkan semua larangan Allah.

Ibnu Qayyim berkata bahwa istikamah adalah meneguhkan jalan kebenaran, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka.” (Fushshilat/41: 30).

Menurut Ibnu Rajab, ayat ini mendidik kita bahwa pangkal dari keistikamahan adalah hati yang teguh memegang tauhid. Menurut Abu Bakar, ketika hati berpegang teguh kepada tauhid, Allah beserta nilai-nilai kebaikan akan menjadi motivasi kita untuk mengagungkan-Nya, berharap, berdoa dan bertawakal kepada-Nya serta berpaling dari selain-Nya. Dalam bulan Ramadan, selama satu bulan kita dilatih untuk fokus kepada Allah, menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Di bulan suci ini kita digembleng untuk banyak berzikir, mengaji dan mengkaji kitab suci, berdoa, salat malam dan berbuat kebaikan terhadap sesama. Penggemblengan selama sebulan tentunya diharapkan mampu membentuk karakter yang istikamah kita di luar bulan Ramadan.

Menurut Mahmud Al Mishri, hati sesungguhnya memiliki posisi penting dalam membangun sikap istikamah. Menurutnya, hati ibarat raja bagi semua anggota tubuh, sedangkan semua anggota tubuh adalah pasukan bagi sang hati. Jika raja istikamah, seluruh pasukan anggota tubuhnya ikut istikamah. Sesungguhnya, selain ibadah fisik, puasa juga merupakan ibadah hati. Dalam menjalankan puasa, sikap sabar dan ikhlas kita dilatih. Dengan demikian puasa berfungsi sebagai mekanisme taskiatun nufur atau penyucian hati dan jiwa. Menurut Rasulullah, ketika hati kita baik maka seluruh anggota tubuh kita akan menjadi baik. Itulah sebabnya, Nabi mengatakan bahwa banyak orang yang puasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa yang sempurna adalah puasa yang memuasakan seluruh pancaindra kita dari perbuatan maksiat, juga memuasakan hati dan pikiran dari anasir-anasir keburukan dan kemaksiatan.

Ada beberapa cara untuk beristikamah menurut Mahmud Al Mishri. Cara pertama adalah dengan berpegang kepada Allah, artinya menjadikan petunjuk Allah sebagai panduan kehidupannya. “Barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101).

Nasihat ini sungguh penting terutama ketika saat ini kita hidup di tengah pasar bebas nilai-nilai yang acapkali bertentangan dengan petunjuk Allah seperti hedonisme, sekulerisme, dan liberalisme. Semua nilai ini ingin menjauhkan manusia dari ajaran-ajaran ketuhanan. Puasa sesungguhnya melatih kita selama sebulan untuk berkhidmat diri menguatkan tekad untuk mengaji dan mengkaji nilai-nilai ilahiah melalui rangkaian ibadah dalam bulan Ramadan. Puasa yang berhasil adalah puasa yang menjadikan kita semakin kuat memegang teguh ajaran-ajaran Allah dalam seluruh sendi kehidupan.

Cara kedua untuk beristikamah adalah dengan bersegera taat kepada Allah. “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu.” (Ali Imran: 133).

Imbauan ini penting karena kita cenderung memiliki sifat menunda-nunda untuk berbuat baik. Puasa adalah momentum kita dimotivasi untuk menggunakan energi maksimal kita dalam beribadah dan berbuat kebaikan. Puasa melatih kita untuk bersegera dalam melakukan amal kebajikan.

Cara yang ketiga untuk beristikamah adalah dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. Ramadan adalah bulan ketika kitab suci Alquran diturunkan. Alangkah indahnya kita menggalakkan kegiatan untuk mengaji dan mengkaji isi kitab suci. Namun itu saja tidak cukup. Menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup berarti menjadikan Alquran sebagai tiga hal: moral knowledge, moral feeling, dan moral action. Dengan mengaji dan mengkaji kitab suci kita memiliki moral knowledge. Dengan mempraktikkan apa yang kita kaji kita mewujudkan isi Alquran ke dalam moral feeling dan moral knowledge, yakni ikhtiar untuk menerapkan nilai-nilai kehidupan dalam seluruh sendi kehidupan kita baik dalam sendi sosial, politik, hukum dan ekonomi. Ketika seluruh kehidupan kita dipandu oleh kitab suci, insyaallah kehidupan masyarakat dan bangsa ini akan menjadi lebih baik.

*Penulis adalah dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMY.

Ad Tokopedia