HIKMAH RAMADAN: Ramadan dan Industri Budaya Muslim Populer

Firly Annisa - Ist.
30 Mei 2018 07:25 WIB Firly Annisa Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Ramadan bulan mulia, pada saat inilah seluruh umat muslim berbondong-bondong untuk berbuat kebaikan, beribadah semaksimal mungkin dan berusaha mendekatkan diri terus menerus kepada sang Khalik. Waktu puasa dari sebelum fajar terbit hingga Matahari tenggelam, umat muslim diperintahkan untuk menahan diri dari rasa lapar dan haus, juga dari rasa amarah, benci, atau emosi yang berlebihan. Berbarengan dengan itu Ramadan dari tahun ke tahun ternyata juga masih menghasilkan perilaku yang paradoks. Konsumsi akan makanan yang secara logika akan berkurang, justru meningkat dalam bulan ini. Pemandangan lazim terlihat di berbagai sudut kota, segala panganan dijajakan saat menjelang berbuka puasa. Pasar menjadi lebih riuh dengan geliat ekonomi karena permintaan barang dan jasa yang meningkat setiap hari. Puncaknya adalah ketika bulan penuh berkah ini akan berakhir. Segala komoditas akan laris manis terjual. Tidak lagi panganan manis dan bahan pokok, permintaan akan barang rumah tangga dan bahan bakar minyak juga ikut meningkat karena tradisi mudik yang “harus” dilakukan dalam puncak silaturahmi umat muslim Indonesia.

Tidak dapat dihindari fenomena penjualan pakaian dan atribut berlabel “Islami” juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Rilis terbaru yang disampaikan Chief Operating Officer situs belanja online terkemuka di Indonesia menyatakan penjualan terlaris di bulan Ramadan secara berurutan adalah barang rumah tangga, busana muslim, dan makanan serta minuman. Dengan kata kunci terpopuler “baju koko” berbagai pakaian berlabel muslim atau Islam sangat laris terjual. Tentu saja tidak hanya baju koko, jilbab, pakaian panjang yang lazim disebut gamis, mukena, sarung hingga sajadah juga laris manis diburu pembeli.

Fenomena dalam bulan Ramadan ini dapat dibaca sebagai puncak perayaan konsumerisme atas nama agama. Konsumsi yang meningkat tajam atas nama perayaan tahunan ini menjadi “bahan bakar” untuk menggerakkan konsumsi dan industri. Dengan kesadaran penuh dan tanpa malu-malu konsumsi ini dilakukan umat muslim. Industri ini semakin mudah dikonsumsi karena kehadiran media sosial dan situs-situs belanja online. Hadirnya media sosial mendorong berbagai iklan yang secara tersamar maupun terang-benderang ke ruang-ruang paling privat umat muslim.

Fenomena selebgram (selebritis Instagram) muslim misalkan menjadi ruang promosi yang membayangi kelas menegah muslim muda di Indonesia. Tren pakaian muslim terbaru, gaya berhijab hingga promo makanan halal menghiasi dunia maya dengan berbagai tawaran gaya hidup Islami. Konsekuensi lain dari lahirnya selebritis Instagram ini adalah terciptanya publik Islam dalam ruang dunia maya.

Dalam industri budaya muslim populer dan hadirnya sosial media, selebritis adalah pihak yang paling diuntungkan dalam situasi ini. Inilah yang disebutkan oleh Riana Lewis Profesor London College of Fashion, dalam ruang media baru, blogger dan selebgram muslim tidak lagi hanya sebagai style mediator namun juga spiritual advisor.

Dengan memiliki jutaan pengikut dalam sosial media Instagram, selebgram ini dapat menarik perhatian umat Islam. Mereka tidak lagi hanya sebagai sumber rujukan dalam berpakaian sesuai gaya hidup masa kini, populer dengan hastag #hotd (hijab of the day). Namun mereka juga menjadi pihak yang dapat memberikan saran atas praktik beragama umat muslim. Melalui media sosial dan ketenaran mereka di dunia maya, tindakan-tindakan spiritual mereka akan sulit dibedakan dengan tindakan konsumerisme. Karena saran-saran ibadah sudah bercampur menjadi satu dengan tawaran pertukaran nominal barang dan jasa. Di sinilah kecakapan umat Muslim untuk berpikir kritis sangatlah diperlukan. Padahal Industri budaya muslim populer nyatanya telah dapat membungkus agama menjadi bagian dari gaya hidup populer. Pakaian “muslim”, tren busana “syar’i” tidak lepas dari konstruksi sosial, budaya dan politik masyarakat muslim sebuah wilayah negara dan berbagai interaksi yang ada di dalamnya.

Hal inilah yang membuat konstruksi identitas agama menjadi sangat mudah dibentuk dan dikemas untuk diperjualbelikan kepada umat Islam. Lebih lanjut kesadaran akan keislaman yang bersumber pada tindakan-tindakan Islami mengacu pada subtansi beragama harus terus menerus dipupuk dan diamalkan. Substansi penting dari agama seperti berperilaku jujur, toleransi, disiplin, cinta kebersihan dan bekerja keras misalnya, menjadi hal yang lebih penting didengungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga identitas agama yang bersumber pada simbolis dan material semata seharusnya dapat dihindari. Dalam bulan mulia ini, hendaknya umat Muslim dapat menahan diri tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga, menahan emosi amarah dan kebencian semata, tetapi lebih dari itu. Esensi menjadi umat muslim berakhlak mulia dengan tidak terjebak dalam identitas simbolis yang terdapat dalam budaya konsumtif juga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

*Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi UMY, mahasiswa Doktoral Keele Univ UK, & pengurus PCIM UK.

Ad Tokopedia