HIKMAH RAMADAN: Ramadan, Bentuk Kasih Sayang Allah

Rhafidilla Vebrynda - Ist.
09 Juni 2018 07:25 WIB Rhafidilla Vebrynda Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Dalam Alquran, terdapat lebih dari 100 kata yang menyatakan bahwa Allah Maha Penyayang. Bahkan setiap kita hendak melakukan sesuatu yang hendaknya kita mengucap al basmalah, juga menunjukkan sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Hal lain yang juga jelas menunjukkan sifat Allah ini ada dalam surat pembuka Alquran, Al Fatihah ayat 2 yang artinya Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, begitupun dalam urutan asmaul husna yang biasa kita kenal, kata Ar Rahman dan Ar Rahim diletakkan sebagai awal kita mengenal sifat-sifat Allah SWT. Begitu banyak dan jelasnya sifat kasih sayang Allah kepada kita begitu pun juga bisa kita lihat dalam satu bulan khusus yang sengaja Allah ciptakan sebagai bentuk kasih sayang kepada kita, yakni bulan Ramadan. Sering kita dengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan milik Allah, di bulan tersebut benar-benar kita beribadah puasa yang hanya kita dan Allah yang mengetahuinya. Ibadah-ibadah lain biasanya terlihat bentuk dan wujudnya, namun puasa, hanya Allah yang mengetahui kesungguhan dan kebenaran puasa kita. Bisa jadi ada yang mengaku puasa dengan wajah pucat dan lemas, tetapi ternyata tidak berpuasa dan atau sebaliknya, yang berbadan segar dan semangat hingga sore hari, tapi puasanya tetap pada titik paling tinggi nilai ibadahnya.

Pembaca, sebagai manusia, kita adalah makhluk yang tak pernah luput dari khilaf dan dosa. Sementara Allah SWT banyak sekali memberikan kesempatan-kesempatan kita untuk selalu bertobat, selama napas kita masih berembus dan selama Matahari belum terbit dari barat.

Sekali lagi ketika berbicara tentang sifat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, betapa kita dimanjakan di bulan Ramadan ini dengan kasih-Nya. Pahala berkali lipat dari biasanya, terbukanya pintu tobat dan kewajiban-kewajiban lain di bulan Ramadan yang bisa menggugurkan dosa-dosa kita selama sebelas bulan lainnya. Bentuk kasih sayang Allah di bulan Ramadhan salah satunya adalah adanya malam yang nilai kemulianya lebih baik dari seribu bulan. Dengan jelas Allah telah menyebutkannya dalam surat AL-Qadr ayat 1 – 5 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan [Alquran] pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu [penuh] kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Pada keutamaan-keutaman Ramadan yang telah disebutkan, alangkah menyesalnya kita jika melewatkan kesempatan bertobat yang telah diberikan Allah SWT. Allah SWT yang menciptakan kita, maka Allah SWT pulalah yang benar-benar paham akan kebutuhan dan segala sifat kita. Jika kita menoleh ke bulan-bulan sebelum Ramadan, ibadah yang kita jalankan mungkin hanya sebagai bentuk pengguguran kewajiban. Bahkan membaca Alquran, salat malam, salat-salat lain dan puasa sering kita nomorduakan. Sedekah, berbuat baik dengan orang di sekitar, menjadi pendakwah yang menyerukan kebaikan, hanya akan menjadi nomor sekian yang kita lakukan di bulan-bulan selain Ramadan. Namun dengan datangnya Ramadan ini, kita sebagai umat muslim kembali diingatkan, kembali diberi kesempatan Allah untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan ibadah sunah untuk kita lakukan dengan sebaik mungkin.

Istimewa

Adapun ibadah-ibadah biasa yang menjadi istimewa saat Ramadan adalah salat malam, yang di hari biasa mungkin tidak semua dari kita menjalankan. Kemudian sedakah, tentu saja sering kita lihat pembagian takjil dan makan saat Ramadan tiba, apalagi jelang hari raya Idulfitri akan banyak sekali orang-orang yang membagikan sedekah baik berupa uang maupun barang. Lalu membaca dan pengajian-pengajian Alquran, yang mungkin biasanya hanya rutinan beberapa bulan sekali kita lakukan, tetapi di bulan Ramadan ini menjadi sering sekali kita lakukan. Hal yang paling terasa mengenai hikmah Ramadan adalah saat hari raya Idulfitri, terjadi tepat 1 Sawal yaitu setelah Ramadan. Keluarga berkumpul bersuka cita, mungkin di hari-hari biasa kita tidak dapat berkumpul lengkap dengan keluarga kita.

Sungguh, dengan diciptakannnya Ramadan ini, Allah SWT benar-benar menyayangi kita yang mungkin masih sangat jauh dengan-Nya, masih menomorduakan amalan-amalan sunah dan masih terlalu sering mementingkan urusan dunia. Dengan Ramadan, kita diingatkan kembali bagaimana seharusnya kita sebagai manusia di dunia, menjalankan tugasnya sebagai khalifah yang orientasinya adalah ibadah kepada Allah. Dengan datangnya bulan Ramadan hendaknya kita bisa memanfaatkannya sebaik-baiknya. Dengan Ramadhan kita berharap banyak peningkatan keimanan dan penghapusan dosa-dosa kita. Alangkah senangnya jika kita memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk penuh beribadah mencari rida-Nya dan dengan berlalunya Ramadhan tidak hanya menjadikan kita rutin melakukan ibadah secara kuantitas, tetapi juga meningkatkan kualitas keimanan kita kepada Allah SWT. Amin.

*Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ad Tokopedia