HIKMAH RAMADAN: Ramadan dan Kesungguhan terhadap Alquran

Adang Muhammad - Ist.
12 Juni 2018 07:25 WIB Adan Muhammad Hikmah Ramadan Share :
Ad Tokopedia

Allah SWT memberikan perumpaan yang tidak main-main terhadap kehebatan Alquran. “Kalau sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” ( Al Haysr 21). Oleh karenanya jika ada kalbu yang tidak terpengaruh oleh bacaan Alquran, kalbu yang tidak menjadi tunduk dan khusyuk, Ibnul Qoyyim berkata, “Sungguh mengherankan ternyata segumpal daging ini lebih keras dari batu-batu gunung.” Jadi tidak heran ketika kalbu yang lalai dan menjadi mengeras melebihi batu, Allah berikan ancaman akan dibakar dengan api neraka untuk melelehkannya.

Lalu bagaimana agar bacaan Alquran yang kita lakukan berkualitas hingga menundukkan dan mengkhusyukan kalbu?

Di dalam surat Al Baqarah 121, Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya [haqqa tilâwatih], mereka itulah yang beriman kepadanya. Barang siapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Ibnu Mas’ud RA memaknai haqqa tilâwatih adalah tunduk patuh terhadap segala apa yang dihalalkan dan diharamkan olehnya, dan membacanya sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah serta tidak menyimpangkannya, dan tidak menakwilkannya secara tidak patut. Sementara Ibnu Abbas RA memaknai haqqa tilâwatih yaitu mengiringinya dengan sebenar-benarnya iringan, tentunya mengiringinya dengan kesungguhan kajian dan amal.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumid Din, mengatakan haqqa tilâwatih adalah dengan melibatkan lisan, akal, dan hati. Tugas lisan adalah membaca dengan tartil. “Warottilil qur’âna tartiyla.” (QS Al Muzammil ayat 4). Tartil bermakna perlahan-lahan, berirama serta memperhatikan makhroj maupun tajwid.

Tugas akal adalah memahami kandungan dan maknanya. Akal menjadikan bacaan Alquran dimengerti.

Tugas hati adalah mengambil pelajaran dan nasihat untuk kemudian dipatuhi dan ditaati. Hati harus menyadari dan merasakan dengan siapa sesungguhnya dia sedang berdialog. Memahami isi kandungan Alquran dan menghayatinya juga diutamakan, seperti dalam firman-Nya. “Kitab [Alquran] yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran (QS Shaad: 29).

Salah satu aktivitas rutin sunnah Rasulullah di Ramadan adalah membaca dan mempelajari kandungan Alquran.

Kualitas membaca Alquran (haqqa tilâwatih) akan berdampak pada luaran atau dampak dari aktivitas membaca Alquran, sebagaimana diisyaratkan di dalam surat Fathir 32. “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada [pula] yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Ada tiga kelompok luaran yaitu yang menganiaya diri sendiri (zhoolimun linafsihi), pertengahan (muqtashid), dan bersegera dalam kebaikan (saabiqun bilkhoirooti biidznillaah). Mudah-mudahan Ramadan ini membawa interaksi kita terhadap Alquran menjadi kelompok ketiga. Wallohu a’lam.

*Penulis adalah dosen FKIK UMY.

Ad Tokopedia